Di Manakah anda? (OTS06)

Bagian 1

Salah satu bagian yang paling tidak asing dari kitab Kejadian dan salah satu bagian paling kontroversial dari kitab Kejadian adalah Kejadian pasal 3. 

Saya memutuskan untuk menyebutnya sebagai krisis pada mulanya dan krisis pada waktu sekarang. 

Apa sebenarnya krisis pada mulanya dan krisis pada waktu sekarang ini yang kita baca dalam Kejadian pasal 3?

Itulah krisis yang oleh Alkitab disebut dosa.

Kritis yang kita semua hadapi setiap harinya. 

Apakah kita mau mengikuti jalan Allah atau mengikuti jalan kita sendiri 

Penjelasan Alkitab  tentang sifat manusia pada mulanya dan pada waktu sekarang adalah; kita semua seperti domba yang sesat yang memilih jalannya sendiri. 

Demikianlah sifat manusia. 

Menurut kitab suci, Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang sanggup memilih. 

Sebagai makhluk yang sanggup memilih, kita mungkin mengikuti kehendak Allah atau mengikuti kehendak sendiri.

Kita mungkin mengikuti jalan Allah atau mengikuti jalan kita sendiri. 

Kita harus hidup dengan konsekuensi pilihan kita sendiri. 

Penulis terkenal yaitu Robert Louis Stevenson mengatakan: “Cepat atau lambat manusia harus menanggung konsekuensi pilihannya sendiri.” 

Demikianlah kitab suci mengajarkan kita. 

Segala pilihan kita ada konsekuensinya yang harus kita tanggung. 

Sebagai makhluk yang sanggup memilih, kita bisa memilih konsekuensi yang akan kita tanggung. 

———————– 

Kejadian pasal 3 menggambarkan krisis ini, ketika pertama kalinya terjadi. 

Kejadian pasal 3 menggambarkan pergumulan kehendak diantara kehendak manusia dengan kehendak Allah pada mulanya agar kita dapat memahami pergumulan yang sama pada waktu sekarang.

Latar belakang krisis seperti yang digambarkan dalam Kejadian pasal 3, kita temukan dalam Kejadian pasal 2:8-9. 

“Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” 

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah apa yang dilakukan Adam dan Hawa di taman Eden? Apa yang dikatakan Kejadian pasal 3? Apa maksudnya? Apa maknanya bagi saya? 

Bertentangan dengan apa yang mungkin pernah anda dengar, Kejadian pasal 3 sama  kali tidak menyebut tentang buah apel.

Saya tidak tahu darimana orang mendapatkan kesan demikian. 

Seperti yang telah kita bahas dalam sesi sebelumnya tentang pasal 1 dan pasal 2 kitab Kejadian tentang penciptaan laki-laki dan perempuan, ketika kita melihat Allah mempersatukan mereka dalam kesatuan seksual yang mereka lakukan menurut Kejadian pasal 3 bukanlah dosa seksual. 

Banyak orang menganggapnya sebagai persetubuhan. 

Sungguh menggelikan. 

Apa yang sebenarnya terjadi? 

Menurut Kejadian pasal 3, di sini kita menemukan kembali prinsip yang mengatakan bahwa suatu kejadian bisa bersifat sejarah dan tanpa menghilangkan sifat sejarah tersebut kejadian tersebut juga bisa mengandung kiasan. 

Jangan takut mendengar kata kiasan. 

Paulus mengatakan dalam Galatia 4:22-24 bukankah ada tertulis bahwa Abraham mempunyai dua anak, ini adalah suatu kiasan.

Jadi Kejadian yang bersifat sejarah juga mengandung kiasan. 

Kalau anda melihatnya dalam kamus, kiasan adalah sebuah cerita di mana orang, tempat dan berbagai hal lainnya mempunyai makna lain, biasanya mengandung pengajaran moral. 

Itulah kiasan.

Dalam pengertian seperti itu, kita melihat kiasan dalam Kejadian pasal 3. 

Coba anda merenungkannya, apakah anda pernah melihat pohon pengetahuan? Apakah anda pernah melihat pohon kehidupan? Apakah anda pernah mendengar suara berjalan atau melihat suara berjalan? 

