Ke Gereja

Ibrani 10:25  

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. 

​Pernahkah kita bertanya mengapa kita harus ke gereja?

Berikut ini ada 3 cerita yg bagus untuk kita renungkan saat kita mulai malas bergereja

Cerita 1

Seorang anak Tuhan menulis surat kepada Editor sebuah  surat kabar dan mengeluhkan kepada pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke gereja setiap minggunya.

Tulisnya, “Saya sudah pergi ke gereja selama 30 tahun dan selama itu saya telah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya telah memboroskan begitu banyak waktu demikian pun para pastor itu telah memboroskan waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu.”

Surat itu menimbul polemik hebat dalam kolom pembaca. Perdebatan itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya ada seorang yang menulis demikian:

“Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri saya telah memasak 32.000 jenis masakan. Selama hidup saya tidak bisa mengingat satupun jenis masakan yg dilakukan istri saya. Tapi saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi saya kekuatan yg saya perlukan utk bekerja. Seandainya istri saya tidak memberikan makanan itu kpd  saya, maka saya sudah lama meninggal.”

Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah.

Cerita 2
Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka. 

Kali ini, Tom mulai menggoda neneknya dengan berkata: 

“Nek, apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?”

“Tentu!”

“Apa yg nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami ttg Injil minggu lalu..?” 

“Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa  nenek menyukainya.”

“Lalu apa khotbah dari pastor?”

“Nenek tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah. Nenek hanya ingat bhw ia telah memberi kan khotbah yg memberi kekuatan, Nenek menyukai khotbah itu.”

Tom menggoda, “Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu dariNya?”

Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di sana termenung.

Dan anak2 lain tampak menjadi malu. 

Kemudian nenek berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka duduk, dan berkata, “Anak-anak, ayo ikut nenek ke dapur.”

Ketika tiba di dapur, dia mengambill tas rajutan dan memberikannya kepada  Tom sambil berkata,
“Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa kemari!”

“Nenek, apa nenek tidak sedang melucu. Air didalam tas rajutan….! Nek, apa ini bukan lelucon?” tanya Tom.

“Tidak.., lakukanlah seperti kuperintah kan. Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu.”

Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dgn tas bertetes-teteskan air.
“Lihat,nek,” katanya. “Tidak ada air didalamnya.”

“Benar,” katanya. 

“Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang. Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja tanpa men dapatkan sesuatu yg baik, meskipun kamu tidak mengetahuinya.”

Cerita 3
KISAH NATAL
Ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai takhayul belaka.  Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain.

Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sunguh-sungguh tidak percaya.

“Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih,” kata pria itu kepada istrinya yg rajin kegereja. 

“Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yg tidak masuk akal bagi saya ”

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak menemani mereka.

“Saya tidak mau menjadi munafik,” jawabnya. “Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang.”

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran salju berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar.  

Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. 

Bunyi itu berulang 3 kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. 

Namun akhirnya ia pergi ke pintu untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yg dingin.

Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

“Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini,” pikir pria itu. “Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka?” 

Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberi kan tempat ber lindung yang hangat.

Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. 

Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam.

Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. 

Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. 

Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing meng giring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.

“Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan,” kata pria itu pada dirinya sendiri,  “dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberi tahu kan bahwa mereka dapat mempercayai saya.”

“Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman.”

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi.
Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lutut nya dan berkata,

“Sekarang saya mengerti,” bisiknya dengan terisak.

“Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia.”

——————-

Kalau sering kita mengalami kejenuhan untuk pergi ke gereja dan merasa tak ada gunanya, kiranya ke-3 cerita di atas ini bisa lebih meneguhkan iman kita untuk lebih giat bergereja.

Tuhan Yesus menyertai.

AGP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s