Allah yang Bekerja (OTS10)

Bagian 1

Selamat datang di Sekolah Alkitab Mini. 

Sungguh suatu kehormatan bagi saya bahwa anda telah memilih untuk bergabung dengan kelas ini untuk mempelajari Firman Allah. 

Sementara kita melanjutkan dengan kitab Kejadian , saya ingin mempelajari tokoh ketiga yang ditemukan dalam kitab Kejadian . 

Banyak tempat yang diberikan dalam kitab Kejadian untuk studi tokoh-tokoh ini. 

Banyak pasal yang menggambarkan tokoh Abraham  yang menjelaskan tentang iman. 

Banyak pasal yang menggambarkan tokoh Yakub yang menjelaskan tentang krisis identitas atau bagaimana kita mungkin mengenal kehendak Allah bagi kehidupan kita dan menyadari bahwa segala yang kita miliki adalah berkat kasih karunia Allah semata. 

Maka sampailah kita pada 14 pasal terakhir kitab Kejadian yang menggambarkan tentang kisah Yusuf.

—————————-

Yusuf adalah salah satu tokoh paling suci dalam kitab suci. 

Sebagian besar tokoh dalam kitab suci mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Cepat atau lambat muncullah kemanusiawian mereka dan kita melihat kekurangan mereka selain kelebihan mereka. 

Tampaknya Yusuf dan Daniel merupakan pengecualian. 

Alkitab  tidak menceritakan tentang kekurangan mereka. 

Kelahiran jusuf tampaknya merupakan faktor yang membuat Yakub bertikai dengan pamannya Laban dan memutuskan untuk hidup mandiri. 

Hal itu terjadi ketika Yusuf putra Yakub lahir. 

Yusuf adalah putra sulung Rachel, istri yang sangat dicintai Yakub.

Yakub mencintai Rahel lebih daripada Lea maupun hamba-hamba dari siapa Yakub juga mempunyai anak-anak. 

Begitu Rahel melahirkan Yusuf tampaknya Yakub mulai berpikir bahwa ia harus memisahkan dirinya dari Laban sang paman. 

Maka ia mendatangi pamannya dengan tekad meminta apa yang menjadi haknya, sebab selama ini Laban menguasainya seperti ditaktor. 

Yusuf merupakan putra sulung dari Rahel. 

Yakub lebih mengasihi Yusuf. 

Yusuf inilah putra kesayangannya Yakub.

Tentu hal itu membuat saudara-saudara Yusuf membencinya dan ingin membunuhnya. 

Sebagai rencana alternatif, mereka memutuskan untuk menjual Yusuf kepada pedagang budak yang akan pergi ke mesir. 

Maka melalui keadaan yang di luar kuasanya, Yusuf mendapati dirinya berada di mesir,  pertama-tama sebagai budak, lalu sebagai tahanan.

Melalui keadaan luar biasa yang diatur oleh Allah pada akhirnya Yusuf menjadi perdana menteri Mesir, orang kedua dibawah sang firaun sendiri.

Yusuf menjalani kehidupan yang luar biasa di Mesir, tak ada keraguan dalam benak Yusuf bahwa Allah telah secara strategis menempatkannya di Mesir. 

Tentu Allah sudah mengetahui bahwa akan terjadi bencana kelaparan yang mungkin menyapu bersih umat pilihanNya itu, yang melalui siapa Allah akan datang ke dalam dunia sebagai Messias untuk memberi keselamatan. 

————————-

Ketika sampai kepada kisah tentang Yusuf, sesungguhnya kitab Kejadian sedang menggambarkan tentang pemeliharaan Allah.

14 pasal kitab Kejadian,  dikhususkan dan untuk menceritakan kisah luar biasa tentang Yusuf ini. 

Mengapa?

Sebab ada pesan yang ingin disampaikan kepada kita, yang tampaknya terangkum dalam Roma 8:28: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Selama berabad-abad, Roma 8:28 ini telah menjadi penghiburan dan berkat bagi banyak umat Allah. 

