Pengakuan yang Menguatkan (NTS86)

Bagian 1

Salam jumpa kembali di Sekolah Alkitab Mini.

Program ini adalah program studi tentang keseluruhan Alkitab, dimana kita membahas kitab demi kitab.

Program studi ini telah mengantarkan kita mulai dari kitab kejadian sampai Kitab Yohanes yang pertama. 

Dalam sesi-sesi sebelumnya kita telah belajar bahwa kitab 1 Yohanes adalah sebuah Kompas kepastian berisi 8 poin.

Salah 1 bagian dari persoalannya adalah apa yang Yohanes sebut dengan menguji roh untuk mengetahui apakah memang itu dari Allah atau bukan.

Itulah persoalan yang Yohanes bahas dalam pasal 4 suratnya ini.

Ia menulis: 

“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah.” (1Yoh 4:1-3a)

Dalam ayat-ayat pembuka pasal 4, Yohanes menjelaskan bagaimana caranya menguji Roh.

Yohanes menasehatkan agar kita menguji Roh.

Tidak semua orang rohani itu adalah roh kudus.

Di dalam dunia roh, ada roh yang baik dan ada roh yang jahat.

Kita dinasehatkan oleh Rasul Yohanes untuk menguji roh, untuk mengenal perbedaannya.

Pengakuan adalah ujian doktrin yang dengannya kita harus menguji setiap Roh.

Yohanes menulis setiap Roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah.

Bagaimana Roh bisa mengaku sesuatu?

Maksud Yohanes adalah bahwa setiap pria maupun wanita yang dalam Roh maupun dalam manusia mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, mereka berasal dari Allah.

Dalam suratnya yang kedua kepada Jemaat di Korintus, Paulus menjelaskan bahwa orang dunia yang tidak rohani berhak melihat Injil dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Itulah yang Yohanes maksudkan ketika ia berbicara tentang roh yang mengucapkan pengakuan dalam rupa manusia.

Untuk memahami konsep ini, kita perlu kembali ke Injil Yohanes.

Masih ingatkah anda bahwa dalam Yohanes 17 Yesus memanjatkan doa sebagai Imam Besar Agung bagi para rasul dan jemaatNya. 

Ketika ia mendoakan para rasulnya, Yesus berdoa agar para rasulnya hidup sedemikian rupa sehingga dunia percaya bahwa Allah telah mengutus anakNya yang tunggal ke dunia dan bahwa Allah demikian mengasihi dunia sebagaimana Ia mengasihi anakNya sendiri.

Bagaimana mungkin mereka bisa hidup sedemikian rupa sehingga dunia mengetahui hal itu?

Dalam tulisan-tulisannya, Yohanes terus menekankan bahwa ketika para rasul saling mengasihi, mereka menunjukkan kepada dunia bahwa Allah mengasihi mereka dan bahwa Allah sedemikian mengasihi mereka sehingga Ia mengutus anakNya ke dalam dunia demi keselamatan mereka.

Dan hal itu benar-benar terjadi pada Jemaat generasi pertama.

Lihatlah betapa mereka saling mengasihi.

Itulah perkataan yang berulang kali terdengar di abad-abad sejarah awal Jemaat.

Entah beberapa sering kita mendengar hal itu sekarang ini.

Ketika orang memandang kita mengamati perilaku kita di gereja, saya bertanya-tanya apakah mereka mengatakan: “Lihatlah betapa mereka saling mengasihi” atau sebaliknya.

—————————

Seharusnya itulah yang mereka katakan tentang kita, sebab begitulah caranya kita memberitahu seluruh dunia bahwa: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” 

Kita menyampaikan kebenaran ayat ini ketika kita saling mengasihi seperti Yesus Kristus mengasihi para rasulNya.

Setelah menjelaskan bahwa roh kita harus mengakui Yesus Kristus, Yohanes menjelaskan bahwa roh Kristus yang mengasihi di dalam diri kita sebagai manusia adalah poin lainnya pada kompas kepastian kita.

Dalam 1 Yohanes 4, Yohanes juga memberikan pasal tentang kasih dalam Alkitab.

Ia menjelaskan pertama-tama dalam ayat 7 bahwa kita harus saling mengasihi karena kasih itu berasal dari Allah.

