Membuat Seseorang yang Tidak Berarti Menjadi Berarti (OTS11)

Bagian 1

Selamat berjumpa.

Selamat datang di sekolah Alkitab mini, sebuah studi khusus tentang keseluruhan firman Allah 

Sementara kita melanjutkan studi tentang Perjanjian Lama, kita sampai kepada Kitab Keluaran.

Setelah menempatkan Kitab Keluaran dalam perspektif secara historis, saya ingin membahas apa yang merupakan pesan inti dari Kitab Keluaran 

Dalam kitab, ini kita akan berfokus kepada beberapa hal, misalnya kita berfokus kepada umat Allah yang unik, yang telah dikembangkan menjadi bangsa yang unik, melalui siapa Allah akan datang ke dalam dunia ini .

Hal lainnya akan menjadi fokus kita dalam kitab Keluaran, ini adalah masalah besar yang dihadapi umat Allah yaitu masalah perbudakan. 

Mereka berada di Mesir dan telah menjadi demikian banyaknya sehingga menjadi ancaman bagi Firaun dan Firaun memperbudak mereka. 

Jadi perbudakan yang penuh dengan kepahitan, kerja paksa yang sangat kejam yang ditimpakan kepada bangsa ini, itulah masalah yang harus dipecahkan. 

———————–

Kata Keluaran berarti jalan keluar. 

Pesan kitab Keluaran adalah begini: bagaimana jalan keluar dari perbudakan ini. 

Perbudakan ini adalah perbudakan sungguhan dan kisah tentang kelepasan dari perbudakan ini adalah salah satu mukjizat terbesar dalam Alkitab.

Ini kisah nyata. 

Ini adalah sejarah. 

Ini adalah salah satu mukjizat terbesar yang pernah terjadi di muka bumi. 

Antara 2 hingga 3 juta orang dilepaskan dari perbudakan. 

Bagaimana hal ini terjadi dan apa saja yang terlibat merupakan pesan yang sangat menarik dari kitab Keluaran. 

Dalam penerapannya selain bersifat historis, kitab Keluaran juga bersifat kiasan dan berisi kiasan yang mengandung kebenaran untuk kita terapkan dalam kehidupan kita secara nyata.

Penerapannya adalah begini. 

Kita pun adalah budak, kita tidak melakukan apa yang ingin kita lakukan. 

Kita melakukan apa yang harus kita lakukan. 

Dan kalau kita melakukan apa yang harus kita lakukan dan bukan apa yang ingin kita lakukan, kita tidak bebas. 

Kalau kita tidak bebas, kita adalah budak dan kita pun membutuhkan solusi. 

Kita perlu menemukan kelepasan dari perbudakan kita terhadap dosa. 

Kata keselamatan yang telah demikian kita kenal, sesungguhnya berarti hal yang sama terutama dalam perjanjian lama. 

Ketika anda membaca kata keselamatan atau kelepasan artinya sama saja. 

Dalam pengertian yang nyata, keselamatan artinya kelepasan dari dosa, bukan saja dari hukuman dosa di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, melainkan juga dari kuasa dosa.

Dalam kitab Wahyu, Yohanes mendedikasikan tulisannya itu bagi Yesus dengan mengatakan: “Bagi Dia, yang telah mengasihi kita dan melepaskan kita dari dosa dan menjadikan kita raja serta imam.” 

Keselamatan melibatkan datangnya kasih Allah ke dalam kehidupan anda. 

Keselamatan melibatkan kesadaran anda bahwa begitu besar kasih Allah kepada anda sehingga ia menganugrahkan anaknya yang tunggal bagi anda. 

Ketika anda memahami kasih Allah yang diterapkan bagi anda serta keselamatan anda, anda bukan saja akan diselamatkan dari dosa anda, dalam arti dilepaskan dari hukuman dosa dimasa mendatang atau bahkan di masa sekarang, tetapi anda pun dilepaskan dari kuasa dosa. 

Kelepasan dari kuasa dosa atau perbudakan dari dosa adalah pesan terapan yang nyata dari kitab Keluaran.

