Dimana Saudaramu? (OTS07)

Bagian 1

Dalam sesi ini kita akan melanjutkan studi tentang kitab Kejadian, kitab pertama dari 66 kitab yang terdapat dalam Alkitab.

Kita telah mulai studi kita dengan garis besar kitab ini, kita telah melihat beberapa hal pertama yang disebutkan dalam kitab Kejadian. 

Sekarang, kita sampai kepada pasal 4 dan saya ingin kembali menyinggung tentang maksud dituliskannya kitab Kejadian. 

Tolong anda memelihara perspektif ini. 

Kitab Kejadian yang berarti PERMULAAN ditulis untuk menjelaskan segalanya pada mulanya bukan karena Allah merasa wajib untuk menjelaskannya melainkan karena Allah mau kita menjadi memahami segalanya pada waktu sekarang.

Demikian banyak hal dalam kitab Kejadian yang digambarkan dengan cara demikian. 

Allah mau kita memahami pernikahan pada waktu sekarang, itulah sebabnya Allah menjelaskan pernikahan pada mulanya.

Allah mau kita memahami krisis dosa pada waktu sekarang, maka dalam pasal 3 Allah menjelaskan krisis dosa pada mulanya. 

——————————

Dalam bagian kedua pasal 3 kita juga diberi tahu tentang komunikasi di antara Allah dengan manusia pertama, untuk menggambarkan bagaimana Allah akan berkomunikasi dengan kita pada waktu sekarang. 

Begitu manusia pertama itu jatuh ke dalam dosa, Allah digambarkan mencarinya dan berkomunikasi dengannya, menanyakan: “Di manakah engkau dan siapa yang memberitahukannya kepadamu?” 

Seperti yang kita lihat, seharusnya kita menyadari bahwa Allah mau kita memahami hal yang sama pada waktu sekarang, yaitu bahwa Allah tetap mencari kita dan tetap berkomunikasi dengan kita pada waktu sekarang. 

Seandainya kita sungguh memahami hal ini, kita akan memahami banyak pengalaman hidup kita, terutama apa yang kita sebut sebagai pengalaman tragis atau krisis. 

Demikian banyaknya pengalaman tragis atau krisis ini sesungguhnya adalah soal Allah mencari kita, berusaha menarik perhatian kita, berusaha berkomunikasi dengan kita, berusaha menjadikan kita merenungkan dimana kita berada. 

Beberapa tahun yang lalu saya mengenal seorang pria yang menjadi kapten skuadron pesawat dalam angkatan laut. 

Pria ini bercerita tentang kompas yang ia ajarkan kepada seluruh pilotnya yang terbang dari kapal induk. 

Ketika mereka sedang di laut mereka sering tersesat ketika sedang terbang. 

Maka sang kapten mengajarkan kompas 5 poin ini. 

Ia mengatakan: “Setiap kali kalian curiga kalian tersesat, ingatlah kompas 5 poin ini. Katakanlah begini kepada diri sendiri, dengan menghitung jari pada tangan kanan kalian. Jari pertama pada kompas ini atau poin pertama pada kompas ini adalah PENGAKUAN. Akui-lah bahwa kalian tersesat. Sehebat apapun pesawat yang diterbangkan, selama kalian tidak segera mengakui bahwa kalian tersesat, kalian akan semakin tersesat. Jadi poin pertama pada kompas ini adalah pengakuan.” 

“Point kedua adalah MENDAKI. Saya mengira hal itu adalah karena mereka akan jatuh lebih tinggi seandainya mereka kehabisan bahan bakar. Ternyata mereka diajarkan untuk mendaki, karena semakin tinggi ketinggian yang mereka capai bahan bakar mereka justru lebih hemat dan komunikasi lebih jelas.”

“Point ketiga adalah MENGHEMAT, yaitu menghemat bahan bakar. Ia mengatakan bahwa salah seorang pilotnya mengirimkan pesan kepada pesawat induknya dan mengatakan: ‘Saya tersesat entah di mana di atas Pasifik barat daya, namun waktu saya sempurna.’ Padahal tersesat bukanlah saatnya mempersoalkan waktu yang sempurna.” 

