Siapakah anda? (OTS09)

Bagian 1

Sudah tiba saatnya kita memulai program sekolah Alkitab mini, studi yang terpenting di dunia, sebab kita sedang mempelajari kitab terpenting di dunia yaitu Alkitab dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu.

Dalam sesi ini kita akan mempelajari kisah tentang Yakub, yaitu gambaran tentang kelahiran Yakub seperti yang dikisahkan dalam kejadian pasal 25. 

Firman Tuhan kepada Ribka: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya. Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir.” (Kej 25:23-26)

———————————-

Kisah Yakub meliput banyak pasal dalam kitab Kejadian seperti halnya kisah Abraham.

Pasal-pasal ini meliput kira-kira 20 tahun kehidupan Yakub.

Mari kita memilih pasal 32 ayat 9:

“Kemudian berkatalah Yakub: “Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu– sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan. Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya.” (Kej 32:9-11)

“Lalu tinggAllah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.” Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” Bertanyalah Yakub: “Katakanlah juga namamu.” Tetapi sahutnya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: “Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!” (Kej 32:24-30).

——————————-

Demikianlah kisah Yakub.

Kembali kita melihat kebenaran yang Allah ingin ajarkan kepada kita.

Allah sangat ingin mengajari kita tentang iman, maka Allah memberi kita segala pasal yang menceritakan tentang kisah Abraham. 

Allah masih mempunyai sesuatu untuk diajarkan kepada kita, itulah sebabnya Ia memberi kita segala pasal yang menceritakan tentang kisah Yakub. 

Kunci kebenaran yang Allah ingin ajarkan kepada kita melalui kehidupan Abraham tampaknya difokuskan pada mezbah-mezbah yang dibangun oleh Abraham. 

Kunci kebenaran yang Allah mau ajarkan kepada kita melalui kehidupan Yakub tampaknya terpusat pada namanya Yakub.

Yakub dilahirkan kembar, memegangi tumit kakaknya Esau, karena itulah ia dinamai Yakub yang berarti penyambar atau perebut atau mungkin anak nakal. 

Namanya sungguh menjelaskan tentang dirinya, sebab ia sungguh menjadi penyambar. 

Dalam keluarga Ishak ada dua hal yang layak dimiliki: hak kesulungan dan berkat.

Yakub menyambar keduanya. 

Namanya tepat sekali karena ia memang penyambar.

Sejujurnya saya mengasosiasikan diri dengan Yakub sebab dulunya saya pun anak nakal. 

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga besar dan berada di dalam keluarga dengan 13 bersaudara. 

Anda bisa membayangkan, hal itu menjadikan anda tangguh, menjadikan anda seorang penyambar. 

Saya memang seorang penyambar. 

Itulah sebabnya saya mengasosiasikan diri dengan Yakub. 

Kisah abraham terpusat pada mezbah-mezbahnya dan kisah Yakub terpusat pada namanya. 

Sungguh menarik kisah kelahiran Yakub ini. 

Baik dalam kitab Kejadian maupun dalam Roma pasal 9 di mana Paulus mengomentari kelahiran Yakub, kita diberitahu bahwa sebelum Yakub dilahirkan, ketika ia masih dalam kandungan ibunya bersama saudara kembarnya Esau, Allah telah berfirman: “Aku mengasihi yang lebih muda dan membenci yang lebih tua. Maka yang lebih tua akan menjadi hamba yang lebih muda.” 

Allah sudah menyinggung tentang Esau dan Yakub, bahkan sebelum mereka lahir. 

Jangan mengasihani Esau, kitab suci mengatakan bahwa Esau adalah orang yang tidak senonoh. 

Ia meremehkan hak kesulungannya, Esau tidak mempedulikan hal-hal yang rohani.

Esau mengilustrasikan manusia sekuler. 

Keturunan Esau disebut orang Edom. 

Kita akan belajar lebih banyak tentang mereka nanti, ketika kita sampai ke kitab Obaja. 

Orang Edom tinggal di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota batu merah Petra.

Orang Edom tinggal di dalam gua-gua.

Mereka suka menyerang dan merampok secara konvoi atau karavan yang lewat sebelum Yerusalem. 

Lalu mereka akan kabur ke rumah mereka di tebing. 

Mereka akan memanjat tebing dengan tambang lalu menarik tambangnya ke atas. 

Mereka menganggap diri mereka tak mungkin terkalahkan. 

Mereka senang bergabung dengan pasukan yang sedang dalam perjalanan untuk menjarah Yerusalem.

Keturunan Esau menjadi musuh bebuyutan Israel. 