Cara lain untuk mengungkapkannya adalah: “Kita tahu sekarang bahwa segala yang terjadi kepada kita adalah demi kebaikan kita sendiri selama kita mengasihi Allah dan terpanggil sesuai dengan rencanaNya”.

Demikianlah halnya dengan kita kehidupan Yusuf. 

Satu lagi aspek dari pesan yang disampaikan melalui kisah Yusuf terangkum dalam apa yang kita sebut sebagai kasih karunia. 

Kita melihat kasih karunia diilustrasikan dalam kisah Yakub. 

Kasih karunia maksudnya adalah perkenan dan berkat Allah yang sesungguhnya tidak pantas kita dapatkan. 

Kisah Yakub mengilustrasikan kasih karunia sebab pada akhirnya Yakub menyadari bahwa ia diberkati oleh Allah berkat kasih karunia Allah.

Itulah sebabnya ia mendapatkan berkat berlimpah, baik rohani maupun jasmani. 

Sebelumnya Yakub mengira bahwa segala berkat yang diperolehnya itu, baik rohani maupun jasmani, adalah berkat kepandaiannya sendiri, berkat manipulasi serta manuvernya sendiri yang licik. 

Ilustrasi yang paling mencolok adalah begini: “Ketika Laban paman Yakub memutuskan untuk membayar Yakub menurut keturunan ternaknya, mereka membuat kesepakatan bahwa segala keturunan ternak yang berbintik dan berbelang akan menjadi milik Yakub, sedangkan sisanya menjadi milik Laban.” 

Maka Yakub pun mengambil beberapa daun tanaman dan dikupasnya sehingga tampak berbelang-belang dan meletakkannya di hadapan ternak itu.

Yakub menyakini bahwa hal itu akan membuat keturunan ternak tersebut berbintik dan berbelang. 

Padahal Yakub tidak kuliah teknik atau mengikuti kursus peternakan, semua itu hanya asumsinya sendiri, bahwa akal bulusnya akan selalu mendatangkan berkat baginya, hingga akhirnya Allah berhasil menarik perhatian Yakub cukup dan mengatakan kepadanya: “Yakub semuanya itu adalah berkat kasih karuniaKu bukan karena kepandaianmu”.

Ketika Yakub berkonfrontasi dengan Esau kakaknya, kita melihat bahwa Yakub telah belajar tentang kasih karunia, sebab Yakub mengatakan: “Allah telah memberi karunia kepada ku sehingga aku mempunyai segala-galanya, padahal ketika aku dulu menyeberangi sungai ini aku tidak membawa apa-apa selain tongkat.”

Dalam kehidupan Yakub, kasih karunia Allah tampak dalam bagaimana Allah telah menjadikan Yakub kaya raya dengan istri, anak, hamba serta ternaknya. 

Semuanya itu bukanlah kepandaian dan akal bulus dari Yakub. 

Kisah kehidupan Yusuf pun mengilustrasikan kebenaran yang sama namun dengan cara yang lain. 

Yusuf menemukan dirinya dalam keadaan yang sangat sulit. 

Ia menjadi budak, ia dipenjara di bawah tanah.

Ia mengalami banyak masalah dan keadaan sulit bukan karena ia pantas mengalaminya melainkan agar Allah dimuliakan. 

Berkat kasih karunia Allah, Allah memberkati Yakub. 

Berkat kasih karunia Allah, Allah memanggil Yusuf untuk hidup menderita sebab Allah menempatkan Yusuf di Mesir.

Allah menggunakan segala keadaan untuk mempersiapkan Yusuf dan melatihnya melalui berbagai pengalaman yang sedemikian rupa, sehingga ketika Yusuf dipanggil menjadi penyelamat umat pilihan Allah dari kelaparan dan kepunahan, Yusuf sudah siap.

Yusuf sudah berada di tempat yang tepat dan siap dipakai oleh Allah.

Pada akhir kisah Yusuf, jelas bahwa Yusuf memahami keseluruhan keadaan yang dialaminya pada saat itu.

————————–

Sekarang mari kita merenungkan, penerapan devotional dari kisah Yusuf dalam kehidupan kita sendiri. 

