Pengutusan Para Rasul (NTS89)

Bagian 1

Salam jumpa kembali di Sekolah Alkitab Mini. 

Untuk keempat kalinya saya mempersilahkan anda untuk membuka kitab terakhir dalam Alkitab yaitu wahyu Yesus Kristus.

Pendekatan kita terhadap wahyu Yesus Kristus ini begini:

Kita percaya bahwa kitab terakhir dalam Alkitab ini adalah pesan berkode dari Allah kepada umatnya dan untuk memahami pesannya, Anda membutuhkan kunci-kunci untuk memecahkan kodenya.

Kunci pertama yang harus kita miliki adalah Roh Kudus. 

Kunci kedua yang kita butuhkan adalah dengan menyadari bahwa simbol atau tanda dari Kitab Wahyu ini adalah tanda-tanda yang Alkitabiah.

Kunci ketiga yang akan menolong kita ada hubungannya dengan sistematika Kitab Wahyu ini.

Ada 22 pasal dalam Kitab Wahyu yang penting sekali kita pahami, sesuatu tentang bagaimana pasal-pasal ini disusun .

Dalam Wahyu 1:19 ketika Rasul Yohanes mendapatkan pengalaman pribadi di Pulau Patmos ia diberitahukan begini: 

“……tuliskanlah apa yang telah kau lihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.”

Hal itu mengacu pada pengalaman yang luar biasa di Pulau patmos itu.

Yohanes mengatakan: “Aku dikuasai oleh Roh pada hari Tuhan.” Saat dikuasai oleh roh Allah, Yohanes melihat wahyu Yesus Kristus.

Pengalaman Yohanes itulah yang menjadi inti dari Kitab Wahyu ini. 

Yohanes di perintahkan untuk menulis wahyu ini dan menunjukkannya kepada tujuh jemaat di Asia kecil pada waktu itu.

Dalam Wahyu 1, saat Yohanes mencatat hal-hal yang ia lihat. Ia  hanya menceritakan pengalamannya. 

“Aku Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan.”

Dalam kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena Firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus. Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh. Dan aku mendengar di belakangku seperti ada suatu suara yang nyaring seperti bunyi sangka kala. Katanya: ‘Apa yang engkau lihat, Tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada tujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, Ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia. 

Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah  tujuh kaki dian dari emas.

Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.

Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.

Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.

Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.

Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini. Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.”

——————————————————-

Perhatikan kata kerja dalam cerita Yohanes tentang pengalamannya: 

Pada waktu itu aku berada di Pulau Patmos; Pada waktu itu aku di ku Asia Oleg Roy, Prada waktu itu aku mendengar suara yang nyaring seperti bunyi sangkakala; Pada waktu itu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku.

Simbol yang ada di sini tampaknya memiliki arti bahwa prasyarat untuk mendapatkan pengalaman mendalam tentang Allah adalah dengan berpaling kepadanya.

Mintalah maka itu akan diberikan kepadamu. Carilah maka kamu akan mendapat, ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu.

Barang siapa terus meminta, Barang siapa terus mencari, barang siapa terus mengetok akan menerima akan mendapat dan pintu yang mengantarkan kepada hadirat Allah akan dibukakan bagi mereka. 

Pada waktu itu Yohanes berada di sebuah pulau. 

Kita tidak tahu berapa lama ia berada di sana, yang jelas ia berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadanya dan ketika ia berpaling untuk melihat suara tersebut berbicara kepadanya.

Ia menggambarkan pengalamannya demikian, setelah aku berpaling tampak lah Dia dan ketika aku melihat dia tersungkurlah aku di depan kakinya seperti seorang yang mati.

Semua yang melihat Allah, entah melalui malaikat dan siapa mereka bergumul atau pusaran angin atau bait Allah yang ambruk seolah-olah terkena gempa, bagaimanapun rupa detil-nya, ketika mereka melihat Allah, mereka tidak menemukan kata-kata untuk mengekspresikan keagungan dakwaan dan rasa takjub mereka terhadap Allah.