Jangan mengasihani Esau, karena Allah adalah Allah.

Allah mengetahui segalanya. 

Ketika melihat kandungan Ribka dan melihat anak kembar ini, Allah sudah tahu bagaimana nantinya anak kembar ini.

Allah tidak pernah terkejut mengetahui apa yang akan terjadi nantinya. 

Allah mengatakan bahwa Aku mengasihi Yakub dan Aku membenci Esau, sebab Allah sudah mengetahui apa yang akan dilakukan Esau dan keturunannya. 

——————————-

Ketika sampai kepada kisah Yakub, inti kisahnya adalah tentang kasih karunia. 

Dalam kisah abraham, kita belajar tentang iman. 

Dalam kisah Yakub kita belajar tentang kasih karunia. 

Kasih karunia berarti perkenan dan berkat Allah yang sesungguhnya tidak pantas kita dapatkan. 

Kasih karunia diberikan kepada anda karena kasih Allah sendiri, bukan karena anda pantas mendapatkannya. 

Yang menarik tentang Yakub adalah bahwa karena ia seorang penyambar, ia menganggap bahwa segala berkat Allah diperolehnya karena ia penyambar. 

Akan tetapi perjanjian baru mengatakan bahwa Yakub meraih segalanya itu bukan karena ia seorang penyambar yang licik. 

Menurut perjanjian baru Yakub mendapatkan segala berkat Allah, karena kasih karunia Allah.

Sebelum Yakub lahir, Allah sudah berencana memberinya berkat-berkat tersebut. 

Dalam kisah Yakub, kebenaran yang Allah mau ajarkan kepada kita adalah apa yang dapat kita sebut krisis identitas. 

Demikianlah banyak orang menyebutnya. 

Sekarang ini krisis identitas menjadi konsep yang sangat populer. 

Siapa anda? Anda itu apa dan dimana anda seharusnya berada? 

Demikianlah krisis identitas. 

Dalam kitab suci hal itu disebut kehendak Allah yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Kitab suci mengajarkan bahwa ketika Allah menjadikan kita, Ia tidak menggunakan pola tertentu.

Tidak seorangpun yang seperti anda, anda pun tidak seperti siapapun. 

Kita masing-masing adalah individu yang unik. 

Dalam kamus kata diri artinya individualitas, keunikan seseorang yang membedakannya dari semua orang lainnya. 

Alkitab menggunakan kata diri dengan berbagai cara menarik. 

Alkitab mengatakan bahwa kita menghadapi masalah besar ketika kita menentang diri sendiri.

Ketika kita menentang keunikan kita, menentang individualitas kita, menurut alkitab yang seharusnya kita lakukan adalah memulihkan diri sendiri. 

Janganlah sampai kita kehilangan diri sendiri. 

Demikian Yesus mengatakan. 

Ketika sang anak pemboros memutuskan pulang juga pada akhirnya, Alkitab mengatakan bahwa ia sadar diri. 

Allah menghendaki kita menemukan individualitas unik yang telah ia rencanakan bagi kita masing-masing. 

Dalam surat paulus kepada jemaat di Roma pasal 12:1-2, hal itu disebut sebagai kehendak Allah yang baik, yang berkenan dan yang sempurna bagi kita masing-masing. 

Sebagian orang menyebutnya krisis identitas dan demikianlah yang diilustrasikan kehidupan Yakub. 

———————-

Demikianlah orang yang memandang keatas kepada Allah akan selalu memandang ke dalam dan orang yang telah memandang ke atas dan memandang ke dalam akan siap memandang ke sekeliling dan berhubungan dengan sesama serta menjadi bagian dari solusi Allah.

Untuk mengajari Yakub untuk memandang ke sekeliling, Allah memberinya hubungan-hubungan.

Yakub seorang anak nakal, itulah masalahnya. 

Bagaimana pengobatan Allah bagi seorang anak nakal? 

Anak yang lebih nakal lagi. 

Demikianlah Allah membiarkan Yakub dibawah pamannya Laban, selama 20 tahun. 

Sayang waktunya habis. 

Sementara anda menerapkan apa yang anda pelajari dari kisah kehidupan Yakub, ajukan tiga pertanyaan berikut kepada diri sendiri: 

“Sudahkah anda mengalami perubahan rohani dalam kehidupan anda, ketika anda sungguh-sungguh memandang ke atas kepada Allah sebagai satu-satunya pengharapan dan sumber kasih karunia anda?” 

Setelah itu, “Sudahkah anda memandang ke dalam hingga anda melihat apa yang Allah mau anda lihat?” 