Jadi poin ke-3 pada kompasnya adalah: begitu mencapai ketinggian ideal, hematlah bahan bakar. 

2 poin terakhir pada kompasnya adalah yang terpenting. 

Point keempat adalah BERKOMUNIKASI yaitu berhubungan dengan kapal induk yang akan tampak seperti perangko ketika pada akhirnya mereka melihatnya. Berkomunikasilah dengan kapal induknya. 

Dan point ke-5 pada kompas ini adalah MEMATUHINYA; yaitu mematuhi komunikasi dengan kantor pusat.

Demikianlah MENGAKUI, MENDAKI, MENGHEMAT, BERKOMUNIKASI dan MEMATUHI. 

Itulah kompas yang diajarkan kepada para pilot jet yang akan membantu mereka kembali ketika mereka tersesat. 

Dalam bagian kedua kejadian pasal 3, demikianlah petunjuk yang Allah gambarkan pada mulanya agar kita memahami petunjuk yang Allah gambarkan pada waktu sekarang.

Allah mau kita mempunyai kompas rohani dan ketika kita tersesat, seperti Adam dan Hawa tersesat, Allah mau kita mengakui bahwa kita tersesat.

Lalu Allah mau kita mendaki atau menuju ke arah-Nya. 

Maka kita akan menemukan bahwa Allah pun menuju ke arah kita. 

Hendaknya kita menghemat atau bersikap hati-hati ketika tersesat, jangan mengambil keputusan-keputusan besar ketika anda curiga anda tersesat.

————————- 

Dalam kejadian pasal 3 anda membaca tentang konsekuensi positif seperti saat Allah mencari kita berusaha menyelamatkan kita dan anda juga membaca tentang konsekuensi nubuatan misalnya dalam kejadian pasal 3 ayat yang ke-15, anda membaca nubuat pertama tentang Mesias. 

Kita tidak perlu menunggu hingga kita membaca kejadian pasal 12 dan kisah tentang Abraham mulai mendengar tentang rencana keselamatan atau penebusan Allah. 

Dalam kejadian pasal 3 ayat yang ke-15, Allah sudah menjelaskan rencana besarnya ketika Ia berbicara kepada ular itu akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya, keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya.

Itulah nubuat tentang mesias di mana Allah akan mendatangkan seseorang ke dunia ini untuk meluruskan segalanya dan ini adalah salah satu konsekuensi nubuat tentang kejatuhan manusia.

Tentunya ada banyak konsekuensi negatif bagi perempuan maupun yang laki-laki, akan tetapi yang paling parah adalah apa yang kita sebut perceraian dari Allah. 

Adam dan Hawa diceraikan dari Allah, diusir dari Taman Eden. 

Penerapannya pada waktu sekarang mungkin begini: “Kalau engkau tidak belajar mendahulukan Firman-Ku dan menafsirkan segala kebutuhanmu menurut Firman-Ku. Kalau engkau tidak menyadari bahwa engkau hidup dari setiap Firman yang Kuberikan kepadamu engkau akan diusir dari planet ini.” 

Menurut saya penafsiran itu sangat mungkin bahkan di zaman kita.

Pada akhir kejadian pasal 3 kita diberitahu bahwa beberapa kerup dengan pedang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Banyak yang menganggap bahwa pedang bernyala-nyala itu menggambarkan Yesus Kristus, Firman yang hidup. 

Sebab hanya Dia satu-satunya jalan menuju pohon kehidupan tersebut. 

Yesus sendiri mengatakan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” 

Pedang bernyala-nyala itu juga bisa menggambarkan Firman Allah,  sebab iman datang melalui pendengaran akan Firman Allah. 

Jadi Firman Allah juga satu-satunya jalan menuju ke pohon kehidupan.

———————————-

Dalam Kejadian pasal 4 kita membaca tentang satu lagi konsekuensi dosa, dimana digambarkan konflik pada mulanya karena Allah mau kita memahami konflik pada waktu sekarang. 

Kita konflik dengan diri sendiri, dengan pasangan kita, dengan anak-anak kita, dengan orang tua kita. 