Semuanya itu adalah lambang dalam Kejadian pasal 3, dalam bahasa kiasan. 

Rasul Paulus pernah mengatakan: “Bangsa yahudi meminta tanda, dan yang Paulus maksudkan adalah bahwa bangsa Yahudi berpikir dengan bahasa tanda yang indah. 

Tentang itulah kitab Wahyu. Itulah bahasa tanda yang terindah yang mungkin anda bayangkan.

Dalam Kejadian pasal 3 kita membaca bahasa tanda. 

Bahasa tanda ini, kiasan ini mengatakan sesuatu yang sangat mendalam tentang krisis pada mulanya dan juga pada waktu sekarang.

———————– 

Dalam Kejadian pasal 2:8-9 kita diberitahu bahwa taman dimana Allah menempatkan manusia pertama itu akan memenuhi kebutuhan sang manusia. 

Niat Allah adalah memenuhi kebutuhan manusia yang ditempatkan nya dalam taman tersebut yaitu melalui pohon-pohon yang ada di sana. 

Pohon-pohon ini digambarkan dari bagaimana pohon-pohon tersebut memenuhi kebutuhan manusia. 

Prioritasnya pun ada. 

Pertama, pohon-pohon ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan mata manusia. 

Kedua untuk memenuhi kebutuhan manusia akan makanan dan ketiga untuk memberi manusia kehidupan 

Akan tetapi ada juga pohon pengetahuan dan manusia dilarang memakan buahnya, itulah yang kita pelajari dalam Kejadian pasal 2:8-9. 

Dalam Kejadian pasal 3 ketika manusia pertama berdosa atau mengikuti jalan mereka sendiri dan tidak melakukan kehendak Allah. 

Tolong anda memperhatikan bahwa urutan prioritas tentang maksud dari pohon-pohon itu dirancukan, diubah. 

Bukan lagi pertama-tama untuk memenuhi kebutuhan mata, kedua untuk memenuhi kebutuhan akan makanan, ketiga untuk kehidupan dan tidak pernah untuk pengetahuan. 

Sebagai gantinya manusia pertama itu memandangnya pertama-tama untuk makanan kedua untuk mata, ketiga untuk pengetahuan dan tidak pernah untuk kehidupan. 

Akibatnya, mereka mendapatkan kematian. 

Apa yang ingin disampaikan kepada kita melalui kiasan ini? 

Menurut saya sudah dijelaskan oleh musa dalam ulangan pasal 8:3 yang oleh Yesus dikutip dalam Matius pasal 4:4 yaitu bahwa manusia hidup bukan dari roti saja melainkan dari segala firman Allah, dengan kata lain firman Allah adalah agar manusia tahu bagaimana seharusnya ia hidup. 

Manusia hidup bukan dari roti saja atau dengan berupaya memenuhi segala kebutuhannya dan berupaya memuaskan segala kebutuhannya. 

Bukanlah demikian seharusnya manusia hidup. 

Apabila manusia benar-benar ingin hidup seharusnya bertanya: “Ya Allah bagaimana pendapatmu tentang hal ini? Apakah ada firmanmu tentang hal ini? Apakah engkau memberikan penyataan atau wahyu bagiku tentang bagaimana seharusnya aku hidup“

—————————

Menurut Musakalau manusia ingin hidup hendaknya ia mengatakan: “ya Allah berilah aku firmanmu tentang kehidupan, maka aku akan mengikuti firmanmu itu”, maka ia akan hidup. 

Dalam Kejadian pasal 2 dan pasal 3 kita sedang diberitahukan sesuatu bukan saja pada mulanya melainkan juga pada waktu sekarang. 

Allah menempatkan manusia di taman itu, artinya Allah menempatkan manusia dalam kehidupan. 

Allah menempatkan kita disini. 

Ketika menempatkan manusia di taman itu, Allah mengatakan :”Aku tahu kebutuhanmu, Akulah yang menciptakanmu dan segala kebutuhanmu sudah tersedia di taman ini”.

Menurut para psikolog kita adalah stasiun central utama kebutuhan. 

