Upacara Pemakaman

I. Dasar

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal (mati)………………

Pengkhotbah 3:1-2

Definisi:

Kematian adalah berhentinya suatu kehidupan.

Dalam bahasa Yunani, kata Thanatos yang diterjemahkan “kematian” berarti “perpisahan” (baik secara wajar atau kekerasan) antara jiwa dengan raga, yang berakibat berakhirnya kehidupan di dunia.

Kebenaran yang mendukung Definisi diatas:

Yakobus menulis: “tubuh tanpa roh adalah mati” (Yakobus 2:26).

Rasul Petrus melukiskan dengan kata-kata: “Aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku” (II Petrus 1:14-15). Maksudnya ialah, rohnya akan meninggalkan tubuhnya, karena tubuh itu telah menunaikan tugasnya.

Pengertian tentang kematian terdapat juga dalam kisah orang kaya yang bodoh (Lukas 12:16-20).

Setelah sukses dengan hasil panen yang besar yang disimpan di dalam lumbung-lumbung yang dibuatnya, maka berkatalah ia kepada jiwanya: “Jiwaku ada padamu banyak barang tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!  Tetapi Allah berkata kepadanya: “Hei engkau orang bodoh pada malam ini juga jiwamu diambil dari padamu.”

Jiwa yang diambil dari tubuh berarti berakhirlah suatu kehidupan di bumi ini.

Kematian mengakhiri segala kegiatan jasmani.

Orang yang mati dan matinya dalam Tuhan sudah pasti memperoleh jaminan keselamatan yang kekal.

“Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” (Wahyu 14:13)

Namun demikian orang-orang yang ditinggalkan dia tetap merasakan kesepian, kekecewaan, kesedihan, dukacita karena menghadapi ketidakhadiran orang yang dikasihinya.

Oleh karena itu perlu suatu rangkaian upcara pemakaman sebagai pengakuan atas kehidupan orang yang meninggal bahkan terlebih penting lagi penghiburan bagi orang-orang yang berduka cita.

Melalui rangkaian kebaktian dukacita itu, Gembala jemaat dapat menyampaikan kata-kata penghiburan, kata-kata yang meyakinkan kepada mereka yang bersedih, juga memberi pujian mengenai orang yang meninggal.

Betapa indah dan mulia pekerjaan seorang pendeta karena dimana semua ilmu pengetahuan bungkam dan tidak seorang ahli dapat menyembuhkan hati yang luka, tampillah pendeta sebagai hamba Tuhan untuk menyampaikan kesembuhan, penghiburan, kekuatan dan pengharapan kepada keluarga yang berkabung.

II. Pelaksanaan Upacara Pemakaman

  1. Doa jenasah masuk peti

Sesudah jenasah “dimandikan” (dibersihkan) oleh seorang yang sudah biasa menjalankan tugas itu, maka jenasah itu diletakkan dalam peti yang sudah disediakan.

Keluarga dari yang meninggal berkumpul disekitar peti itu dan pendeta menaikkan doa singkat untuk keluarga yang meninggal itu.

Inilah perhatian pendeta yang pertama.

2. Kebaktian tutup peti

Sebaiknya diadakan tidak lebih dari 24 jam setelah orang tersebut meninggal dan pendeta sebaiknya memberitahukan pada tua-tua sidang atau pembela sidang dan jika perlu jemaat diundang untuk menghadiri kebaktian tutup peti tersebut pada waktu yang sudah ditetapkan, juga keluarga yang meninggal diharapkan hadir semua.

Liturgi: (Contoh)

  1. Pujian
  2. Pembacaan alkitab: Lukas 8:53; I Tesalonika 4:13-18
  3. Kata-kata penghiburan
  4. Doa
  5. Melihat jenasah untuk terakhirnya; biasanya diikuti mencurahkan minyak wangi yang telah disediakan lalu diikuti oleh seluruh hadirin yang mau/bersedia mencurahkan minyak (tidak boleh dipaksa)
  6. Puji-pujian
  7. Berkat.

3. Kebaktian Penghiburan

Dengan persetujuan keluarga dapat ditetapkan kapan dan berapa ibadah penghiburan (di rumah, rumah sakit atau gereja) akan diadakan. Berita ini diteruskan kepada semua anggota.