————————

Hal ketiga yang akan menjadi fokus kita dalam kitab Keluaran adalah apa yang kita sebut nabi.

Dalam kitab Keluaran, anda bukan saja membaca kisah tentang bangsa Israel serta masalah mereka, melainkan juga tentang nabi Musa. 

Jika anda merenungkan tokoh-tokoh di dalam kitab suci, saya percaya bahwa Musa adalah tokoh yang paling besar di antara mereka.

Saya percaya benar bahwa Musa adalah seorang tokoh terbesar di dalam kitab suci. 

Anda bisa menghargai kebesaran Musa ini jika anda merenungkan kontribusinya terhadap karya Allah. 

Abraham adalah bapa umat Allah dan seperti yang telah kita bahas sebelumnya: Yakub yang menamai mereka dan Yusuf yang menyelamatkan mereka, akan tetapi coba anda merenungkan apa yang Musa lakukan bagi umat Allah. 

Kitab Keluaran mencatatnya. 

Pertama, Musa memberikan kepada bangsa yang diperbudak ini kebebasan yaitu sesuatu yang diinginkan oleh para budak lebih dari apapun. 

Sebagian besar orang tidak pernah memahami seperti apa rasanya menjadi budak atau menjadi orang yang tidak bebas. 

Banyak orang dipenjara dan tidak bebas. 

Ketika orang di penjara yang paling menguasai mereka adalah hasrat untuk bebas.

Musa memberikan kebebasan kepada para budak tersebut, yang mereka inginkan lebih dari pada apapun juga.

Lalu Musa memberikan apa yang mereka butuhkan lebih dari pada apapun juga setelah mereka bebas yaitu pemerintahan atau hukum melalui Musa. 

Musa itulah yang memberi mereka hukum dan pemerintahan. 

Dalam bidang rohani, Musa memberi umat Allah dua hal yang tak ternilai. 

Ia memberi mereka firman Allah dan juga ibadah. 

Coba anda merenungkannya sejenak. 

Lima kitab pertama dalam Alkitab disebut kitab hukum. 

Kelima kitab pertama dalam Alkitab itu diberikan kepada Musa di gunung Sinai. 

Ia beberapa kali mendaki gunung ini. 

Menanggapi doa serta puasa Musa, Allah memberinya kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. 

Di dalam kelima kitab ini ada kira-kira 500 hukum juga sejarah. 

Demikian banyak hukum yang tertulis dalam kelima kitab ini, sehingga kelimanya disebut sebagai hukum Allah atau hukum Musa atau firman Allah. 

Firman Allah menunjukkan bagaimana seharusnya kita hidup. 

Manusia hidup bukan dari roti saja melainkan dari setiap firman Allah. 

Itulah maksud hukum ini.

Kelima kitab pertama dalam Alkitab adalah batu penjuru Alkitab, sebab kelimanya memberi kita firman Allah yang murni. 

Itulah firman yang di khotbah para nabi. 

Itulah firman yang dalam buku sejarah terkadang ditaati terkadang tidak ditaati. 

Kita kepada siapa akhir zaman telah tiba menurut rasul Paulus, terkadang diberikan contoh dan terkadang diberikan peringatan melalui kelima kitab pertama itu. 

Firman Allah yang murni adalah dalam kelima kitab pertama Alkitab dan kelimanya diberikan melalui Musa. 

Jika kita merenungkan kontribusi Musa bagi umat Allah, dapatlah kita katakan bahwa Musa memberikan firman Allah kepada umat Allah. 

Kontribusi mana lagi yang lebih besar daripada itu. 

——————- 

Musa juga memberi mereka ibadah

3 pasal terakhir kitab Keluaran  terbaca seperti buku spesifikasi.

Ketika orang membaca Alkitab mereka mudah memahami kitab Kejadian, terutama studi-studi tentang para tokohnya, lalu ada drama keluaran kelepasan dari Mesir, itu juga mudah dipahami.

Akan tetapi begitu sampai pada 3 pasal yang terakhir kitab Keluaran,  Alkitab mulai terbaca seperti buku spesifikasi.

