Manusia, Pasangan, dan Orang Tua (OTS05)

Bagian 1

Selamat datang di program kampus Alkitab Mini.

Sungguh suatu kehormatan bagi kami, untuk bersama-sama mempelajari Firman Allah. 

Terima kasih telah memilih bergabung dengan perjalanan rohani ini bersama kami.

Dalam sesi ini saya ingin membahas apa yang dikatakan kitab kejadian tentang kelahiran atau asal-usul manusia. 

Ingatlah bahwa maksud kitab kejadian adalah menjelaskan bagaimana pada mulanya, agar kita dapat memahaminya sebagaimana seharusnya. 

Ketika kita membahas topik tentang asal-usul manusia, kita membahas tentang diri kita sendiri 

Apa yang dikatakan kitab kejadian tentang manusia? 

Ketika kita mempelajari tentang penciptaan manusia, apa yang kita temukan tentang niat dan maksud Allah bagi manusia 

Kita akan menemukan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan ini. 

Sebab saya percaya bahwa Itulah sebabnya Allah menjelaskan tentang penciptaan manusia dalam kitab Kejadian.

————————-

Dalam kitab kejadian kita menemukan penggambaran berikut tentang penciptaan manusia 

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi….” (Kej 1:26-28)

Dalam kejadian pasal 2 kita menemukan tambahan tentang penciptaan manusia.

Dalam kejadian pasal 2:18 dikatakan:

“TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia……Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu…..Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kej. 2:18,21,22,24) 

Kisah tentang kelahiran manusia atau asal-usul manusia ini, diberikan kepada kita agar sekarang kita dapat memahami manusia apa adanya 

Kisah ini menjelaskan tentang asal-usul kita agar sekarang kita dapat memahami diri sendiri apa adanya. 

Ketika membaca penggambaran tentang penciptaan manusia, hal pertama yang mengesankan kita adalah fakta bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. 

Apa maksudnya? 

Allah adalah Roh, Allah  tidak mempunyai tubuh jasmani 

Jadi mungkin hal itu bukan mengacu pada tubuh jasmani manusia. 

Lalu apa? 

Ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya sendiri, hal itu mengacu pada kapasitas rohani manusia.

Yesus sendiri mengatakan: “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging.”

Yang berarti bahwa kelahiran fisik menjadikan kita makhluk jasmani 

Bukan tubuh jasmani kita yang serupa dengan gambar rupa Allah, melainkan kapasitas rohani kita itulah yang menjadikan kita serupa dengan gambar dan rupa Allah 

Dalam kejadian pasal 2 digambarkan, bagaimana Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia menjadi makhluk yang hidup, jiwa yang hidup, roh yang hidup.

Demikianlah Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya sebab Allah adalah roh. 

Sesungguhnya kalau kita merenungkannya, manusia mempunyai kapasitas untuk menjadi lebih parah daripada hewan manapun di rimba. 

Tidak ada hewan manapun di rimba yang pernah membunuh 6 juta hewan lainnya, hanya karena ia tidak senang dengan penampilan mereka. 

Akan tetapi ada manusia yang melakukannya. 

Kalau anda mempelajari sejarah tentang apa yang pernah dilakukan manusia terhadap sesama manusia, saya percaya bahwa anda akan sampai kepada kesimpulan bahwa manusia berpotensi menjadi lebih parah daripada hewan. 

Mungkin anda pernah mendengar tentang sebuah puisi yang katanya ditulis oleh seekor monyet yang diakhiri dengan kalimat: “Demikianlah lahir manusia, makhluk aneh itu pemarah itu. Namun manusia bukanlah keturunan kita sebab tidak ada monyet yang pernah memukuli istrinya dan meninggalkan istri dan anak-anaknya.” 

Demikianlah manusia mempunyai kapasitas untuk menjadi lebih parah daripada hewan, namun manusia juga berpotensi menjadi serupa dengan Allah 

Manusia berpotensi rohani. 

Potensi rohani manusia itulah yang menjadikannya serupa dengan gambar dan rupa Allah. 