Dan akhirnya, “Sudahkah anda memandang ke sekeliling dan menerapkan apa yang anda pelajari ketika memandang ke atas dan memandang ke dalam terhadap segala hubungan anda dengan sesama?” 

Saya percaya, demikianlah yang Allah kehendaki kita alami, sementara kita menerapkan pasal-pasal indah dari kitab Kejadian ini tentang kasih karunia Allah dalam kehidupan Yakub dan dalam kehidupan kita sendiri.

Bagian 2

Studi kita tentang keseluruhan Alkitab dimulai dari kitab Kejadian telah mengantarkan kita kepada pasal 25 hingga pasal 32 dari kitab Kejadian. 

Pasal-pasal ini menceritakan kisah yang mengundang rasa ingin tahu tentang Yakub.

Dalam kita Yakub setelah ia memperdayai ayahnya dan menyambar hak kesulungan serta berkat, ibunya datang kepadanya dan mengatakan: “Pergilah Yakub, sebab kakakmu mau membunuhmu.” 

Makanya Yakub pun pergi. 

Ketika Yakub pergi, ia tidak mungkin tinggal di hotel atau penginapan, ketika itu belum ada apa-apa selain padang belantara. 

Ibunya mengatakan: “Ibu mempunyai saudara namanya Laban. Dialah pamanmu. Ia tinggal di padang belantara, tinggallah bersama pamanmu Laban sebab kakak mau membunuhmu.”

Makanya Yakub pergi menuju padang belantara.

Sungguh tantangan berat baginya. 

Pergi meninggalkan rumah selalu bisa menakutkan, terutama bagi Yakub.

Malam pertama ia tidur di luar rumah, ia menggunakan sebuah batu sebagai bantalnya. 

Malam itu ia mengalami pengalaman rohani. 

Ia bermimpi, dimana ia melihat sebuah tangga melalui mana para malaikat naik turun dari surga. 

Dalam mimpinya Allah menampakan diri kepada Yakub dan menegaskan perjanjian yang telah Allah adakan dengan abraham.

Allah berjanji bahwa Yakub akan menjadi bagian dari bangsa yang sedang Allah bentuk, melalui  mana Allah akan memasuki dunia ini. 

Allah berfirman kepada Yakub: “Aku akan memberkatimu dan menjadikanmu sangat banyak dan membawamu pulang.”

——————————-

Menanggapi mimpinya itu, Yakub merasa takjub dan mengatakan: “Sungguh Allah ada di tempat ini dan aku tidak mengetahuinya.” 

Dalam perjalanan imannya itu, Yakub masih dalam tahap taman kanak-kanak secara rohani.

Yakub mengatakan: “Ya Allah kalau memang benar bahwa Engkau menyertai aku dan akan membawaku pulang, ketahuilah bahwa aku akan mengembalikan 10% dari segala berkat yang Engkau berikan kepadaku. Apapun yang kusambar, 10% nya akan kukembalikan kepadaMu.”

Setelah bermimpi itulah Yakub baru pertama kalinya memandang ke atas.

Sementara anda membaca apa yang terjadi pada Yakub selama 20 tahun berikutnya, coba anda memperhatikan berapa kali Yakub memandang ke atas. 

Setiap kali Yakub memandang ke atas, ia menjadi semakin dekat dengan Allah. 

Kalau kita mau menjadi individu yang utuh, selain memandang ke atas kita juga harus memandang ke dalam. 

Ada hal tertentu yang Allah mau kita ketahui tentang diri kita sendiri dan untuk menunjukkannya kita harus memandang ke dalam. 

Ingatlah bagaimana Daud berdoa: “Selidikilah aku ya Allah dan kenal hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku. Lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal.” 

Kita semua harus melakukannya, kita semua harus memandang ke dalam dan mengatakan: “Ya Allah, aku tidak mengenal hatiku. Tunjukkanlah kepadaku motif-motif yang seharusnya tidak ada dalam hatiku. Tunjukkanlah pemikiran-pemikiran yang seharusnya tidak ada dalam pikiran bawah sadarku, sebab aku ingin menempuh jalan yang benar.” 

Demikianlah kita perlu memandang ke dalam.

Dalam kisah Yakub, coba anda memperhatikan bagaimana Allah membuatnya memandang ke dalam. 

Allah memaksanya memandang ke dalam, lalu Allah memberi Yakub hubungan-hubungan yang memaksa Yakub memandang ke sekeliling. 

Demikianlah kita semua harus memandang ke atas, itulah awalnya.

Lalu kita semua harus memandang ke dalam.