Ada konflik diantara buruh dengan manajemen. Semua orang terus saja mogok, tentu ada juga konflik internasional di antara bangsa-bangsa.

Konflik adalah salah satu masalah besar kita. 

Dalam Kejadian pasal 4 Allah memberi kita beberapa faktor kunci yang menimbulkan konflik dan beberapa solusi yang dapat menyelesaikan konflik.

Ia memberikannya melalui kisah tentang kakak beradik yaitu Kain dan Habel.

Sebagai petani, pengolah tanah, Kain memberikan persembahan berupa hasil bumi bagi Allah.

Sebagai gembala, Habel memberikan persembahan berupa domba. 

Kalau kita membacanya dengan saksama Allah tidak berkenan kepada Kain sebagai individu. Kain tidak diterima oleh Allah oleh karenanya Allah juga tidak menerima persembahan Kain.

Di lain pihak Allah berkenan kepada Habel, Habel diterima oleh Allah. Oleh karenanya Allah juga menerima persembahan Habel.

Banyak orang menganggap bahwa Allah tidak berkenan kepada kain karena kain tidak memberikan persembahan berupa hewan, padahal tidak ada ayat yang mengatakan demikian.

Dalam hal ini kami ingin memperkenalkan 2 kata dalam bahasa Yunani. 

Yang pertama adalah Exegesis yang artinya mengeluarkan dari sebuah ayat kitab suci segala yang terkandung di dalam ayat tersebut.

Anda masuk seminari dan mempelajari bahasa Yunani, sebab anda akan menjadi seorang sarjana Alkitab atau pendeta.

Tahun pertamanya anda belajar tata bahasa Yunani, kalau anda mengikuti 4 tahun kursus bahasa Yunani 3 tahun berikutnya adalah Exegesis. Artinya anda akan mempelajari kitab suci dan menafsirkan kitab suci.

Exegesis maksudnya adalah ketika anda menemukan sebuah ayat kitab suci dalam bahasa Yunani anda berusaha mengeluarkan segala yang terkandung dalam ayat tersebut. 

Ex artinya keluar, Exegesis artinya mengeluarkan segala yang terkandung di dalam ayat tersebut. 

Sebuah kata yang merupakan lawan kata dari Exegesis dalam bahasa Yunani adalah Eisegesis 

Kata Eis adalah lawan kata dari Ex. 

Eis artinya kedalam. 

Jadi eisegesis artinya memasukkan sesuatu yang belum ada ke dalam sebuah ayat kitab Suci. 

Dalam hal ini aturan untuk studi Alkitab adalah: “Jangan pernah memasukkan sesuatu yang tidak ada ke dalam sebuah ayat kitab Suci.”

Kita telah melihat contoh-contohnya dalam kisah Penciptaan dalam kitab Kejadian, dimana banyak ilmuwan mengatakan bahwa ada bencana di antara Kejadian pasal 1:1, dengan Kejadian pasal 1:2, padahal tidak ada.

Demikianlah yang dimaksudkan dengan memasukkan sesuatu yang tidak ada. 

Ketika sampai ke kisah Kain dan Habel. Orang juga mudah memasukkan sesuatu yang tidak ada. 

Padahal Kain tidak diperintahkan untuk membawakan persembahan berupa hewan. 

Dalam kitab imamat Bangsa Israel diperintahkan untuk membawakan persembahan berupa gandum dan hasil bumi seandainya itu yang mereka hasilkan. 

Jadi bukan persembahan Kain yang menjadi masalah melainkan orangnya sendiri.

Dalam Ibrani pasal 11, ada penjelasan tentang kisah Kain dan Habel, dimana dikatakan bahwa Habel melalui persembahannya memberikan kesaksian bahwa dirinya benar. 

Sebab Allah jauh lebih mengutamakan orangnya daripada persembahannya.

Dengan kata lain, Kain adalah orang yang tidak dapat diterima oleh Allah. 

Dalam hal ini memang kita tidak diberitahu mengapa Kain tidak dapat diterima oleh Allah, hanya Allah saja yang tahu. 

Sedangkan Habel adalah orang yang dapat diterima oleh Allah, wajar kalau Allah tidak berkenan terhadap persembahan orang yang tidak dapat diterimaNya. 