Coba anda renungkan hubungan Yusuf dengan ayah dan saudara-saudaranya. 

Jauh dari hubungan teladan bukan? 

Kita semua tahu bahwa seharusnya kita tidak pilih kasih terhadap anak-anak kita.

Karena Yakub pilih kasih terhadap Yusuf, jelas Yakub bukanlah Allah yang sempurna. 

Hal itu tidak adil bagi terhadap saudara-saudara Yusuf dan tidak juga tidak adil bagi Yakub sendiri. 

Coba renungkan segala kebencian saudara-saudara Yusuf terhadapnya dan apa akibatnya.

Menurut saya pesan kita Yusuf ini adalah tidak ada seorang pun di antara kita mempunyai orang tua yang sempurna. 

Kita dilahirkan dari orang tua yang bukan pilihan kita sendiri. 

Kita dilahirkan dari orang tua dan dengan saudara-saudari yang mempunyai pengaruh besar terhadap kita yang membentuk kehidupan kita. 

Banyak di antara kita yang mengalami kepedihan hati atau kesusahan dalam kehidupannya karena orang tua atau saudara-saudari kita, namun Allah sungguh berdaulat. 

Demikianlah salah satu penerapan kisah Yusuf dalam kehidupan kita. 

Walaupun orang tua anda tidak sempurna atau mungkin kurang bertanggung jawab atau bahkan tidak beritikad baik, menurut saya anda harus berdoa seperti Yesus ajarkan dari kayu Salib: ‘Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat ini.”

Seandainya pun orang tua anda dan saudara-saudari anda telah berkontribusi terhadap luka hati anda, saya percaya bahwa pesan dari kisah Yakub adalah: “Allah sungguh berdaulat dalam segala keadaan anda, termasuk orang tua maupun saudara-saudari yang anda miliki.” 

Allah sanggup menggunakan pengaruh orang tua anda, seandainya pun orang tua anda tidak bertanggung jawab. 

Allah sanggup menggunakan pengaruh saudara-saudari anda seandainya pun mereka tidak bertanggung jawab. 

Allah sanggup menggunakan respon anda terhadap mereka, untuk membentuk kehidupan anda.

Pada suatu hari kelak anda akan memenuhi rencana Allah entah di mana di dunia ini. 

Saya percaya bahwa Allah sungguh berdaulat dalam keadaan kita. 

Kalau kita mau menanggapi keadaan kita dengan kasih karunia Allah serta pertolonganNya, Allah akan menggunakan keadaan kita untuk membentuk kita demi pelayanan yang Ia mau kita laksanakan suatu hari kelak. 

Pada saat ini, sudahkah anda ada sampai ke tempat dimana Allah membukakan pintu kesempatan bagi anda? 

Manfaatkanlah kesempatan itu dengan keyakinan bahwa Allah telah mempersiapkan anda untuk hal itu sejak anda lahir. 

Saya percaya bahwa seluruh kehidupan saya adalah persiapan untuk kesempatan yang sekarang. 

Saya pernah mendengar banyak orang mengaku mengalaminya. 

Demikianlah pesan dari kehidupan Yusuf. 

Terkadang apa yang kita sebut kesusahan, keadaan yang diluar kuasa kita, masalah yang sangat sulit yang membuat kita bertanya-tanya, “Mengapa harus saya mengalami semuanya ini?” 

Mungkin saja sama seperti yang disampaikan kitab suci kepada kita melalui kehidupan Yusuf, Allah sungguh berdaulat dalam segalanya itu. 

Dan ketika Allah memberi anda kasih karunia untuk merespons keadaan itu dengan cara yang Ia kehendaki, anda akan menemukan bahwa keadaan itu atau orang yang bermasalah dalam kehidupan anda adalah dinamika yang Allah gunakan untuk membentuk kehidupan anda. 

Segalanya itu adalah peralatan yang Allah gunakan untuk membentuk kehidupan anda dengan cara yang sedemikian rupa sehingga suatu hari kelak anda akan terpanggil menurut maksud Allah serta memenuhi takdir anda.