Seandainya seorang arsitek memberi anda buku tentang arsitektur, buku itu tidak akan menjadi bacaan paling menarik bagi seseorang yang awam di bidang tersebut, seperti itulah 3 bab terakhir kitab Keluaran.

Lalu ketika orang sampai ke kitab Imamat, seringkali mereka benar-benar menyerah.

Mengapa kita menjadi mandek begitu tiba pada 3 pasal terakhir kitab Keluaran  dan memasuki kitab Imamat, sebab kita tidak mengerti bahwa Allah memberi Musa penyataan, ketika memberi nya firman yang murni ini.

Allah ingin menunjukkan kepada Musa, bagaimana Allah yang kudus bisa didekati oleh bangsa yang berdosa, didekati demi keselamatan, demi petunjuk dan juga demi komunikasi .

Di dalam kitab Keluaran, Allah menunjukkan bagaimana Ia menyelamatkan kita dari perbudakan serta tirani dosa, khususnya di dalam 3 pasal terakhir kitab Keluaran,  Allah menunjukkan salah satu maksud pertama keselamatan itu, yaitu untuk beribadah kepadaNya

Allah mau mengenal kita dan Allah mau kita mengenalnya

Ia mengundang kita untuk datang dan menjalin hubungan denganNya serta beribadah kepadaNya

Kita perlu diajari dalam beribadah, kita tidak mengetahui bagaimana caranya beribadah. 

Para Rasul datang kepada Yesus dan berkata: “ya Tuhan, ajarlah kami berdoa, ,mereka tidak tahu bagaimana caranya berdoa.

Banyak orang tidak mengetahui bagaimana caranya berdoa dan bagaimana caranya beribadah.

Dalam bentuk ibadah di gereja-gereja sekarang ini terutama gereja-gereja yang kita sebut bersifat liturgis, sang imam lebih banyak membelakangi jemaat dan menghadap altar.

Gereja-gereja ini dan synagogue-synagogue, dalam iman Yahudi, berakar dalam bentuk-bentuk ibadah yang kita temukan dalam ibadah di tenda yang dibangun oleh Musa menurut petunjuk Allah .  

Kita akan menelaah ibadah di tenda ini dengan lebih rinci ketika kita sampai ke kitab Imamat, seandainya anda melihat tenda ibadah ini anda akan berpikir bahwa tampaknya sama seperti tenda sirkus.

Mungkin anda tidak akan terlalu terkesan, warnanya macam-macam.

Bagian 2

Kita sedang membahas kitab Keluaran  dan mempelajari kehidupan Musa. 

Pada akhir usia 40 tahun yang ke-2, Musa mendapatkan suatu pengalaman .

Ketika itu ia sedang berada di padang gurun dan suatu semak akasia terbakar yang sesungguhnya bukan sesuatu yang tidak lazim di sana, hanya saja biasanya semak menyala itu habis terbakar akan tetapi yang satu itu ternyata tidak habis terbakar dan terus saja menyala maka Musa penasaran dan mendekatinya.

Saya akan membacakan dari keluaran pasal 3 

—————————-

“Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.” Tetapi Musa berkata kepada Allah: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” Lalu firman-Nya: “Bukankah Aku akan menyertai engkau? (Kel 3:1-12)

Musa telah 40 tahun belajar di Seminari dan itulah saatnya ia diwisuda.

Pada semak yang menyala tersebut, Allah berfirman kepada Musa: “Musa, engkau telah  melihat masalahnya dan hal itu patut dipuji, banyak orang yang tidak pernah melihat masalahnya kecuali kita sendiri di penjara, dirawat di rumah sakit atau di rawat di rumah sakit jiwa mungkin kita takkan pernah melihat masalahnya, sebab sekarang ini seringkali masalahnya sudah melembaga, tidak kelihatan dan tidak terpikirkan, jadi banyak orang yang tidak melihat masalahnya dan Allah berfirman kepada Musa,  “Musa engkau telah melihat masalahnya dan hal itu patut dipuji dan Musa engkau merasakan sesuatu, engkau merasakan bela kasih dan hal itu bagus sekal, engkau ingin melakukan sesuatu dan hal itu baik, akan tetapi yang penting bukanlah bahwa engkau telah melihatnya, bahwa engkau peduli, bahwa engkau ingin melakukan sesuatu, yang penting adalah bahwa Aku sendiri juga melihat masalahnya dan Aku peduli tentang bangsa itu. Aku berbelas Kasih dan Aku ingin melakukan sesuatu, Aku datang untuk melakukan sesuatu.