Lalu dikatakan bahwa orang yang tidak dapat diterima Allah ini menjadi marah dan depresi.

Sayang waktunya habis sebagai tugas silahkan membaca kisah tentang Kain dan Habel ini.

Coba anda berusaha menemukan penerapannya bagi orang yang hidup dalam amarah dan depresi. 

Sambil membacanya, tanyakanlah kepada diri sendiri: “Apa yang dikatakan kisah ini? Apa maksudnya? Apa maknanya bagi saya?” 

Kalau anda diliputi amarah atau depresi atau keduanya, coba anda melihat apakah anda akan terbantu setelah membaca kisah Kain dan Habel ini.

 

BAGIAN 2

Dan sekarang ini sampai kepada Kejadian pasal 4. 

Saya meminta anda menjajaki apakah anda dapat menemukan penerapan dari kisah tentang Kain dan Habel untuk membantu anda atau orang-orang yang anda kenal, yang sedang menghadapi masalah amarah dan depresi.

Martin Luther mengatakan bahwa sebagian besar dosa itu kembar, dan saya mengira bahwa para ahli terapi juga akan mengatakan bahwa amarah dan depresi pun kembar. 

Orang yang pemarah biasanya depresi. 

Kain sangat marah dan sangat depresi.

Lalu alkisah, Kain menyerang Habel sampai mati dan Allah turun tangan serta kembali bertanya persis seperti yang dilakukan Allah dalam kejadian pasal 3.

Allah datang kepada orang yang tidak dikenalnya yaitu Kain yang marah dan menanyakan: “Dimanakah adikmu? Apakah yang telah kau perbuat ini?” 

Khususnya dalam ayat 7, Allah menanyakan: “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”

—————————–

Apa yang dikatakan kisah ini kepada kita?

Saya percaya bahwa kisah ini memberi kita pesan yang sangat dinamis. 

Apakah anda seorang pemarah? Apakah anda depresi? 

Ketika anda marah, apakah anda depresi? 

Setiap kali anda marah, seharusnya anda menanyakan: “Mengapa aku marah? Apa sumber amarahku? dan apa sesungguhnya objek amarahku?” 

Seringkali orang yang diserang  seperti habel bukan objek amarah yang sesungguhnya. 

Kebetulan saja Habel lewat. 

Saya masih ingat ketika saya mendengar seorang psikolog kristiani di sebuah seminar bagi para istri. 

Seorang wanita menceritakan masalahnya: “Anak-anak yang masih kecil pokoknya membuat saya gila.” 

Dan seorang dokter mengatakan: “Berapa usia anak-anak anda?” 

Ia menjawab: “5 tahun dan 3 tahun” 

Dan sang dokter mengatakan: “Wah, besar sekali tanggung jawab yang ada bebankan kepada anak-anak berusia prasekolah itu.” 

Wanita ini heran “Tanggungjawab apa?” 

Sang dokter mengatakan: “Tanggung jawab atas suasana emosional anda. Kapan anda akan senang atau sedih atau marah tergantung pada mereka. Mereka menjadikan anda marah. Izinkan saya bertanya apakah anak-anak tersebut membangkitkan amarah yang sudah ada atau apakah mereka menanamkan amarah ke dalam hati anda?” 

Maka segeralah wanita ini menyadari bahwa anak-anaknya bukan menanamkan amarah ke dalam hatinya. 

Mereka hanya membangkitkan amarah yang sudah ada. 

Sesungguhnya wanita ini mungkin marah kepada suaminya, namun tidak sanggup melampiaskan amarahnya terhadap suaminya. 

Apa objek amarah anda? Apa sumber anda yang sesungguhnya?

Saya percaya bahwa Allah mengajukan pertanyaan ini untuk membantu Kain menemukan jawabannya dan untuk membantu kita menemukan jawabannya. 

Amarah adalah akar dari demikian banyak konflik. 

Allah menanyakan: “Dimana saudaramu itu?” 

Tolong anda memperhatikan bahwa dalam kejadian pasal 3 Allah menanyakan: “Dimanakah engkau?” 