Seperti yang akan kita lihat nanti dalam kejadian pasal 3, keserupaan dengan gambar dan rupa Allah ini rusak ketika manusia jatuh kedalam dosa. 

Masalah mendasar yang dibahas Alkitab adalah bagaimana Allah mengutuhkan manusia kembali dan memberinya kapasitas rohani untuk menjadi serupa dengan gambar dan rupa Allah. 

Demikianlah pengamatan pertama kita tentang asal-usul manusia, tentang bagaimana sesungguhnya manusia itu adanya 

Manusia diciptakan untuk menjadi rohani.

Selama manusia hanya dilahirkan dari daging dan belum dilahirkan dari roh, manusia tidak mungkin menjadi serupa dengan gambar dan rupa Allah, dan sebelum dilahirkan dari roh manusia belum hidup 

Yesus mengatakan bahwa manusia yang belum dilahirkan dari roh adalah mati. 

Pada suatu kali seseorang datang kepada itu dan mengatakan: “Aku mau mengikutMu, namun terlebih dahulu aku ingin menguburkan ayahku. Aku mau melaksanakan kewajibanku dulu terhadap ayahku, baru mengikutMu.” 

Maka Yesus pun menjawab: “Ayahmu sudah mati, biarkan orang mati menguburkan orang mati Ikutlah aku sekarang juga.”

Sungguh suatu pernyataan yang keras.

Demikianlah Yesus mengatakan bahwa hanya karena seseorang masih hidup secara jasmani belum tentu Ia memiliki hidup seperti yang Allah merencanakan bagi manusia.

Selama kita hanya dilahirkan dari daging, kita tidak akan menjadi serupa dengan gambar dan rupa Allah, hingga kita dilahirkan dari roh. 

Itulah yang Yesus maksudkan bahwa kita harus dilahirkan kembali, yaitu ketika Allah menciptakan hati yang baru di dalam diri kita.

—————–

Pengamatan lainnya tentang kisah penciptaan manusia adalah bahwa laki-laki dan perempuan.

Allah membuat Adam tidur lalu mengambil salah satu tulang rusuk Adam dan dari tulang rusuk Adam tersebut Allah membangun seorang perempuan. 

Ini adalah pembedahan dengan anestesi atau pembiusan yang pertama di dunia dan yang melakukannya adalah Allah.  

Saya percaya bahwa hal itu merupakan simbolisme yang indah. 

Allah tidak membangun perempuan dari kepala laki-laki yang akan melambangkan bahwa perempuan akan memerintah di atas laki-laki dan Allah juga tidak membangun perempuan dari kaki laki-laki yang akan melambangkan bahwa perempuan akan melayani laki-laki, melainkan Allah membangun perempuan dari tulang rusuk laki-laki yang berarti paling dekat dengan hati laki-laki.

Demikianlah Allah menghendaki perempuan menjadi penolong yang sepadan dengan laki-laki, sebab Allah menganggap tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia, maka diciptakanlah perempuan untuk melengkapi laki-laki 

Dalam bahasa Ibrani kita menemukan bahwa Allah mempersatukan laki-laki dan perempuan dalam apa yang sekarang kita sebut pernikahan Suci atau satuan seksual sehingga laki-laki dan perempuan menjadi satu daging yang utuh 

Banyak orang berpikir bahwa di Taman Eden Adam dan Hawa melakukan dosa seksual, sungguh menggelikan.

Allah sudah menjadikan laki-laki dan perempuan itu seksual sebelum mereka jatuh ke dalam dosa dan Allah memandangnya sangat baik.

Segala yang Allah ciptakan adalah baik termasuk kesatuan seksual.

Jadi bukan seks yang menjatuhkan manusia 

Ketika Allah mempersatukan laki-laki dan perempuan menjadi satu daging, Allah melembagakan salah satu hukum kehidupan yang paling mendasar.