Mengakhiri studi kita hari ini, saya berharap anda menemukan penghiburan yang saya sendiri temukan dalam realita bahwa ketika kita jatuh atau gagal Bapa kita yang pengasih tidaklah membuang kita.

Ia mengasihi kita secara tak bersyarat dan Dia memakai kegagalan kita untuk mendatangkan kebaikan. 

Dalam kehidupan Abraham , kita diajarkan tentang iman. 

Dalam kehidupan Yakub, kita diajarkan tentang kasih karunia. 

Dan dalam kehidupan Yusuf, kita juga diajarkan tentang kasih karunia yang menuntun kepada keselamatan. 

Pokoknya Allah mengasihi anda seandainya pun anda gagal secara rohani.

Allah ingin memberikan kasih karunianya kepada anda seperti juga kepada Yusuf.

Bagian 2

Studi kita tentang Alkitab telah mengantarkan kita ke pasal-pasal terakhir dalam kitab Kejadian.

Dalam studi terakhir, kita mengadakan penerapan devosional terhadap kehidupan kita masing-masing dari studi tentang kehidupan Yusuf yang dicatat dalam 14 pasal terakhir dari kitab Kejadian.

Coba anda memperhatikan, betapa Yusuf sepenuhnya yakini kedaulatan Allah dalam segala keadaanya.

Dalam Kejadian 45:5, Yusuf mengatakannya begini: “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. ……… Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir. Segeralah kamu kembali kepada bapa dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu. Engkau akan tinggal di tanah Gosyen” (Kej 45:5,7-10)

————————

Jelas sekali dalam benak Yusuf bahwa Allah berdaulat dalam segalanya, sebab ia mengatakan kepada saudara-saudaranya: “Bukan kalian yang menyuruh aku ke Mesir, walau pun kalian mereka-rekakan yang jahat terhadap aku. Allah-lah yang menyuruh aku ke Mesir.”

Kitab Kejadian diakhir dengan bangsa istimewa ini berada di tanah Mesir.

Hal itu mengantarkan kita kepada kitab Keluaran.

Jadi sekarang kita siap mempelajari kitab Keluaran.

Apa yang telah kita lihat dalam kehidupan dan keadaan Yusuf, memberi kita perspektif sejarah tentang kitab Keluaran.

Dalam kitab Kejadian, lahirlah bangsa yang unik, yang diberikan nama dan diselamatkan dari kepunahan akibat kelaparan.

Dalam pendahuluan studi telah kita bahas, bahwa Alkitab berkisah tentang bangsa ini.

11 pasal pertama Alkitab, bercerita tentang sejarah alam semesta dan banyak hal.

Akan tetapi begitu sampai diakhir Kejadian 11 dan memasuki Kejadian 12, kita membaca tentang Abraham yang unik.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, 1178 pasal lainnya dari Alkitab adalah tentang Abraham dan keturunannya, terutama Dia yang melalui siapa segala bangsa di bumi akan diberkati, yaitu Yesus Kristus.

Dengan kata lain, Alkitab adalah tentang bangsa Israel.

Mengapa Israel demikian penting?

Sebab ketika Allah memutuskan untuk datang ke dunia ini, Ia tidak datang sebagai orang berkulit hitam atau putih atau merah.

Allah menciptakan bangsa istimewa ini, untuk maksud kedatangNya ke duni.

Dan bangsa yang istimewa ini adalah bangsa Ibrani.

Kalau ada orang yang boleh berbangga atas garis keturunannya, ia pasti orang Yahudi.

Allah menciptakan bangsa Yahudi untuk maksud itu.

Allah akan datang ke dunia sebagai seorang pria, dan Ia mau menciptakan bangsa istimewa yang akan memberinya konteks sejarah melalui mana Ia akan menjadi manusia datang ke dalam dunia.

Inilah yang menjadikan bangsa Ibrani sangat istimewa.

Ketika mempelajari Alkitab dan terutama ketika kita mempelajari Perjanjian Lama, kita perlu merenungkan perkembangan bangsa yang sangat istimewa ini.