Dalam kejadian pasal 4 Allah menanyakan: “Dimanakah saudaramu itu?”

Saya percaya bahwa yang Allah coba dari Kain sadari adalah begini; “Tidak ada yang salah pada saudaramu, tidak ada yang salah pada Habel. Dimanakah saudaramu itu? Ia seorang warga yang taat, ia adalah orang yang berkenan. Ia adalah orang yang baik, lalu mengapa engkau marah terhadap Habel dan mengapa engkau membunuh Habel? Apa yang telah kau perbuat ini?”

Dinamika seperti apa yang terjadi disini? 

Saya percaya bahwa ayat 7 adalah kunci bagi keseluruhan kisah ini sebab sekaligus memberikan solusi bagi masalah konflik. 

Pada dasar konfliknya, anda menemukan orang yang marah dan anda akan menemukan dinamika amarahnya

Hal ini bukanlah sekedar menganalisa amarahnya, sehingga anda mengerti mengapa anda marah.

Anda masih marah, anda sungguh menginginkan solusi bagi amarah anda, dan solusinya adalah begini: “Jika anda melakukan kebenaran, apakah anda akan menjadi orang yang berkenan?” 

Jika anda melakukan kebenaran, anda akan diterima oleh Allah, oleh diri sendiri dan anda tidak perlu lagi menjalani kehidupan memukuli Habel-Habel dunia ini sampai mati 

Yesus mengatakan hal yang sama dalam matius pasal 7.

Saya selalu mengacu pada perjanjian baru sebab dalam Perjanjian Baru kita sering menemukan apa yang menyatukan Alkitab. 

Saya percaya bahwa Yesus sedang membicarakan hal yang sama persis ketika Ia mengatakan, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Matius 7:1-5)

——————–

Banyak orang menganggap bahwa yang Yesus maksudkan disini adalah jangan menghakimi titik, padahal bukan. 

Sesungguhnya Yesus sedang menanyakan: “Mengapa engkau bersikap menghakimi, bersikap sangat kritis? Mengapa engkau selalu memandang ke sekeliling seolah-olah Allah telah memanggilmu untuk mencari pemeriksa selumbar di mata saudaramu?”

Seolah-olah keseluruhan pelayananmu adalah menemukan selumbar di mata saudaramu padahal ada balok di dalam matamu. 

Sungguh menggelikan.

Yesus mengajukan 2 pertanyaan: “Mengapa engkau bersikap sangat kritis dan bagaimana mungkin engkau berharap efektif selama masih ada balok di dalam matamu sendiri?” 

Lalu solusi yang diberikan Yesus adalah: “Keluarkanlah dulu balok dari matamu itu, pecahkanlah dulu masalahmu sendiri, baru engkau akan melihat dengan jelas untuk membantu saudaramu mengeluarkan selumbar dari matanya.”  

Sesungguhnya Yesus bukan mengatakan jangan menghakimi, melainkan justru silahkan mengakhiri. 

Akan tetapi sebelum menghakimi, hakimilah dirimu sendiri.

Pecahkanlah dulu masalah dirimu sendiri, maka engkau tak akan terlalu kritis terhadap sesamamu.

Demikianlah juga yang dikatakan Allah kepada Kain dalam Kejadian pasal 4. 

Kalau saja engkau melakukan kebenaran, engkau akan menjadi orang yang dapat diterima Tuhan. 

Sesungguhnya, itulah inti masalahnya.

Para Psikolog menyebut apa yang dilakukan Kain itu sebagai proyeksi. 

Kepada siapa sesungguhnya kain marah? 

Mungkin kepada dirinya sendiri, ia tidak dapat diterima dan oleh karenanya ia marah. 

Kain mempunyai dua pilihan. 

Ia mungkin melakukan kebenaran atau ia mungkin memproyeksikan amarahnya kepada orang lain. 

Memproyeksikan amarahnya atas diri sendiri, kepada Habil-Habil lainnya, lalu memukuli mereka sampai mati. 

Kain mempunyai pilihan itu. 

Kita semua mempunyai pilihan yang sama. 