Allah mengadakan lembaga terpenting di dunia yang sekarang kita sebut keluarga atau rumah tangga 

Demikianlah ketika menciptakan laki-laki dan perempuan, Allah sudah merencanakan untuk mempersatukan dua individu menjadi pasangan agar mereka dapat menjadi orang tua yang menghasilkan putra-putri yang suatu hari kelak juga akan menemukan pasangan mereka sendiri dan menjadi orangtua yang juga menghasilkan putra-putri. 

Demikian seterusnya. 

Demikianlah hukum terbesar kehidupan yang telah melahirkan, memelihara dan mengarahkan umat manusia. 

Agar hukum kehidupan ini efektif harus ada dua orang tua yang memadai. 

Agar kedua orang tua ini memadai harus ada kemitraan yang memadai. 

Agar ada kemitraan memadai, harus ada dua individu yang memadai. 

Demikianlah cara kerja yang seharusnya, baru Hukum Allah tentang kehidupan berjalan dengan efektif yaitu harus melibatkan orang tua yang memadai, pasangan menikah yang memadai dan individu yang memadai. 

————————————-

Demikianlah Alkitab selalu mengajarkan agar individunya dulu harus memadai, baru dapat menjadi pasangan menikah yang memadai, baru kemudian menjadi orang tua yang memadai.

Dalam 1 Petrus pasal 3 misalnya Petrus mempermasalahkan seorang wanita yang suaminya tidak mentaati firman Allah. 

Mungkin sang suami bukan orang percaya atau orang percaya namun tidak selalu mentaati firman Allah. 

Atas inspirasi Roh Kudus, Petrus mengajarkan bagaimana seharusnya wanita itu sebagai seorang individu tanpa membahas apapun lagi tentang suaminya atau berusaha mengubah suaminya.

Inilah realitasnya.

Seorang teman saya yang adalah phisikolog mengatakan bahwa kecemasan dan frustasi kita alami karena sasaran kita tergantung pada apa yang akan dilakukan orang lain

Misalnya kita mau anak-anak melakukan hal tertentu, sasaran kita untuk tahun ini didasarkan pada hal itu

Ternyata kita tidak mungkin bisa mengendalikan apa yang dilakukan anak-anak. 

Atau saya mau suami saya melakukan hal tertentu, itulah sasaran saya untuk tahun ini. 

Ternyata saya tidak mungkin bisa mengendalikan suami saya 

Atau saya mempunyai sasaran yang berhubungan dengan apa yang saya mau isteri saya lakukan. 

Ternyata saya kecewa dan frustrasi sebab saya tidak mungkin bisa mengendalikan atau mengubah istri saya ataupun orang lain. 

Jadi sungguh tidak realistis kalau kita berpikir bahwa kita dapat memecahkan masalah atau menguatkan hubungan kita dengan cara mengubah orang lain. 

Alkitab mengajarkan agar kita menempatkan individu sebagai alas dari sebuah segitiga. 

Menurut pengajaran Alkitab tentang penghakiman, kita takkan berdiri di hadapan Allah sebagai pasangan yang menikah, kita tidak akan mempertanggungjawabkan pasangan kita ketika kita berdiri di hadapan Allah suatu hari kelak, kita akan mempertanggungjawabkan diri kita sendiri, kehidupan kita sendiri kita hanya mungkin melakukan sesuatu tentang diri sendiri. 

Oleh karenanya, sudah layak dan sepantasnya kalau kita fokus pada perbaikan diri kita sendiri kalau kita mau menguatkan hukum kehidupan yang telah Allah tetapkan ini.

Bagian 2

Silahkan mengambil Alkitab anda dan membuka Kejadian 2.

Di mana kita baru mempelajari apa yang dikatakan firman Allah tentang hukum Allah mengenai pernikahan dan keluarga.

Kemarin kita belajar bahwa Allah merancang untuk menjadikan dua individu sebagai pasangan agar mereka menjadi orang tua yang menghasilkan individu-individu lagi yang kemudian menjadi pasangan dan orang tua lagi dan seterusnya.

Dengan rencana Allah Itulah terbentuklah keluarga manusia.