Orang yang telah memandang ke atas dan memandang ke dalam, siap memandang ke sekeliling dan berhubungan dengan sesamanya serta menjadi bagian dari solusi atau jawabannya. 

Untuk mengajari Yakub memandang ke sekelilingnya Allah memberinya hubungan-hubungan.

Yakub seorang anak nakal, itulah masalahnya. 

Bagaimana pengobatan Allah bagi seorang anak nakal, anak yang lebih nakal. 

Demikianlah pengobatan Allah bagi anak nakal, maka Allah menempatkan Yakub bersama pamannya Laban selama 20 tahun. 

Menurut saya, kisah dan Laban sungguh lucu. 

Ketika Yakub berjumpa dengan Laban, ia menceritakan kepada Laban bagaimana ia telah memperdayai kakaknya dan ayahnya untuk mendapatkan hak kesulungan serta berkat. 

Paman laban tersenyum dan mengatakan: “Sungguh engkau adalah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.”

Maksud Laban adalah: “Engkau sungguh nakal, nak. Namun aku lebih nakal lagi.”

Demikianlah Yakub bekerja bagi Laban selama 20 tahun.

Upah Yakub untuk 7 tahun pertama, seharusnya adalah putri Laban yang bernama Rahel.

Alkitab mengatakan bahwa Rachel cantik dan elok. 

7 tahun Yakub bekerja bagi Laban terasa seperti 7 hari sebab Yakub demikian demikian mencintai Rachel.

Akan tetapi pada malam pernikahan, paman Laban membuat Yakub mabuk. 

Rachel mempunyai saudara bernama Lea yang bermata lembut. 

Ketika bangun keesokan paginya, ternyata yang tidur di samping Yakub adalah Lea dan bukan Rachel. 

Makanya Yakub marah-marah.

Ia diperdayai. 

Yakub adalah anak nakal, penyesat dan kalau ada hal yang dibenci oleh penipu hal itu adalah ditipu. 

Kalau ada hal yang dibenci oleh manipulator, hal itu adalah dimanipulasi. 

Kalau ada hal yang dibenci oleh tukang manuver, hal itu adalah diakali. 

Demikianlah resep kegemaran Allah untuk memberi anda pelajaran. 

Laban memperdayai Yakub berulang-ulang. 

20 tahun kemudian mereka mengalami krisis dan Yakub meninggalkan Laban. 

Setelah meninggalkan Laban, Yakub menjadi khawatir tentang Esau. 

Hubungannya dengan Esau tidak benar.

Yakub mengirimkan pesan kepada Esau, sebab ia ingin berdamai dengan Esau.

Ketika seseorang terus memandang ke atas Allah memaksanya untuk memandang ke sekeliling dan meluruskan hubungan-hubungannya dengan sesama. 

Ketika Yakub mengirimkan pesan kepada Esau, ia mendapatkan jawaban bahwa Esau sedang menuju ke tempatnya bersama 400 orang menunggang kuda.

Yakub benar-benar ketakutan.

Yakub menyeberangi sungai bernama Yabok dan berdoa.

Lalu ia mendapatkan pengalaman yang sangat subjektif. 

Saya menyebutnya pengalaman menakutkan. 

Semua tokoh pilihan Allah mendapatkan pengalaman menakutkan atau pengalaman subjektif.

Detail engalaman mereka masing-masing sangat beragam namun hasilnya sangat mirip. 

Yakub bergulat dengan seorang malaikat. 

Pada mulanya Yakub diserang.

Ketika Allah melihat bahwa Ia tidak menang terhadap Yakub yang berarti bahwa ia belum juga berhasil mematahkan Yakub, Ia memukul pangkal paha Yakub hingga terpelecok. 

Coba anda membayangkan betapa sakitnya itu. 

Demikianlah Allah mematahkan Yakub dengan melumpuhkannya. 

Lalu inisiatifnya bergeser, sekarang Yakub yang menyerang.

Yakub memegangi orang dengan siapa ia bergumul. 

Maka orang tersebut mengatakan: “Fajar segera menyingsing, lepaskanlah Aku.” 

Dan Yakub menjawab: “Aku tak akan melepaskanmu, hingga engkau memberkati aku. 

Allah bertanya: “Siapakah namamu?” Dan Yakub menjawab: “Yakub” 

Lalu Yakub balas bertanya: “Siapakah namamu?” 

Dan Allah menjawab: “Mengapa engkau menanyakan namaKu?” 

Yakub sungguh seorang anak yang nakal. 

Saya mengenal seorang pendeta yang bercerita pernah ditahan oleh polisi ketika masih muda.