Saya mengambil kursus di perguruan tinggi dan tidak pernah menyelesaikannya. 

Salah satu hal yang saya pelajari dari psikologi adalah bahwa kita mempunyai kebutuhan lebih banyak daripada yang mungkin kita bayangkan. 

Segala kebutuhan kita itu dirangkum dalam kisah mengagumkan ini dengan lambang makanan. 

Allah tahu bahwa kita mempunyai kebutuhan ini. 

Dan ketika menempatkan manusia di taman itu, Allah mengatakan: “Aku tahu kamu mempunyai kebutuhan yang dilambangkan dengan makanan, kalau engkau mendahulukan penyataan atau wahyu ku, pohon yang memenuhi kebutuhan matamu itu baru menafsirkan kebutuhan akan makanan, maka engkau akan mempunyai kehidupan.”

Sayangnya, bukan demikian yang dilakukan manusia pertama itu. 

Mereka justru mendahulukan kebutuhan mereka akan makanan, baru kebutuhan mata mereka sehingga tidak pernah mendapatkan kehidupan. 

Ketika kitab suci menyinggung mata, seringkali yang dimaksudkan bukanlah mata harafiah. 

Dalam matius pasal 6:22-23 yang merupakan bagian dari khotbah di bukit, Yesus mengatakan: “Mata adalah pelita tubuh, jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” 

Saya percaya bahwa yang Yesus maksudkan bukanlah mata harafiah, melainkan bagaimana manusia memandang segalanya. 

Demikianlah pertanyaan terpenting bagaimana anda memandang segalanya. 

kita semua mempunyai sistem nilai. 

Kita semua mempunyai apa yang disebut sebagai cara berpikir. 

Sekarang ini kita sangat menekankan cara berpikir. 

Bagaimana cara berpikir anda, bagaimana anda memandang kehidupan, bagaimana anda memandang segalanya? 

Yesus mengatakan demikianlah perbedaan antara tubuh yang dipenuhi terang yang membawakan kehidupan dengan tubuh yang dipenuhi gelap. 

Kalau cara anda memandang segalanya adalah utuh, maka tubuh anda dipenuhi dengan terang. 

Akan tetapi kalau cara anda memandang segalanya tidak utuh maka seluruh kehidupan anda dipenuhi dengan gelap.

Demikianlah Allah menempatkan manusia di taman itu dan mengatakan: “Aku tahu segala kebutuhanmu, percayalah bahwa kebutuhanmu yang terbesar adalah penyataan atau wahyu dari-Ku.”

————————–

Sebelum mengakhiri program hari ini, saya ingin memberi Anda penugasan. 

Coba Anda membayangkan Allah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kita temukan dalam Kejadian pasal 3. 

Bangunlah lebih pagi dan bersaat teduhlah kira-kira 1 jam.

Dalam saat teduh tersebut, coba anda membayangkan Allah bertanya kepada anda, di manakah engkau? 

Lalu jawablah dalam hati. 

Dengan cara yang sama biarlah Allah bertanya, apakah engkau makan dari pohon yang keliru? Apa yang telah engkau lakukan? Siapakah yang memberitahukannya kepadamu? Apakah engkau mendengarkan dunia atau mendengarkan Aku? 

Dengan demikian Anda memulai dialog Allah.

Bagian 2

Kita fokus pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Allah kepada manusia pertama di Taman Eden. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kita temukan dalam kitab Kejadian pasal 3. 

Pertanyaan Allah yang pertama adalah dimanakah engkau? 

Pertanyaan itu sangat mendalam. 

Mungkin anda pernah mendengar tentang pemuda yang memasuki sebuah rumah secara ilegal, tiba-tiba pemilik rumah tersebut pulang. 

Pemuda tadi terjebak dalam kamar, ia tidak tahu harus bagaimana, maka ia masuk ke dalam lemari pakaian dan menutup pintunya. 

Ketika pemilik rumah melihat bahwa rumahnya telah dimasuki pencuri, ia teringat akan pakaiannya maka ia langsung membuka lemari pakaiannya dan tampaklah sang pencuri. 

Ia sangat terkejut lalu bertanya, sedang apa kamu di sini? 