Dalam kitab Kejadian, kita membaca bahwa bangsa ini lahir melalui Abraham

Abraham yang menjadi bapa bangsa ini.

Yakub-lah yang memberi nama Israel kepada bangsa ini.

Yusuf-lah yang menyelamatkan bangsa ini dari kelaparan.

Yusuf adalah gambaran sang juruselamat, ketika menyelamatkan bangsa ini dari kepunahan akibat kelaparan.

Demikian-lah kitab Kejadian diakhiri dengan Yusuf mengatakan: “Suruhlah bapaku datang ke Mesir, sebab kalian akan tinggal disini dekat Gosyen.”

Ketika itu bangsa istimewa ini baru terdiri dari 12 keluarga.

Sebuah bangsa baru saja akan dibentuk.

 Diantara kitab Kejadian dan kitab Keluaran ada jedah waktu 400 tahun.

Lama sekali.

Ada jedah waktu yang sangat lama antara kitab Kejadian dengan kitab Keluaran.

Dalam Keluaran pasal 1, kita membaca ke-12 keluarga ini telah menjadi sangat banyak.

Mereka telah menjadi banyak dengan sangat cepatnya, sehingga terasa menjadi ancaman sang Firaun Mesir yang baru.

Maka Firaun Mesir yang baru ini memutuskan untuk memperbudak mereka.

Demikianlah 400 tahun sejak berakhirnya kitab Kejadian dan dimulainya kitab Keluaran.

Bangsa istimewa ini baru menjadi budak, padahal Allah menghendaki mereka menjadi bangsa yang unik.

Dalam kitab Keluaran, Allah akan membentuk mereka akan menjadi sebuah bangsa.

Dalam hal ini ada beberapa yang harus Allah lakukan sebelum menjadikan mereka sebuah bangsa yang besar.

Hal-hal itulah yang dicatat di kitab Keluaran.

—————————— 

Dalam mempelajari kitab selanjutnya, perlu kita sadari pentingnya sejarah perkembangan bangsa yang istimewa ini.

Dan saya ingin memberikan sekilas gambaran besar tentang perkembangan bangsa istimewa ini seperti yang digambarkan dalam kitab Kejadian dan kitab Keluaran.

Awal dan sumber bangsa ini adalah Allah.

Allah-lah yang menciptakan bangsa yang istimewa ini untuk memenuhi maksudNya.

Ada pun maksud utama Allah adalah agar melalui bangsa yang unik ini, Ia akan datang sebagai Mesias atau juru selamat dunia.

Sumber bangsa yang istimewa ini adalah Allah melalui Adam.

Demikian kitab Kejadian menggambarkannya dalam Kejadian Pasal 1 hingga Kejadian pasal 3.

Kita membaca bahwa melalui Adam, bangsa ini akan lahir.

Selanjutnya dalam kitab Kejadian kita membaca bangsa ini berkembang lebih lanjut melalui sistem Patriakh.

Berulang-ulang dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kita membaca Allah menyatakan: “Akulah Allah Abraham, Ishak dan Yakub.”

Sebab demikianlah bangsa yang istimewa ini dimulai.

Allah tidak pernah menghendaki bangsa ini melupakan asal usul mereka yaitu: Abraham, Ishak dan Yakub.

Menjelang berakhir kitab Kejadian, kita membaca bangsa ini baru menjadi 12 keluarga atau 12 suku yang tinggal di Mesir.

Pada awal kitab Keluaran, ke-12 keluarga ini telah menjadi sangat banyak, walau pun belum menjadi sebuah bangsa yang besar sebab mereka baru menjadi budak, dan untuk menjadi bangsa yang besar, salah hal pertama yang mereka butuhkan adalah seorang pemimpin.

Kitab Keluaran menceritakan salah satu pemimpin terbesar dalam sejarah umat Allah ini.

Musa akan diperintahkan menjadi pemimpin besar bangsa ini.

Setidaknya demikianlah langkah kearah yang tepat untuk menjadi sebuah bangsa besar yang unik.