Liturgi: (Contoh)

  1. Puji-pujian
  2. Doa
  3. Puji-Pujian
  4. Mengenang almarhum/ah (kesaksian oleh keluarga/yang mewakili)
  5. Khotbah
  6. Puji-pujian
  7. Doa
  8. Penutup

4. Kebaktian Pemberangkatan

Liturgi: (Contoh)

  1. Doa
  2. Puji-Pujian
  3. Kata-kata hiburan: Yohanes 11:25; 14:14
  4. Khotbah
  5. Mengenang almarhum
  6. Puji-pujian
  7. Doa
  8. Pemberangkatan jenasah

Catatan:

Ibadah/kebaktian pemberangkatan biasanya berlangsung hanya setengah jam saja, kalau ada kata-kata sambutan dari pihak keluarga atau pihak lain, aturlah paling lama satu jam saja.

 

5. Kebaktian Pemakaman

Perhatikan sekarang hal-hal yang penting dalam ibadah pemakaman di kuburan:

  1. Setelah peti mati diletakan di atas balok kuburan, pendeta memberi votum:
    “Damai dan sejahtera Tuhan Yesus Kristus turun di atas saudara-saudara sekalian, amin!”
  2. Pendeta minta semua hadirin menundukkan kepala di hadapan Tuhan untuk berdoa dengan tenang
  3. Lagu penghiburan dinyanyikan bersama, kalau ada paduan suara boleh juga menyanyi.
  4. Firman Tuhan disampaikan, arti kematian dan kebangkitan dikemukakan dengan singkat (Yoh.11:25-26, 1Kor.15:50-57, 1Tes.4:13-18 atau Wah.14:13 dapat dibaca dengan tenang), tidak perlu komentar panjang lebar.
    Tanamkan saja Firman Tuhan ini dalam mereka sekalian. Ajak semua hadirin untuk bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang hidup ini supaya mereka beroleh selamat.
  5. Selesai Firman Tuhan, tutup dengan doa dan memberi berkat rasuli kepada mereka sekalian.
    Amin
  6. Pendeta minta petugas kuburan menurunkan peti jenasah ke dalam liang kubur. Saat teduh
  7. Kemudian Pendeta membaa ayat Pengkotbah 12:7
    “dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.”. Lalu Pendeta mengambil sedikit tanah dalam tangannya dan menghamburkannya keatas peti jenasah itu.
  8. Pendeta berkata: “Kini kesempatan diberikan kepada keluarga dan kepada hadirin sekalian untuk memberikan penghormatan terakhir dengan menghamburkan bunga keatas peti jenasah kekasih kami/Ibu/Saudara…..
    Penghamburan bunga ini dilakukan dengan tenang dan teratur sampai selesai kemudian kesempatan untuk mengambil foto keluarga diberikan.
  9. Pada akhir ibadah ini, wakil keluarga dapat menyampaikan ucapan terima kasih kepada hadirin yang telah menyatakan bela sungkawa dan bantuan moril maupun materiil.
  10. Pendeta mengatakan: “Ibadah pemakaman selesai” dan meminta petugas kuburan untuk menutup kuburan itu dengan tanah.

Pendeta sebaiknya menunggu sampai kubur itu sudah ditimbun rapi baru berpamit dengan keluarga yang berkabung itu.

Biasanya akan diadakan kebaktian penghiburan di rumah keluarga tersebut, dan ditetapkan bersama dengan keluarga yang berkabung.

Disaat duka dan pencobaan yang berat, pelayanan seorang pendeta itu sangat berharga sekali.

Inilah pelayanan kasih (Pelayanan Yesus sendiri) yang tidak dapat dinilai dengan emas dan perak.