Kasih yang sejati kasih Agape adalah kasih Allah.

Allah itulah sumber kasih sejati.

Jadi Yohanes mau mengatakan bahwa kita saling mengasihi sebab setiap orang yang mengasihi lahir dari Allah dan mengenal Allah, barangsiapa tidak mengasihi dia tidak mengenal Allah sebab Allah adalah kasih.

Alasan ketiga mengapa kita harus saling mengasihi terdapat dalam 1 Yohanes 4:8. 

Kita harus mengasihi karena Allah adalah kasih.

Kasih adalah esensi dari apa Allah itu.

Kalau anda mengatakan bahwa anda lahir dari Allah atau bahwa anda ada di dalam Kristus, buktinya haruslah kasih.

Dalam Firman Allah bukti kerohanian adalah selalu Kasih.

Alkitab mengajarkan hal itu secara konsisten.

Sekarang ini kita ingin menggantikan Kasih dengan karunia rohani sebagai bukti bahwa anda rohani, pada hal Alkitab tidak mengatakan demikian.

Bukti bahwa anda rohani adalah kasih.

Buah atau bukti Roh Kudus adalah kasih.

Allah adalah kasih, dan kalau anda mengklaim bahwa anda lahir dari Allah hal itu anda buktikan dengan mendemonstrasikan roh kudus yang ada di dalam diri anda. 

Dalam ayat 10-11 menjelaskan bahwa kita harus mengasihi karena kita sudah mempunyai teladan kasih.

Ia mengatakan: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” 1Yoh 4:10-11

Demikianlah anda menunjukkan bahwa anda telah memberitakan Injil Kristus ketika anda memahami, mengasihi dengan kasih Agape. 

Dalam ayat 16, Yohanes memberikan ayat yang memiliki makna yang dalam.

“Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 

Dengan kata lain Yohanes mau mengatakan: “Kalau engkau ingin bersekutu dengan Allah, tinggal di dalam kasih. Sebab ketika engkau tinggal di dalam kasih engkau tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal di dalammu.”

Apakah anda ingin mengenal Allah lebih dalam lagi? Bagaimana caranya? 

Ada begitu banyak orang di sekeliling kita yang diliputi dengan luka hati dan kepedihan.

Mereka belum mengenal kasih Allah.

Cobalah anda memposisikan diri di antara Allah yang adalah kasih itu dengan sesama anda yang sedang memahami penderitaan. 

Biarlah Allah menyatakan kasihnya kepada mereka melalui anda. 

———————

Ketika pertama kali saya berdoa agar Allah memakai saya untuk menyatakan kasihNya kepada orang-orang yang sedang menderita dan Allah melakukannya, maka untuk pertama kali dalam hidup saya, saya begitu mengenal Allah dalam pengertian bahwa saya menyentuh Dia dan Dia menyentuh saya. 

Ada suatu puisi yang berbunyi seperti ini: “Aku mencari jiwaku, namun aku tidak dapat melihatnya. Aku mencari Allah namun Allahku tidak tergapai. Aku berjumpa dengan sesama dan aku menemukan ketiga-tiganya.” 

Ketika kita membayangkan Allah biasanya kita membayangkan Dia jauh di atas langit sana.

Cobalah membayangkan Allah berada disekeliling anda, sebagai  Allah yang mengasihi, yang lain mengasihi orang yang diliputi kepedihan di sekeliling anda, melalui anda kasihanilah orang yang kehidupannya bersentuhan anda. Orang yang sedang menderita, orang yang perlu dikasih dengan kasih Allah.

Cobalah melakukannya.

Saya percaya bahwa anda akan menemukan sesuatu yang sangat mengagumkan.

Ketika saya menemukan hal itu saya menemukan dimana Allah berada di sana.

Saya menemukan tempat dimana saya ingin berada seumur hidup saya.

Jadi kalau anda tinggal di dalam kasih yang adalah Allah ini, anda tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal didalam anda.

Ketika hal itu terjadi, percayalah anda akan menemukan satu poin lagi pada kompas kepastian anda.