Pada saat yang sama, mereka juga tidak menemukan kata-kata untuk mengekspresikan dakwaan dosa terhadap diri mereka sendiri.

Pengalaman Yohanes pun demikian, ketika ia melihat Kristus tersungkurlah Yohanes di depan kaki Kristus seperti seorang yang mati.

Lalu Yesus meletakkan tangan kanannya di atas Yohanes dan mengatakan: “Jangan takut! Aku adalah yang awal.”

Kita diperintahkan untuk mendahulukan Yesus. 

Yesus berkata kepada Nikodemus: “Kalau orang dilahirkan kembali, ia akan melihat kerajaan Allah, bahwa Itulah raja, raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala Tuhan.”

Ketika seseorang dilahirkan kembali, ia bisa menjalin hubungan dengan Allah, di mana Allah menjadi raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala Tuhan. ia akan masuk ke dalam kerajaan Allah.

Tampaknya demikianlah yang terjadi kepada Yohanes, ketika Kristus meletakkan tangan kanannya di atas Yohanes dan menegaskan: “Aku adalah yang awal. Jangan takut! Aku adalah yang awal”

Ia meyakini bahwa Rasul Yohanes sedang merampungkan bagian pertama dari tugasnya ketika ia mencatat pengalaman tersebut.

Yohanes diperintahkan, “Tuliskan apa yang diperintahkan.”

Lalu Yohanes diperintahkan, Tuliskanlah yang terjadi sekarang.”

Banyak ahli teologi yang meyakini bahwa hal itu mengacu pada pasal 2 dan 3.

Pasal 2 dan 3 ini ada hubungannya dengan bagian kedua dari tugasnya yaitu menuliskan yang terjadi sekarang, yang ada dalam ke-7 Jemaat.

——————————————-

Ketujuh Jemaat ini: Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia adalah jemaat-jemaat yang ada pada waktu itu.

Surat kepada ketujuh Jemaat ini terdapat dalam pasal 2 dan 3 Kitab Wahyu.

Surat kepada ke-7 Jemaat di Asia kecil itu hendaknya diterapkan secara devosional seperti halnya kitab Kolose, Efesus, Filipi, Yakobus atau 1 dan 2 Petrus adalah surat-surat kepada Jemaat jemaat yang ada pada waktu itu.

Akan tetapi yang menulisnya bukan sekedar Yohanes, penulisnya adalah Yesus yang telah bangkit.

Kristus yang telah bangkit berbicara kepada Yohanes dan kepada jemaat-jemaat melalui Yohanes tersebut.

Surat-surat ini mempunyai makna yang sangat khusus sebab langsung berasal dari Kristus.

Suratnya ini diakhiri dengan: “Siapa bertelinga hendaklah ia mendengar kan apa yang dikatakan roh kepada jemaat-jemaat.”

Dalam Wahyu 1, Yohanes melihat bahwa ketujuh kaki dian tersebut terbuat dari emas. Wahyu 1 itu mengatakan bahwa Kristus berada di tengah-tengah ke tujuh kaki Dian tersebut.

Yohanes diberi tahu bahwa ke tujuh kaki Dian tersebut adalah jemaat.

Yohanes diberi tahu bahwa Dia yang berada di tengah-tengah ke tujuh kaki Dian tersebut adalah Kristus. Walaupun pada jemaat yang mempunyai banyak sekali masalah, Kristus yang telah bangkit ada di tengah-tengah jemaatnya.

Seberapa parah pun kekurangan-kekurangan jemaatNya, jangan pernah lupa bahwa Kristus berada di tengah-tengah jemaatnya. 

Suratnya kepada jemaat Efesus mengatakan: “Kamu tidak lagi mengasihi. Apa yang telah terjadi dengan kasihMu?”