Yang ingin Allah sampaikan kepada Kain adalah: “Keluarkanlah dulu balok dari matamu sendiri, jadilah dapat diterima oleh dirimu sendiri, maka engkau takkan menghakimi atau terlalu kritis.”

Saya pernah mendengar kisah tentang dua orang Psikiater yang berpraktik di gedung yang sama. 

Mereka sama-sama menggunakan kereta bawah tanah sebagai sarana transportasi, mereka sama-sama datang ke gedung tersebut setiap harinya dan sama-sama naik lift. 

Yang satu selalu keluar dari lift pada lantai ke-6, sedangkan yang lain pada lantai ke-10. 

Demikianlah yang terjadi setiap harinya. 

Pada suatu pagi, begitu lift-nya sampai di lantai ke 6, sebelum keluar, Psikiater yang satu berbalik lalu meludah kepada yang Psikiater lain. 

Psikiater yang baru diludahi, menyeka wajahnya tanpa mengatakan apapun. 

Keesokan paginya hal yang sama terjadi lagi. 

Demikian hal yang sama terjadi 4 hari berturut-turut. 

Pada hari yang ke-4 sang petugas lift bertanya kepada Psikiater yang akan naik lantai 10: “Apakah anda tidak akan melakukan apapun tentang hal itu?” 

Dan sang Psikiater menjawab: “Hal itu adalah masalahnya sendiri, ia suka meludahi orang-orang. Hal itu bukan masalah saya. Mungkin saya mempunyai banyak masalah, namun saya tidak meludahi orang-orang.” 

————————-

Dalam Kejadian pasal 6 hingga pasal 9, kisah tentang air bah, kita juga mempelajari sesuatu tentang karakter Allah. 

Ketika membacanya, coba anda menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut: “Apakah Allah pribadi sifatnya?” “Apakah Allah emosional?” “Apakah Allah merasakan apapun?” 

Kita semua percaya bahwa Allah adalah kasih dan kita menyukai hal itu. 

Hal itu menyukakan kita, akan tetapi sesungguhnya kita harus bertanya: “Apakah karakter Allah dalam kemajemukan dari segala ciri yang positif? Apakah Allah mempunyai hanya satu ciri atau banyak ciri? Kalau Allah mempunyai kapasitas untuk mengasihi, apakah Allah mempunyai kapasitas untuk memurkai?” 

Saya masih teringat, mendengar kisah tentang seorang pria yang adalah seorang ayah yang pengasih, yang lembut. 

Seorang pria yang sangat sakit jiwanya, menghancurkan hidup putrinya yang berusia 7 tahun. 

Putrinya itu merupakan kesayangan sang Ayah. 

Ketika pria yang memperkosa putrinya itu dibawa ke kantor polisi, dibutuhkan semua petugas polisi yang ada ketika itu untuk mengekang sang ayah dari menghajar pria tersebut. 

Karena ia seorang ayah yang pengasih, yang lembut, ia juga mempunyai kapasitas untuk menunjukkan amarah murkanya terhadap apapun yang menghancurkan orang yang dikasihinya. 

Dalam kisah tentang air bah, demikianlah yang kita lihat tentang karakter Allah. 

Allah mengasihi manusia. 

Ketika Ia melongok ke bawah, Ia melihat dosa dan kuasa jahat menghancurkan objek kasihnya dan menghancurkan rencana besarnya bagi manusia 

Allah sanggup mengekspresikan amarah murkanya, amarah murka Allah adalah reaksi yang membinasakan dari pribadi Allah yang pengasih terhadap apa yang menghancurkan objek kasihnya.

Demikianlah pesan bencana dalam kejadian pasal 6 hingga pasal 9. 

Sementara anda membaca kitab Kejadian, carilah bagaimana segalanya pada mulanya, agar anda memahami bagaimana segalanya pada waktu sekarang. 

Demikianlah maksud Allah menjelaskan segalanya dalam kitab Kejadian. 

Allah mau menjelaskan segalanya pada mulanya, agar kita memahami segalanya pada waktu sekarang.

Sayang waktu kita sudah habis. 

Terima kasih atas niat anda untuk kembali bergabung dengan kami besok melanjutkan studi Alkitab kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s