Ketika polisi menanyakan namanya, pendeta ini menjawab: “Nama anda siapa?” 

Maka sang polisi pun menghajarnya. 

Polisi ini baru saja melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan keluarganya di rumah, maka pendeta ini tidak berani lagi menanyakan nama sang polisi.

Satu hal yang tidak pantas, saat orang yang berwenang menanyakan siapa namamu dan kita bertanya nama anda siapa. 

Demikian Allah memaksa Yakub untuk memandang ke dalam dengan menanyakan siapakah namamu. 

Allah mau Yakub mengakui dirinya nakal dan Yakub mengakuinya dengan menjawab: “Nama saya Yakub.”

Namun kemudian Yakub balas bertanya: “Siapakah namamu?” 

Maka Allah menjawab: “Mengapa engkau menanyakan siapa namaku?” 

Yang penting dari pergumulan Yakub dengan Allah ini adalah bahwa Allah tidak menang pada mulanya, hingga Ia mematahkan Yakub.

Lalu Allah mengatakan: “Aku akan mengganti namamu menjadi Israel.” 

Dari sanalah bangsa Israel mendapatkan nama yang berarti tukang berkelahi.

Yakub seorang manipulator, tukang manuver dan yang terutama tukang berkelahi. 

Abraham yang menjadi bapa bangsa istimewa ini, umat Allah ini dan Yakublah yang memberi mereka nama israel. 

Alasan Allah mengganti nama Yakub menjadi Israel adalah karena Yakub telah berkelahi dengan Allah, dengan sesama manusia, dengan diri sendiri dan Yakub menang.

Yakub telah memandang ke atas dan telah bergumul untuk menjangkau Allah, hal itu membawa Yakub kembali ke 20 tahun sebelumnya, kepada mimpi tentang tangga. 

Itulah pertama kalinya Yakub memandang ke atas, karena segala hubungan yang sulit dan krisis yang dialami Yakub, Yakub sering memandang ke atas selama 20 tahun itu. 

Allah mengacu kepada saat-saat ketika Yakub memandang ke atas ketika mengatakan: “Engkau berjuang untuk menjangkauKu Yakub dan engkau berhasil. Engkau memandang ke atas dan telah menemukan Aku.” 

———————————-

Menantikan Tuhan sungguh merupakan tantangan besar, saya percaya bahwa menantikan Tuhan menuntut iman lebih besar daripada apapun juga sebab kita tidak sungguh menunggu 

Selama kita masih bisa berlari, Allah harus melakukan sesuatu untuk menjadikan kita menunggu. 

Kita tak akan menunggu selama kita masih bisa berlari. 

Ketika Allah membawa Yakub ke Yabok dan melumpuhkannya, apalagi yang mungkin dilakukan Yakub selain menunggu.

Demikianlah pesan dari kisah Yakub.

Saya menyebutnya berkat yang melumpuhkan. 

Seandainya ada waktu untuk mempersilahkan anda bercerita, saya yakin bahwa banyak diantara anda yang akan menceritakan bawa berkat terbesar Allah dalam kehidupan anda memang berkat yang melumpuhkan. 

Mungkin saja Allah tidak berhasil menjangkau anda dengan cara lain, persis seperti Allah tidak berhasil menjangkau Yakub tanpa melumpuhkannya. 

Pada akhirnya Yakub menangkap pesan Allah setelah bergumul. 

Ketika berjumpa dengan Esau, Yakub mengatakan: “Allah telah melimpahkan karuniaNya kepadaku, segala yang kumiliki ini bukanlah karena aku berhasil menyambarnya, melainkan karena Allah yang melimpahkan kasih karuniaNya kepadaku.” 

Sampai disini dulu hari ini. 

Sebelum kita berjumpa kembali besok, silahkan membaca sisa kitab Kejadian, tentang kisah Yusuf pasal 37 sampai pasal 50. 

Coba anda menafsirkan sebagian krisis dan masalah anda dalam konteks pergumulan Yakub dengan Allah. 

Apakah Allah telah membawa anda ke Yabok dan melumpuhkan anda, sehingga Ia dapat memahkotai anda dengan berkatnya? 

Terkadang Allah harus mematahkan kita sebelum dapat memberkati kita. 

Seperti Yakub, kita harus belajar bahwa satu-satunya pengharapan kita adalah karena kasih karunia Allah dan bukan karena kita pantas mendapatkannya atau karena kita mengira kita sanggup menyambar atau mengupayakannya. 

Saya percaya demikian pesan Alkitab melalui kehidupan Yakub.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s