Menarik bukan, bahwa surat kepada Jemaat ini mengatakan bahwa engkau telah meninggalkan kasihmu yang mula-mula?

Apa yang terjadi dengan kasihMu? engkau tidak lagi mengasihi. Bertobatlah. Kalau tidak, Aku akan datang dan mengambil kaki Dian dari tempatmu. Bukan keselamatanmu, melainkan Kesaksianmu, pelayananmu. Bertobatlah dan kembali lah ke tempat di mana engkau semula berada dalam kehidupan kasihmu Bersamaku dan dalam kehidupan kasihmu dengan orang lain.

Menurut saya itu adalah suatu tantangan yang besar. 

Kalau ada orang yang Tuhan pakai untuk mengasihi sesama anda, maka jangan pernah lupa bahwa anda bisa kehilangan pengalaman, dimana Kristus memakai anda menjadi alatnya untuk mengasihi umatnya. Kecuali keselamatan anda sendiri, tidak ada satupun yang tidak mungkin hilang.

Dalam banyak surat ini kita dinasihatkan: Bertobatlah!

Apakah orang yang percaya ini perlu untuk bertobat? Tentu. Anda bertobat bukan satu kali saja melainkan terus-menerus.

Kita harus intropeksi diri dan bertobat atas dosa yang kita sadari yang menghambat persekutuan kita dengan Tuhan.

Coba anda membaca surat-surat kepada Jemaat-Jemaat ini dalam pasal 2 dan 3 Kitab Wahyu.

Kalau anda menemukan kebenaran yang dimaksud untuk menjawab persoalan-persoalan dalam kehidupan rohani maupun pribadi anda, seperti halnya pertobatan, berdoalah di atas dosa yang anda sadari.

Bagian 2

Dalam sesi yang terakhir, saya memberikan beberapa ulasan tentang surat-surat kepada ketujuh jemaat yang terdapat dalam waktu 2 dan 3.

Beberapa ahli teologis yang meyakini bahwa ketujuh Jemaat ini, selain memang jemaat yang ada pada waktu itu, juga mewakili sejarah jemaat.

Ketika anda mempelajari tentang ketujuh jemaat ini sependapat bahwa ada pesan di mana nama-nama dan karakteristik ketujuh jemaat ini bisa mewakili sebagian jemaat. 

Mereka yang berkeyakinan demikian meyakini bahwa surat kepada Jemaat di Laodikia mewakili zaman yang sekarang ini. 

Jemaat yang sekarang ini suam-suam kuku, sangat kaya, menganggap tidak membutuhkan apapun dan tidak menyadari bahwa secara rohani mereka sesungguhnya malang, miskin dan telanjang.

Nasihat yang pada jemaat yang sekarang ini adalah kenakan lah pakaian putih, bertobatlah dan biarlah dirimu disucikan lewat api penganiayaan yang mendisiplinkan sehingga engkau menjadi emas murni, di sinilah kita mendapatkan ayat yang sangat dikenal barang siapa kukasihi ia kutegor dan kuhajar, sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.

Disini kita mendengar Kristus berfirman kepada jemaatNya di Laodikia dan pada intinya ia mengatakan, 

“Aku terlalu mengasihimu untuk membiarkanmu menjalani kehidupanmu dengan hubungan yang suam-suam kuku dengan-Ku. Oleh karenanya Aku mengetuk pintu kehidupanmu dan ketokan-Ku adalah pendisiplinan. Masalah-masalah yang tidak mungkin engkau pecahkan,  sadarilah bahwa di balik badai tersebut masalah yang tidak mungkin engkau pecahan tersebut adalah bahwa aku sedang mengetuk pintu kehidupanmu, karena Aku mengasihimu. 

Buka lah pintu kehidupanmu dan undang lah aku ke dalam hatimu, dan ke dalam hal – hal yang berarti dalam hidupmu, maka Aku akan masuk dan bersekutu denganmu. Engkau dengan aku. 