————————————

Ketika kita mengakhiri studi kemarin, saya fokus pada peran individu dan kemitraan di antara mereka. Hari ini saya ingin fokus pada peran orang tua.

Peran orang tua sangatlah penting. Salah satu hal yang kami coba sampaikan di sini adalah bahwa seorang anak seharusnya meninggalkan ayah dan ibunya. Demikianlah hukum kehidupan.

Anda mengasuh anak-anak anda selama kira-kira 20 tahun dan kalau semua orang melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, setelah kira-kira 20 tahun tersebut anak-anak anda akan meninggalkan anda, mereka akan bersatu dengan orang lain.

Akan tetapi, janganlah hendaknya mereka tiba-tiba meninggalkan anda, melainkan bertahap.

Menurut saya, salah satu tantangan besar nya adalah begini.

Anda mengasuh anak-anak anda selama kira-kira 20 tahun. Pada awalnya Ketika anda menggendong bayi yang masih menggunakan popok ada perlu mempertimbangkan bahwa suatu hari kelak bayi tersebut akan hidup mandiri dan mengatakan, “saya sanggup melakukan apapun yang saya inginkan.” 

Apa yang akan anda lakukan kalau begitu?

Itulah yang hendaknya anda pertimbangkan Ketika anda baru menggendong bayi tersebut.

Apa yang dimulai sebagai proses koreksi, harus menjadi keyakinan anak tersebut.

Selama kira-kira 20 tahun apa yang dimulai sebagai proses koreksi dan kendali dari anda sebagai orang tuanya di mana proses koreksi dan kendali akan lebih intensif pada usia dini anak, harus menjadi keyakinan anak tersebut sebab anda takkan sanggup mengoreksi dan mengendalikan anak anda selamanya.

Hal itu berarti anda harus mendoakan agar anak anda menjadi beriman. Sebab ketika seorang anak beriman, barulah nilai-nilai rohani akan tertanam di dalam hatinya dan diyakininya. Maka anda tidak perlu lagi mengoreksi dan mengendalikannya.

Kami telah mengatakan bahwa orangtua yang memadai sangat tergantung pada hubungan kemitraan dalam pernikahannya.

Salomo mengatakan dalam Mazmur 127, bahwa anak adalah ibarat anak panah, sedangkan orang tua atau pasangan menikah ibarat busurnya.

Intensitas dan arah yang akan ditempuh seorang anak dalam kehidupannya tergantung pada busur yang meluncurkan. Demikianlah rumah tangga itu bagi anak-anak.

Seandainya anda adalah iblis dan anda sudah mengetahui hal itu dan anda ingin mematahkan hukum besar kehidupan yang ditetapkan Allah ini. Apa yang akan anda lakukan? 

Mungkin anda akan memutuskan tali busurnya, maka anak panahnya akan meluncur tak terarah dengan intensitas tak seberapa.

Ketika berbicara dengan muda-mudi sekarang ini, terkadang saya menjadi teringat akan puisi yang mengatakan, “Aku meluncurkan anak panahku ke udara, ia jatuh ke bumi, entah dimana.”

Demikianlah sebagian anak menjalani kehidupannya, meluncur tak terarah dengan intensitas tak seberapa, sebab mereka diluncurkan bukan dengan busur yang baik.

Agar orang tua memadai, kemitraan pernikahan mereka harus memadai.

Jadi mari kita fokus pada kemitraan pernikahan ini yang merupakan bagian yang sangat penting dari hukum dasar kehidupan yang ditetapkan oleh Allah.

Itulah sebabnya Allah menciptakan laki-laki dan perempuan.

Selama yang laki-laki maupun yang perempuan berhubungan dengan Allah yang sama, semakin dekat dengan Allah yang sama, mereka akan semakin dekat dengan satu sama lain.

Menurut Alkitab, dalam hubungan ini mereka menjadi satu daging. 

Dalam ayat-ayat lain juga akan kita temukan bahwa ikatan di antara suami istri ini adalah ikatan yang diatur oleh Allah.

Allah yang mengikat mereka berdua, Allah yang merancang ide tentang pernikahan dan rumah tangga, sehingga dapat anda mengatakan, “Allah yang mempersatukan kami.”