Yohanes mengatakan dalam 1 Yohanes 4:17 bahwa kita harus mengasihi satu sama lain karena dengan demikian kita akan memiliki keberanian pada hari penghakiman kelak.

Entah bagaimana pandangan anda tentang penghakiman.

Namun saya sendiri rasanya tidak akan terlalu berani ketika harus berdiri di hadapan Tahta penghakiman kelak. 

Tetapi Kristus memberikan pemikiran yang menarik.

Di sini Ia mengatakan bahwa: “Kalau kita mengasihi dengan sempurna, kita bisa menghadap penghakiman dengan berani, sebab tujuan hukum adalah kasih.” 

Kalau anda mengasihi sesama, anda tidak akan melanggar perintah apapun menyangkut sesama anda.

Kasih itulah yang memenuhi hukum tersebut.

Jadi kalau anda mengasihi dengan sempurna, anda bisa memiliki keberanian pada hari penghakiman kelak.

Dalam ayat 17, Yohanes menyatakan bahwa kita harus mengasihi karena sama seperti dia kita juga ada di dalam dunia ini. 

Di dunia ini kita yang percaya adalah esensi dari Kristus.

Kalau Kristus ada di dalam kita, dan kasih Agape ini mengekspresikan dirinya melalui kita, maka sama seperti dia kita juga ada di dalam dunia ini.

Itulah sebabnya maka Rasul Paulus menjelaskan bahwa kita adalah satu-satunya Allah yang akan dibaca oleh sebagian orang dan kita adalah satu-satunya Injil yang akan mereka lihat atau didengar.

Kita menulis Injil, 1 Pasal setiap harinya lewat hal-hal yang kita lakukan dan hal-hal yang kita ucapkan.

Orang membaca apa yang kita tulis, entah benar atau entah tidak.

Jadi Alkitab seperti apakah anda ketika orang membaca kehidupan anda? 

Apakah orang melihat Injil Yesus dalam diri anda? Apakah keluarga anda melihat kasihNya mengalir  melalui anda?

Bagian 2

Dalam sesi terakhir kita membahas alasan mengapa  Rasul Yohanes mengatakan bahwa kita harus saling mengasihi.

Yohanes jelaskan dalam 1 Yohanes 4:14 bahwa kita harus saling mengasihi, sebab kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.

Ketakutan adalah salah satu masalah besar yang kita hadapi sekarang ini.

Ada yang namanya ketakutan emosional.

Seandainya anda berada di dalam hutan dan seekor harimau mau menerkam anda sehingga anda takut, itu normal dan bahkan sehat.

Seandainya anda tidak takut berarti anda yang tidak beres pada diri anda.

Akan tetapi ketika tidak ada Harimau yang mau menerkam anda, ketika sama sekali tidak ada dasar untuk merasa takut, namun anda terus-menerus merasa takut, itulah yang disebut ketakutan emosional.

Sama seperti halnya sebagian orang selalu depresi.

Ada sebagian orang yang selalu merasa takut tanpa ada dasar yang jelas.

Beginilah resep Yohanes untuk mengatasi ketakutan itu.

Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.

Apa maksudnya?

Sama seperti halnya Yohanes menjelaskan bahwa kalau kita mengasihi secara sempurna, kita bisa memiliki keberanian menghadapi hari penghakiman. 

Maka kalau kita mengasihi secara sempurna, kita juga akan melenyapkan ketakutan.

Kalau anda memahami akan kasih dan terutama kedua perintah yang Yohanes tekankan ini yaitu kasihilah Allah dan Kasihilah sesamamu, maka anda akan memahami bagaimana kasih yang sempurna sanggup melenyapkan ketakutan. 

Ingatlah siapa kasih itu.

Yohanes telah menjelaskan, Allah adalah kasih.

Dialah satu-satunya kasih yang sempurna, kalau kita mempunyai Allah tidak ada yang perlu kita takuti.

Kalau anda takut itu berarti anda tidak mengenal Allah dan tidak mengasihi Allah.

Lalu dalam ayat 20, Yohanes menjelaskan bahwa kita harus saling mengasihi karena kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia itu tidak terpisahkan.

Anda tidak mungkin mengatakan: “Aku mengasihi Allah namun tidak mengasihi saudara anda.” sebab dengan demikian anda berdusta. 