Saat Yohanes mencatat surat kepada ketujuh jemaat ini, ia merampungkan bagian yang kedua dari tugasnya.

Dalam pasal 1 Yohanes mencatat hal-hal yang ia lihat atau pengalamannya.

Dalam pasalnya dua dan ketiga, Yohanes menuliskan hal-hal yang akan terjadi sekarang. Atau surat-suratnya kepada ketujuh jemaatnya tersebut.

Akan tetapi mulai pasal yang keempat Yohanes memulai dengan bagian untuk menuliskan hal – hal yang akan terjadi sesudah ini.

————————————————–

Garis besar kitab Wahyu ini adalah salah satu kunci yang akan membantu pemahaman anda akan Kitab Wahyu ini.

Untuk berfokus pada kunci yang keempat, Anda perlu memahami kronologi Pasal 6-19 dari Kitab Wahyu.

Pasal 4 dan 5 relatif mudah. Keduanya adalah bahasa isyarat yang indah, yang ada hubungannya dengan Penyembahan yang terjadi di Sorga.

Kita diberi tahu lebih banyak tentang sorga dalam kedua pasal ini daripada dalam kitab manapun dalam Alkitab.

Akan tetapi memasuki Pasal 6, nadanya berubah dan menjadi sangat sulit untuk memahami kitab ini. 

Kalau Anda membaca Pasal 6, sulit sekali untuk menafsirkan bagian ini untuk menolong anda menafsirkan bagian sulit dari Kitab Wahyu ini pahamilah kronologi pasal 6-19.

Rangkaian kejadian yang dikenal sebagai kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali mencakup periode waktu yang lama. 

Berapa lama persisnya adalah tergantung pada bagaimana anda menafsirkan kejadian-kejadian ini dan bagaimana anda menyusun kronologinya.

Kejadian-kejadian ini perlu diurutkan, namun sulit sekali mengurutkannya secara kronologis.

Salah satu kejadian yang paling singkat diantara rangkaian kejadian yang disebut kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali adalah periode 7 yang disebut masa penganiayaan.

Yesus mengatakan dalam Matius 24 – 25, bahwa suatu hari kelak akan terjadi masa siksaan yang berat.

Yesus mengatakan, sebab Pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia dijadikan sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi, dan sekiranya waktunya tidak dipersingkat, maka dari segala yang hidup tidak akan ada yang selamat.

Akan tetapi oleh karena orang-orang pilihan waktu itu akan dipersingkat.

Banyak ahli teologia yang meyakini bahwa siksaan yang berat akan terjadi selama 7 tahun. 

Siksaan yang berat inilah yang digambarkan dalam waktu 6 sampai 19. 

Keseluruhan pasal ini mulai dari pasal 6 ketika muncul kuda-kuda sampai pertengahan pasal 19, difokuskan pada suatu periode 7 tahun di antara rangkaian kejadian yang disebut sebagai kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali.

Siksaan yang berat digambarkan dalam bagian kitab Wahyu ini dalam bentuk penghakiman. 

Memasuki catatan tentang penghakiman ini, anda membaca dibukanya materai. Satu persatu menterai-menterainya dibuka dan setiap kali sebuah materai dibuka, terjadilah penghakiman yang mengerikan.

Lalu Anda membaca tujuh sangka kala penghakiman yang berarti penghakiman yang sempurna atau menyeluruh.

Setiap kali salah satu dari ke-7 sangkakala ini dibunyikan, terjadilah penghakiman.

Materai-materainya dibuka dalam pasal 6 sangkakala-sangkakala dibunyikan dalam pasal 8 dan 9.

Lalu dalam pasal 16 anda membaca tentang cawan. Ketujuh cawan ini di tumpahkan dan setiap kali cawan di tumpahkan, kembali terjadi penghakiman yang dahsyat.

————————————–

Ada beberapa alasan mengapa bagian dari kitab Wahyu ini sulit dibaca oleh orang pada umumnya.