Sebagai pemimpin para budak ini, salah satu masalah yang dihadapi Musa adalah bahwa belum ada hukum, belum ada aturan. 

Belum ada struktur untuk memerintah bangsa ini.

Oleh karenanya, 3 kali Musa naik ke gunung Sinai dan menghabiskan waktu 40 hari untuk berdoa dan berpuasa.

Intinya Musa menyampaikan kepada Allah: “Aku harus mempunyai aturan untuk memimpin bangsa ini.”

Coba anda membayangkan seperti apa rasanya memerintah orang 2 sampai 3 juta orang tanpa aturan atau hukum? 

Apakah anda mau menjadi pemimpin mereka tanpa hukum atau aturan?

Demikianlah yang kita saksikan dalam peralihan antara kitab Kejadian dengan kitab Keluaran.

———————————

Hal pertama yang hendaknya menjadi fokus kita ketika kita memulai kitab Keluaran adalah bangsa ini.

Bagian sejarah Perjanjian Lama menceritakan tentang bangsa ini.

Kitab Keluaran ingin menjelaskan perkembangan bangsa unik ini, melalui siapa Allah akan datang ke dalam dunia.

Masalah lainnya adalah bahwa bangsa ini berada di tempat yang keliru yaitu mereka tinggal di Mesir sebagai budak.

Allah tidak mau umatNya menjadi budak.

Jadi masalah besar yang digambarkan dalam kitab Keluaran adalah cara melepaskan bangsa ini dari perbudakan.

Kata Keluaran adalah jalan keluar.

Bagaimana jalan keluar dari perbudakan di Mesir.

Selain bersifat sejarah, kitab Keluaran juga memberikan kiasan.

Dalam kitab suci, kita akan melihat kitab Keluaran dan kisah tentang jalan keluar dari perbudakan ini berlaku bagi masalah kita hingga sekarang.

Misalnya dalam Perjanjian Baru, beberapa pasal injil Yohanes mencatat khotbah Yesus.

Dalam Yohanes 8:30, Yohanes menulis: “Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka: “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” (Yoh 8:30-34)

Sebab setiap orang yang berbuat dosa, tidak melakukan apa yang ingin ia lakukan melainkan apa yang terpaksa ia lakukan.

Jadi ia tidak benar-benar merdeka.

Kita tahu sekarang bahwa Yesus itulah kebenaran yang akan mereka kenal melalui hubungan pribadi.

Intinya, Yesus mau menyampaikan: “Ketika Aku memerdekakan kamu, kamu akan benar-benar merdeka.”

Demikianlah yang digambarkan secara kiasan dalam kitab Keluaran.

Sebab dalam kitab Keluaran, kita membaca solusi historis bagi masalah umat Allah yaitu perbudakan, dan kita membaca bahwa Allah yang memecahkan masalah perbudakan tersebut.

Bagaimana jalan keluar dari perbudakan di Mesir?

Allah adalah jalan keluarnya.

Allah adalah jawaban bagi masalahnya

Penerapan devosionalnya adalah bagaimana jalan keluar dari dosa kita, bagaimana kita dapat dilepaskan dari dosa kita.

Dalam kitab Keluaran, kita akan menemukan prinsip-prinsip kelepasan dari perbudakan di Mesir.

Prinsip-prinsip tersebut kalau kita terapkan dalam kehidupan kita masing-masing sekarang ini akan menunjukkan bagaimana kita dapat menemukan kelepasan dari perbudakan dan tirani dosa.

Bagaimana kita dapat mengenal kebenaran yang akan memerdekakan kita dari dosa kita.

Besok kita akan melanjutkan studi kita tentang kitab Keluaran.

Silahkan anda membacanya mulai sekarang, sambil mengajukan 3 pertanyaan penting: “Apa yang dikatakan dalam kitab Keluaran, apa maksudnya? Bagaimana maknanya bagi saya, bagaimana penerapannya bagi kehidupan saya? Apakah anda sudah bebas dari perbudakan dosa?”

Allah telah menyediakan kitab Keluaran bagi anda.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s