Dan sang pemuda menjawab: “semua orang juga pasti berada di suatu tempat entah dimana.” 

Cerita ini mengandung lebih banyak kebenaran daripada humor, yaitu semua orang juga pasti berada di suatu tempat entah dimana.

Ketika Allah memulai dialognya dengan manusia pertama, dengan menanyakan “dimanakah engkau?”, Allah sedang berusaha menyampaikan pesan bahwa manusia pertama itu berada bukan di tempat yang seharusnya. 

Itulah sebabnya Allah menanyakan: “Dimanakah engkau?” 

Semua orang juga pasti berada di suatu tempat entah dimana. 

Setiap orang seharusnya berada di suatu tempat entah dimana. 

Akan tetapi, di manakah kita? 

Jangan pernah melupakan bahwa kitab Kejadian menjelaskan segala sesuatu pada mulanya dengan maksud agar kita memahami segala sesuatu pada waktu sekarang.

Dalam hal ini Kejadian pasal 3 sedang menggambarkan komunikasi dengan Allah, di mana Allah selalu menjadi inisiator komunikasi ini. 

Apakah anda pernah mendengar suara Allah menanyakan dimanakah engkau? 

Sekarang ini kita menyebutnya krisis identitas. 

Entah sudah seberapa sering anda mendengar orang mengatakan: “Rasanya saya bukan berada di tempat yang seharusnya, rasanya Allah menghendaki saya melakukan pekerjaan lain atau di tempat lain.”

————————-

Pertanyaan tersebut menuntun kepada pertanyaan berikutnya, yaitu siapa yang memberitahukannya kepadamu? 

Ketika Allah menanyakan: “Dimanakah engkau?”, jawaban manusia pertama adalah: “aku mendengar suaramu aku tidak terlalu jauh darimu sampai tidak mendengar suaramu, akan tetapi ketika aku mendengar suaramu aku menjadi takut sebab, aku tahu bahwa kalau aku terus mendengarkan suaramu ketelanjangan ku akan terlihat, aku tidak mau ketelanjangan ku terlihat, maka aku bersembunyi.”

Banyak psikiater mengatakan bahwa hal itu sangat menjelaskan sifat manusia. 

Seorang ahli terapi yang terampil akan berusaha membimbing orang untuk melihat kebenaran yang harus mereka kenal agar terbebas dari masalah mereka. 

Para ahli terapi mengatakan bahwa orang paling tidak mau menghadapi kebenaran, padahal kebenaran itulah yang akan membebaskan mereka. 

Itulah sebabnya mereka bersembunyi. 

Kita bersembunyi dengan berbagai cara. 

Mungkin kita bekerja terlalu banyak, mungkin kita bermain terlalu banyak, mungkin kita tidur terlalu banyak, mungkin kita makan terlalu banyak, kita melakukan berbagai hal terlalu banyak. 

Kita minum terlalu banyak, kita makan obat terlalu banyak, segalanya demi bersembunyi, berusaha bersembunyi dari Allah yang mengasihi kita dan yang sedang berusaha menempatkan kita dimana kita seharusnya berada.

Ketika Allah menanyakan “Dimanakah engkau?”, mungkin kita dapat menjawab: “Aku mendengar suaramu aku ketakutan sebab ketelanjangan ku akan terlihat, maka aku bersembunyi.” 

Pertanyaan kedua adalah pertanyaan kesukaan saya; “Siapa yang memberitahukan kepadamu?” 

Ketika manusia pertama itu mengatakan aku telanjang. Allah menanyakan siapa yang memberitahukan kepadamu? 

Dalam Kejadian pasal 3:7, setelah mereka makan buah terlarang, dikatakan : “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang.” 

Allah belum mulai berbicara kepada mereka, namun mereka tahu bahwa mereka telanjang. 

Mengacu kepada hal tersebut, Allah bertanya: “Siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa kamu telanjang?” 

Saya percaya bahwa yang dimaksudkan dengan pertanyaan kedua bukanlah bahwa kita mendengar suara-suara. 