Keduanya membentuk salib.

Kasih yang vertikal kepada Allah dan kasih yang horizontal kepada sesama.

Lalu alasan lainnya mengapa kita harus mengasihi satu sama lain dinyatakan dalam bentuk perintah dan perintah itu kita terima dari Dia: barangsiapa mengasihi Allah ia harus juga mengasihi saudaranya.

Kita hidup di alam demokrasi.

Kita tidak terbiasa diperintahkan atau menerima ketetapan.

Karena ini masyarakat bebas, kita tidak merasakan dampak kata perintah.

Seandainya kita hidup di alam monarki, maka kita akan lebih memahami kata perintah.

Dalam kebudayaan kita sekarang, kita semakin kehilangan dampak kata-kata seperti itu.

Padahal Yesus mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan penguasa. 

Ketika Ia memberikan perintah, perintahNya itu tidak bisa ditawar lagi, tidak bisa dibahas atau diperdebatkan lagi.

Perintah-perintah Yesus harus ditaati. 

——————–

Yohanes menjelaskan bahwa alasan mengapa kita harus saling mengasihi adalah karena Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi.

Kalau anda membaca pasal 5, anda akan melihat bahwa Yohanes menjelaskan lebih banyak cara bagaimana kita bisa mengetahui bahwa kita memang diselamatkan.

Misalnya Yohanes menjelaskan bahwa iman adalah kunci bagi kepastian kita.

Dia menulis, inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, iman kita.

Kita mengalahkan dunia dengan iman kita.

Kalau anda memiliki iman yang mengalahkan dunia ini, anda mempunyai satu lagi point pada kompas kepastian anda.

Kalau anda mempunyai karunia iman, ia akan selalu mengalahkan dunia di luar diri anda, bagaimanapun keadaannya dan apapun hambatannya.

Lalu masih dalam pasal 5, Yohanes menjelaskan bahwa ada tiga kesaksian yang memberi kita kepastian. 

Ada kesaksian roh, kesaksian air dan kesaktian darah.

Tampaknya Yohanes mau mengatakan bahwa Allah telah memberi kita kesaksian roh dan buah Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Akan tetapi ketika Yohanes berbicara tentang air, mungkin yang ia maksudkan adalah pembaptisan dengan air.

Esensi dari baptisan terlepas dari cara yang anda yakini adalah bahwa anda tidak mungkin menjadi murid rahasia Yesus Kristus.

Pembaptisan menjadikan itu tidak mungkin.

Kalau anda memiliki cukup Iman untuk mengibarkan bendera yang mengatakan Aku adalah pengikut Kristus, terutama dalam lingkungan yang tidak bersahabat dan mengatakan kalau anda mau menembak semua murid Yesus Kristus, tembaklah aku, maka pembaptisan anda jelas merupakan satu lagi point pada kompas kepastian anda.

Dalam pasal 5 Yohanes mengakhiri suratnya dengan mengatakan: 

“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.” (1Yoh 5:11)

Mungkin Yohanes mengacu pada injilnya.

Sekarang kita melanjutkan ke surat Yohanes yang kedua dan ketiga.

2 kitab paling singkat dalam perjanjian baru.

Ada urutan antara Injil Yohanes, suratnya yang pertama dan suratnya yang kedua dan ketiga.

Dalam Injil Yohanes, ia memperkenalkan kita kepada Yesus Kristus. 

Ingatlah pertanyaannya adalah siapa Yesus itu, apa iman itu, apa kehidupan itu?

Itulah misi utama Yohanes saat menulis injilnya.

Yohanes ingin memperkenalkan kita kepada Yesus Kristus.

Dalam 1 Yohanes persoalannya adalah kepastian. 

Bagaimana anda tahu bahwa anda sungguh beriman kepada Kristus dan mempunyai kehidupan yang Kristus berikan? 

Dalam 2 dan 3 Yohanes, penekanannya adalah pada kebenaran yang Kristus ajarkan.

Yohanes menekankan kebenaran yang diajarkan dan keteguhan komitmen anda terhadap kebenaran tersebut.

Yohanes 11 kali menyinggung kebenaran dalam dua surat singkatnya yang hanya berisikan 13 dan 14 ayat ini .