Jadi secara singkat liturgi pemakaman di pekuburan sebagai berikut:

  1. Votum
  2. Doa
  3. Puji-pujian
  4. Khotbah
  5. Berkat
  6. Peti jenasah diturunkan ke liang kubur
  7. Pendeta membaca ayat Pengkotbah 12:7
  8. Penaburan bunga
  9. Sambutan, ucapan terima kasih oleh wakil keluarga
  10. Selesai

III. Sikap Pendeta Terhadap Upacara Perkabungan

  1. Siapapun yang mengundangnya, pendeta harus datang dalam nama Tuhan Yesus.
  2. Menganggap bahwa acara ini kesempatan penginjilan yang baik, sebab kematian tidak dapat disangkal karena merupakan kenyataan dalam kehidupan.
  3. Jika keluarga yang berduka meminta acara perkabungan dipimpin oleh gereja, maka pendeta harus tegas bahwa tidak boleh dicampuradukkan dengan upacara keyakinan lainnya.
  4. Pendeta harus datang tepat waktu, berpakaian rapi, sebaiknya mengenakan baju putih lengan panjang dengan dasi warna biru atau sejenisnya (tidak boleh warna merah).
  5. Hal-hal yang sekecil-kecilnya berkenaan dengan upacara ini haruslah disusun dengan salah seorang keluarga yang bersangkutan. Sedapat mungkin turuti keinginan mereka, sejauh tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.
  6. Siapkan buku/lembaran nyanyian dan jika ada nyanyian-nyanyian atas permintaan keluarga yang berduka sebaiknya dituruti keinginannya.
  7. Kebaktian pemakaman waktunya diatur secukupnya, jangan terlalu panjang.

IV. Ayat-ayat Rujukan Dalam Alkitab Yang Dapat Dipergunakan Antara Lain

  1. Penggunaan untuk umum antara lain:
    Maz.126, Yoh.5:19-29, Yoh.14:1-6, Rom.8:4-19,1Kor15:10-58; Wah.7:9-17, Wah.22:1-7, 2Kor.4:13, 5, 10, Ayub.19:25-27, Yes.40:11, Mat.5:4, Yoh.11:25-26, Rom.8:38-39.
  2. Penggunaan untuk anak-anak, antara lain:
    2Sam.12:18-23, Mat.18:1-5, 18:10-14, Luk.9:36-40, Mark.10:13-16
  3. Penggunaan untuk lelaki muda, antara lain:
    Luk.7:11-17, Yoh.11:16-46
  4. Penggunaan untuk wanita muda, antara lain:
    Mat.9:18, 19:23-26, Mar.5:22-24, 35-42
  5. Penggunaan untuk orang tua, antara lain:
    Ayub.5:17-26, Maz.39:5-14, Maz.90:1-10, Pen.12:1-7, 2Tim4:6-8
  6. Penggunaan untuk orang Kristen yang setia, antara lain:
    Maz.1, Maz.103:1-5, Ams.31:10-12, 20:25-31, Ibr.11:1-10, Yoh.14:1-3, Rom.8:37-39

V. Hal-Hal Lain Yang Penting

  1. Pengurusan surat-surat pemakaman

Begitu mendapat berita bahwa ada seorang anggota meninggal dunia, maka pendeta dengan isterinya atau seorang pengerja harus datang ke rumah keluarga itu atau ke kamar mayat rumah sakit dimana saudara itu telah meinggal dunia.
Kepada pemerintah setempat (Lurah) harus dilaporkan dengan membawa KTP yang bersangktan untuk mendapat “Keterangan mati” yang biasanya diberikan oleh dokter yang bertugas.
Dengan kedua keterangan ini segera menghubungi Dinas Pemakaman untuk mengurus tanah penguburan, maka urusan surat pemakaman itu sudah selsesai.
Kalau anggota yang meninggal itu anggota dari suatu “Perkumpulan Kematian”, maka adalah kewajiban perkumpulan kematian itu mengurus peti dan surat pemakaman. Hal ini seringkali juga diurus sendiri oleh keluarga yang meninggal, tetapi bila yang meninggal itu tak ada yang mengurusnya, maka adalah kewajiban pendeta untuk mengurus surat pemakaman dan peti untuk anggota yang meninggal itu. Tentu saja dalam hal ini bukan pendeta sendiri, tetapi salah seorang pembela sidang atau pengerjanya yang melaksanakan semua urusan itu. Kalau itu seorang miskin, maka pendeta yang berusaha untuk mendapatkan semua biaya penguburan.

2. Pemakaman Untuk anggota Militer.

Untuk upacara pemakaman bagi anggota militer, pendeta berkonsultasi dengan bagian protokoler untuk pelaksanaannya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s