Itulah sebabnya dikatakan, “Oleh karenanya apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia. Sebab pernikahan yang dikehendaki Allah sesungguhnya adalah diantara pasangan yang dipersatukan oleh Allah sendiri dan oleh karenanya, kita dapat berkata hanya Allah saja yang sanggup memelihara kesatuannya.”

Yesus sendiri mengajarkan kepada para Rasul, bahwa ikatan pernikahan adalah ikatan permanen.

Itulah maksudnya hubungan pernikahan yang tidak mungkin diputuskan lagi.

Salah seorang dari para rasul, saya membayangkannya Petrus, mengatakan “Kalau begitu lebih baik tidak menikah,.”

Rasul tersebut tidak sanggup membayangkan hidup bersama seorang wanita seumur hidup.

Menanggapinya Yesus tidak menghibur atau mengakomodasikan nya.

Yesus hanya mengatakan, “Tidak semua orang dapat menerima perkataanku ini, hanya orang yang ditolong Allah yang dapat benar-benar mengalalami apa yang direncanakan Allah ketika merancang pernikahan.”

———————————

Ketika mempelajari tentang pernikahan Dalam kitab Kejadian, anda akan menemukan bahwa hubungan pernikahan juga adalah hubungan eksklusif dalam dua pengertian.

Demi menikah dengan seorang wanita, seorang pria meninggalkan ayah dan ibunya, keluarga dengan siapa sang pria tinggal selama kira-kira 20 tahun, tidak lagi termasuk dalam hubungan pernikahannya.

Hubungan pernikahan disebut eksklusif sebab demi menikahi seorang wanita, maka sang pria meninggalkan yang lain. Sang pria harus membuat komitmen terhadap pasangan menikahnya seumur hidup.

Demikianlah tujuan dan maksud Allah.

Mengapa Allah menghendaki hubungan pernikahan tak terputuskan? Saya percaya bahwa alasannya adalah, apa yang bisa kita sebut hak anak-anak.

Sekarang ini kita banyak mendengar tentang hak asasi manusia.

Menurut saya, hak anak-anak sangat penting.

Anak-anak tahu bahwa mereka hanya mungkin tentram selama pernikahan orang tua mereka utuh.

Itulah sebabnya kalau anda ingin melihat ketentraman, lihatlah anak anda ketika anda sedang berkecupan dengan pasangan anda atau sedang memperlihatkan kasih sayang terhadap satu sama lain.

Mungkin anak anda akan menggoda setelah usia mereka lebih besar. Namun sesungguhnya, mereka senang melihat anda mesra dengan pasangan anda sebab hal itu menjadikan mereka merasa tentram.

Selama pernikahan anda utuh, anak-anak anda akan baik-baik saja. Kalau anda terus saja bertengkar dengan pasangan anda, coba anda melihat anak-anak anda, maka anda akan melihat ketidaktentraman dan bahkan ketakutan.

Demikianlah Allah memikirkan anak-anak ketika menetapkan bahwa pernikahan adalah hubungan yang permanen selamanya.

Pernikahan juga eksklusif dalam arti bahwa anda harus meninggalkan semua yang lain dan barulah pernikahan anda utuh.

Pengamatan lain tentang hubungan menikah adalah bahwa pernikahan adalah hubungan yang serba mencakup.

Salomo mempunyai 700 istri dan 300 selir. Jadi ia cukup pantas berbicara tentang topik pernikahan.

Dalam Pengkhotbah 4, Salomo mengatakan bahwa hububngan pernikahan seperti yang dikehendaki Allah adalah seperti tiga utas tali yang tidak mudah diputuskan.

Maksudnya adalah bahwa hubungan menikah berlangsung dalam banyak tingkatan, setidaknya dalam tiga tingkatan yaitu pertama, keduanya harus satu roh, sebab Allah menghendaki mereka 1 roh. Kedua, keduanya harus satu pikiran, komunikasi diantara mereka berdua harus lancar. Ketiga, keduanya harus menyatu secara seksual, sebab Allah merancang hubungan seksual sebagai ekspresi kesatuan yang penuh sukacita.