Ketika anda mengatakan Allah mengatakan kepada saya, jangan-jangan seseorang akan bertanya apakah suara Allah itu maskulin atau feminin? Tinggi atau rendah? Bass atau sopran? 

Anda tidak bersungguh-sungguh ketika mengatakan anda mendengar suara-suara.

Mungkin lebih baik kita tidak mendengar suara-suara, apakah mungkin kita mendapatkan keyakinan bahwa Allah yang mengatakannya kepada kita.  

Sungguh menarik, bahwa dalam bahasa Ibraninya, pertanyaan Allah yang kedua, “siapa yang membuatmu mengetahui hal itu?” 

Apakah mungkin kita mendapatkan keyakinan bahwa Allah membuat kita mengetahui sesuatu? 

Jelas sangat mungkin. 

Saya pernah menjadi pendeta sebuah gereja di sebuah kota angkatan laut selama bertahun-tahun. 

Maka saya merasa seolah-olah saya ini pendeta angkatan laut. 

Saya pernah mendengar banyak cerita perang dan saya akan menggunakannya untuk memberikan ilustrasi. 

Saya pernah mendengar cerita tentang konvoi kapal yang bertemu secara rahasia pada awal tahun 1940-an. 

Misi dan tujuan mereka dirahasiakan, tidak seorang pun mengetahuinya. 

Di dalam brankas kapal utamanya terdapat perintah-perintah yang di materai kan, seharusnya pada hari ketiga di laut sang kapten kapal utamanya harus membuka perintah-perintah bermaterai tersebut dan barulah konvoi mereka mengetahui apa misi mereka. 

Ternyata pada hari kedua mereka di laut, terjadilah badai. Pada hari ke-3 di laut, konvoi mereka sudah tersebar di laut. 

Ada sebuah kapal kecil yang terpisah sendiri. 

Awaknya tidak melihat kapal amerika mana pun. 

Setelah kira-kira 1 jam, mereka melihat sebuah kapal pesiar amerika.

Maka kapal kecil tadi memberikan sinyal kepada kapal pesiar ini. Dimanakah kami berada? 

Ingin menggoda, kapal pesiar tersebut menjawab: “Anda dari mana?” 

Maka kapal kecil tadi menjawab: “Itu rahasia.” 

Lalu kapal pesiar tersebut menjawab: “Anda mau kemana?” Dan kapal kecil tadi menjawab: “Kami pun tidak tahu.”

Setelah lama tidak menjawab, akhirnya kapal pesiar itu menjawab: “Kalau anda tidak tahu anda dari mana dan anda tidak tahu mau ke mana, anda tidak perlu tahu anda berada di mana.”

Salah satu masalah besar yang digambarkan dalam kitab Kejadian pada mulanya adalah masalah Arah. 

Dulu ada masanya ketika kita mengenal apa yang disebut sebagai prinsip-prinsip moral yang mutlak. 

Lalu kita menyingkirkan prinsip-prinsip moral yang mutlak tersebut dan menggantikannya dengan etika situasional di mana segalanya adalah relatif tergantung situasinya. 

Saya masih teringat ketika masih kecil, saya selalu diajarkan prinsip-prinsip moral yang mutlak.

Setelah menjadi pendeta dan memberikan konseling kepada muda-mudi, saya menemukan ternyata banyak muda-mudi yang tidak mengenal prinsip prinsip moral yang mutlak. 

Tanpa prinsip-prinsip moral yang mutlak, mereka tidak tahu dari mana mereka datang, mereka tidak tahu mereka mau kemana, dan yang jelas mereka tidak tahu dimana mereka berada. 

Pertanyaan kedua, “Siapa yang memberitahukannya kepadamu?”, mengingatkan saya akan satu lagi cerita yaitu tentang kapal-kapal inggris yang sedang bermanuver. 

Kapal utama dalam konvoi mereka mensinyalkan agar mereka berbelok ke kanan, namun salah satu kapal  mereka tidak menangkap sinyal tersebut sehingga keluar dari barisan. 

Maka sang kapal utama memberikan sinyal apa niatmu yang merupakan sinyal standar angkatan laut.

Sang Kapten kapal yang keluar dari barisan tersebut menjawab: “Niat saya adalah membeli ladang”.