Seperti yang telah kita lihat dalam tulisan-tulisan Paulus yang lebih penting adalah mampu mengatakan: “Aku tahu siapa yang kupercayai” daripada mengatakan: “Aku tahu apa yang ku yakini.” 

Sekarang ini kita dibombardir dengan penekanan yang berlebihan terhadap apa yang kita ketahui atas apa yang kita yakini.

—————————

Kebudayaan mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kebajikan.

Saya percaya itu telah menyelusup ke dalam jemaat, ketika kita menciptakan sistem sistem teologi yang sangat rumit, dahsyat dan ajaib buatannya yang menekankan pentingnya kita mengetahui apa yang kita yakini dan menolak siapapun yang tidak sependapat dengan setiap doktrin yang kita yakini.

Kalau mereka tidak memberikan titik pada huruf “i” dan tidak memberikan garis horizontal pada huruf “t”, tolaklah mereka.

Jangan bersekutu dengan mereka.

Padahal bukan itu yang diajarkan Alkitab.

Ajaran dalam tulisan-tulisan Yohanes adalah siapa Yesus itu. 

Apa artinya percaya kepada Yesus? 

Kehidupan seperti apa yang anda miliki karena pengenalan akan Yesus Kristus? 

Dalam 2 Yohanes dan 3 Yohanes ini, Rasul Yohanes mau menekankan tentang pentingnya pengetahuan apa yang anda yakini.

Terutama tentang hal-hal yang Yesus ajarkan.

Yohanes sangat keras terhadap orang-orang yang tidak mengajarkan apa yang Yesus ajarkan.

Pemutarbalikan ajaran Yesus sudah ada sejak awal sejarah Jemaat, karena dalam surat-surat Yohanes ini kita membaca, kalau orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Kristus Janganlah mengajak mereka makan siang, janganlah memberi salam, janganlah berhubungan dengan mereka.

Yohanes sangat keras terhadap hal ini.

Yohanes menunjukkan suratnya yang kedua ini kepada ibu yang terpilih.

Kalau anda mengartikan secara harafiah, inilah satu-satunya kitab dalam keseluruhan Alkitab yang ditujukan kepada wanita.

Ada beberapa kitab yang disebut dengan nama wanita, namun inilah satu-satunya kitab yang ditujukan kepada wanita.

Rupanya Yohanes mempunyai hubungan penggembalaan dengan ibu yang terpilih dan dengan seorang pria bernama Gayus dan beberapa orang lainnya.

Akan tetapi Yohanes juga mempunyai orang-orang bermasalah seperti Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka.

Yohanes menggambarkan orang ini dalam 3 Yohanes 9-10, Yohanes menulis: 

“Aku telah menulis sedikit kepada jemaat, tetapi Diotrefes yang ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka, tidak mau mengakui kami. Karena itu, apabila aku datang, aku akan meminta perhatian atas segala perbuatan yang telah dilakukannya, sebab ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar terhadap kami; dan belum merasa puas dengan itu, ia sendiri bukan saja tidak mau menerima saudara-saudara yang datang, tetapi juga mencegah orang-orang, yang mau menerima mereka dan mengucilkan orang-orang itu dari jemaat.” (3Yoh. 1:9-10)

Sungguh menarik bahwa Rasul Yohanes yang terkasih ini mempunyai seseorang dalam jemaatnya yang pastinya terus-menerus menimbulkan masalah baginya.

Terkadang pendeta sekarang ini mempunyai penatua yang benar-benar membuat mereka pusing.

Saya sendiri merasa terhibur bahwa seorang rasul Yohanes pun mempunyai seorang yang dalam jemaatnya, yang menghambat program-programnya, yang tidak tunduk kepada kewenangannya dan yang benar-benar menyusahkan dia. 

Sungguh menghibur bahwa bahkan Rasul ini pun, harus menangani orang-orang seperti itu dalam Jemaat generasi pertama. 

Apakah anda mengenali Yesus? Apakah anda mengetahui apa yang Ia ajarkan? Apakah anda mengikuti Dia? 

Hendaklah demikian. 

Dialah kasih. 

Ia mengasihi anda dengan kasih yang kekal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s