Bagian ini sulit bagi banyak orang karena bagian ini sangat mengerikan dan kita tidak senang membaca tentang penghakiman yang mengerikan di masa mendatang.

Celaka. Celaka. Celaka. Itulah yang Anda baca.

Firman ini tidak akan membantu kalau Anda sedang memerangi masalah depresi.

Kalau Anda mengalami masalah depresi, Saya tidak akan merekomendasikan Anda untuk membaca bagian dari kitab Wahyu ini karena bagian ini tidak akan membangkitkan semangat anda.

Salah satu faktor yang menjadikan bagian ini dari kita wahyu ini sulit adalah apakah ketiga penghakiman ini yaitu meterai sangka kala dan cawan adalah 3 periode penghakiman yang terjadi berturut-turut atau terpisah ataukah setiap periode penghakiman meningkat kedahsyatannya?

Sulit dijawab.

Secara pribadi saya meyakini bahwa ketiganya adalah periode penghakiman yang terjadi berturut-turut yang juga semakin dahsyat, yang akan terjadi dalam periode siksaan yang berat selama 7 tahun itu.

Itu saja sudah Anda anggap sulit. 

Di sinilah bagian Alkitab menjadi benar-benar sulit. Di antara ketiga penghakiman ini ada informasi sebagai ulasan tambahan tentang penghakiman – penghakiman ini.

Akan tetapi pasal 7, 10-15 dan 17-19, jelas-jelas tidak berurutan.

Doktor Charles, mengilustrasikan bagian sulit dari Kitab Wahyu ini begini:

Pernahkah anda menghadiri suatu perjamuan makan dimana seseorang bercerita tentang pengalamannya beserta istrinya berlibur 7 tahun yang lalu?

Anda tahu bahwa kaum wanita adalah sejarawan yang lebih unik, lebih baik daripada kaum pria.

Sang suami mengatakan kejadiannya adalah pada minggu kedua bulan Juli, sedangkan sang istrinya bilang: “Pa, tidak mungkin minggu kedua bulan Juli, sebab kaki Ibu patah pada waktu minggu kedua bulan Juli. Pasti minggu pertama bulan Juni.”

Sang suami tetap sabar dan melanjutkan ceritanya ia berpegang pada kontinuitas ceritanya, namun Istrinya sebagai sejarawan yang lebih baik, terus saja memberikan informasi tambahan yang sering kali tidak berurutan. 

Setelah mereka berdua selesai bercerita anda baru menangkap keseluruhan ceritanya.

Itulah yang anda hadapi dalam bagian ini dari Kitab Wahyu.

Anda membaca tentang tiga penghakiman yang mungkin ada hubungannya dengan siksaan yang berat.

Di antara ketiga periode penghakiman ini, anda diberikan ulasan tambahan yang tidak berurutan.

Kalau anda menyadari hal ini, anda tidak akan terlalu bingung dan kewalahan membacanya. Dengan pertolongan Roh Kudus, Anda mungkin akan menemukan tulang punggung bagian ini yang adalah ketiga penghakiman itu.

Lalu Letakkan lah daging pada tulang-tulang rangka nya dengan menambahkan informasi tambahan nya, sambil meminta Roh Kudus untuk menunjukkan kepada anda di mana letak informasi tambahan itu persisnya diantara ketiga penghakiman itu.

Demikianlah beberapa alasan mengapa pasal 6 hingga pertengahan pasal 19 adalah bagian yang paling sulit dari Kitab Wahyu untuk dipahami.

Akan tetapi bagian ini dari Kitab Wahyu tidaklah terlalu sulit sehingga mustahil dipahami.

Saya berdoa agar Roh Kudus yang perspektif yang telah saya berikan ini yang telah disingkapkan oleh Roh Kudus akan membantu Anda memahami bagian Kitab Wahyu yang sangat sulit untuk dimengerti ini. [GR1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s