Ia tahu bahwa ia kurang berprestasi di angkatan laut. Oleh karenanya ia mau mengundurkan diri dari angkatan laut dan membeli ladang.

Penerapan cerita tersebut karena semua cerita saya ada penerapannya adalah bahwa menurut kitab suci jemaat Yesus Kristus atau tubuh kristus, umat Allah dalam perjanjian lama maupun jemaat kristus dalam perjanjian baru semuanya adalah ibarat konvoi kapal yang sedang melaut di dunia ini.

———————–

Dipusat konvoi besar ini, terdapat kapal utama yang adalah Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati. 

Yesus yang oleh perjanjian lama dijanjikan akan datang dan yang oleh perjanjian baru dinyatakan telah datang, Yesus kristus ini hidup. 

Ia bangkit dari antara orang mati dan sekarang hidup sebagai pusat konvoi. 

Ia terus mengirimkan sinyal kepada kita masing-masing. 

Saya percaya bahwa orang-orang yang lain daripada yang lain dalam tubuh Kristus menjadi demikian, karena mereka menangkap sedikit sinyal. 

Kalau anda melewatkan beberapa sinyal anda tidak perlu membeli ladang atau meninggalkan iman. 

Sebab seandainya pun anda melewatkan beberapa sinyal, karya Allah akan tetap sinkron sempurna, namun anda akan berputar-putar di luar formasi. 

Moral ceritanya adalah begini. 

Arahkanlah mata kepada kapal utama anda, tangkaplah sinyal-sinyal dari Allah sebagaimana maksud pertanyaan pertama “di manakah engkau?”, adalah bahwa manusia tersesat dan hal pertama yang harus diketahui manusia yang tersesat adalah kesadaran bahwa dirinya tersesat.

Allah mau manusia yang tersesat menyadari bahwa dirinya tersesat. 

Itulah sebabnya ia menanyakan di mana engkau? 

Sadarkah Anda bahwa anda sangatlah tersesat? 

Bukan pada mulanya saja manusia tersesat, melainkan juga pada waktu sekarang. 

Maksud pertanyaan kedua adalah apa yang kita sebut sebagai bimbingan ilahi? 

Allah mau menyampaikan kebenaran besar kepada kita. 

Allah mau manusia tersesat menyadari bahwa dirinya tersesat. 

Selain itu Allah juga mau mengarahkan langkah-langkah manusia yang tersesat. 

Aku akan berkomunikasi denganmu, Aku sanggup membuatmu mengetahui hal-hal tertentu. 

Ada suatu tempat dimana seharusnya engkau berada, dan apabila engkau sungguh ingin mengetahuinya, sungguh ingin berada di sana, Aku akan memberitahukannya kepadamu. Aku akan membuatmu mengetahui dimana seharusnya engkau berada.

Pertanyaan berikutnya adalah “Apakah engkau makan dari buah pohon yang Kularang engkau makan itu?” 

Kalau anda sedang menanggung konsekuensi, kalau kehidupan anda tidak membahagiakan, coba anda bertanya kepada diri sendiri. 

Apakah hal itu karena anda tidak mengetahui cetak biru Allah, mengabaikan cetak biru Allah atau memberontak terhadap cetak biru Allah? 

Maksud cetak biru adalah agar kita mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan. 

Itulah sebabnya Allah berkomunikasi dengan kita, itulah sebabnya Allah memberitahukan urutan prioritasNya. 

Apabila engkau mengikuti prioritasKu, engkau akan mempunyai hidup. Engkau akan mempunyai pohon kehidupan. 

Adam dan Hawa tidak mengikuti prioritas Allah, maka mereka tidak pernah mendapatkan kehidupan, tetapi mereka mendapatkan kematian. 

Demikianlah penggambaran tentang manusia pada mulanya dan pada waktu sekarang termasuk kita. 

Itulah sebabnya kita perlu datang kepada firman Allah dan menekuninya bukan agar menjadi sarjana alkitab, melainkan agar kita mengenal Allah, mengenal kehendakNya bagi kehidupan kita dan sungguh berada di tempat dimana Allah menghendaki kita masing-masing berada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s