Demikianlah Allah menghendaki pasangan menikah itu, satu roh, satu pikiran satu dan tubuh.

Binatang mungkin mengekspresikan hubungan seksual, namun tidak ada satu roh atau satu pikiran. Hubungan diantara binatang hanya bersifat mekanis.

Terkadang dalam konseling pernikahan, saya mendengar para pasangan mengatakan, “Hubungan Kami hanyalah ibarat hubungan binatang.” Sebab mereka tidak mempunyai kesatuan roh, tidak mempunyai kesatuan pikiran melalui komunikasi yang lancar, dan hubungan seksual mereka bukan merupakan ekspresi kesatuan yang lebih mendalam melainkan hanya mekanis seperti binatang. Bukan demikian yang Allah kehendaki.

Allah menghendaki hubungan pernikahan ibarat tiga utas tali yang tidak mudah diputuskan. Allah menghendaki pasangan menikah menjadi satu roh, satu pikiran, dan satu tubuh.

Selama kita mempunyai kesatuan pada tiga tingkatan ini, kita ibarat mempunyai tiga utas tali yang menurut Salomo tidak mudah diputuskan.

Satu pemikiran terakhir tentang hukum kehidupan ini menurut Kitab Kejadian. anda tidak mungkin menjadi orangtua yang memadai tanpa Pertolongan Allah.

Mazmur 127 mengatakan, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah orang yang membangunnya. Jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah sebab Ia memberikannya kepada yang dicintainya pada waktu tidur.”

Seandainya anda ingin tidur dan menghadapi hari besar besok, apa bukan tidak menggelikan seandainya anda mengatakan, “Ya Allah besok hari besar bagiku, Aku harus menolongmu untuk memulihkan energi tubuh ku, maka aku akan tetap berjaga dan menolongmu melakukannya.”

Selama anda tetap terjaga Allah tidak mungkin memulihkan energi anda.

Ketika anda berserah kepada-Nya, menyerahkan kehidupan anda ke dalam tanganNya, dan tidur, maka mukjizat dari segala mukjizat, Allah memulihkan kekuatan tubuh anda.

Anda bisa bangun 6 atau 8 jam kemudian dan mempunyai kekuatan kembali.

Salomo mengatakan bahwa kepada orang yang dikasihinya, Allah memberikan kapasitas untuk menjadi orang tua memadai Ketika anda menyerahkan anak-anak anda kepadaNya dan membiarkan Dia yang membangun rumah tangga anda.

—————————————-

Ringkasnya anda tidak mungkin menjadi orangtua memadai tanpa Pertolongan Allah.

Tentang pernikahan Yesus mengatakan, “Tidak ada orang yang dapat menerima perkataanku kecuali Allah menolongnya.”

Anda tidak mungkin benar-benar mengalami apa yang Allah rencanakan bagi pernikahan anda kecuali anda mendapatkan Pertolongan Allah.

Salah satu pesan besar Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama adalah anda takan pernah menjadi individu yang memadai tanpa Pertolongan Allah.

Dalam Yohanes pasal 3, Yesus mengatakannya begini, “Manusia hanya mungkin menghasilkan kehidupan dari daging. Namun Roh Kudus menghasilkan kehidupan dari Roh. Jadi jangan heran kalau Aku mengatakan bahwa engkau harus dilahirkan kembali.”

Demikianlah pesan besar Alkitab, bagaimana Allah mengatasi perceraian di antara diriNya dengan manusia? Bagaimana Allah melakukan penciptaan yang kita butuhkan dalam hati kita  melalui kelahiran kembali. 

Itulah sebabnya Perjanjian Lama mengatakan, “Yesus akan datang” dan Perjanjian Baru mengatakan, “Yesus telah datang”.

Anda bisa dilahirkan kembali, anda bisa mengalami penciptaan baru didalam hati anda sehingga anda menjadi individu yang memadai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s