Pada titik ini anda mungkin berpikir bahwa Musa pasti akan menjawab: “Bagus kalau begitu, saya jadi bisa kembali menggembalakan domba.” 

Allah berfirman, “Oleh karenanya datanglah kepadaku maka aku akan mengutusmu kepada Firaun sehingga engkau menjadi penyelamat bangsa ini.

Pada titik tersebut, Musa mengatakan, memangnya saya ini siapa? mengapa engkau memilih saya?

Itulah akhir usia 40 tahun yang ke-2 dalam kehidupan Musa, dan Allah berusaha meyakinkan Musa akan pelajaran ini. 

“Musa, engkau bukan sembarang orang, dalam usia 40 tahun yang pertama Allah mengajarinya bahwa ia bukan siapa-siapa”  

Dalam usia 40 tahun yang ke-2 Allah mengajarinya bahwa ia bukan sembarang orang.

____________

Menurut DL Moedy, Memasuki usia 40 tahun yang ke-3 dalam kehidupan Musa, Allah mengajarkan apa yang sanggup Allah lakukan dengan seseorang yang telah menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa. 

Kita menyebutnya kerendahan hati.

Apa sebenarnya kerendahan hati itu? 

Sulit sekali didefinisikan. 

Saya pernah mendengar tentang seorang pengkhotbah yang diberikan medali kerendahan hati oleh jemaatnya, namun belakangan mereka terpaksa mengambilnya kembali karena sang pengkhotbah terus saja mengenakannya. 

Dapatlah kita katakan bahwa apa yang Allah ingin hasilkan pada diri Musa agar Musa bisa menjadi penyelamat adalah kerendahan hati. 

Dengan kata lain, agar Musa bisa menjadi penyelamat besar, Allah harus mengajarkan: “Musa engkau bukan siapa-siapa.” 

Dengan menyadari bahwa engkau bukan siapa-siapa, engkau menjadi bukan sembarang orang 

Sebab Aku menunjukkan apa yang sanggup Aku lakukan dengan seseorang yang telah menyadari bahwa dirinya bukan siapa-siapa. 

Apakah anda pernah bertanya mengapa Musa menjawab: “Memangnya saya ini siapa?” 

Coba anda merenungkannya sejenak, siapakah Musa itu? 

Seandainya anda ingin mengutus seseorang untuk melepaskan bangsa itu, apakah anda akan mengutus Musa?

Pertama Musa telah membunuh. 

Apakah anda mau mengutus orang pembunuh musuh masyarakat nomor satu untuk kembali ke Mesir? 

Sungguh menarik bahwa tiga tokoh yang digunakan oleh Allah adalah pembunuh. 

Paulus seorang pembunuh. 

Daud juga seorang pembunuh. 

Dan Musa juga seorang pembunuh. 

Nyatanya Allah tetap menggunakan mereka. 

Apakah anda akan memilih seorang pembunuh? 

Sudah jelas sekarang bahwa Musa adalah orang ibrani. 

Dalam kitab kejadian bangsa Mesir tidak mau berurusan dengan bangsa ibrani. 

Diskriminasi dan prasangka sudah terjadi sejak zaman dahulu. 

Bangsa Mesir bahkan tidak mau makan bersama-sama bangsa Ibrani. 

Apakah anda akan mengutus orang ibrani? 

Lalu juga dikatakan bahwa bagi bangsa Mesir hal yang lebih menjijikan dari bangsa Ibrani adalah seorang gembala. 

Mereka membenci gembala, sebab mereka menyembah sapi dan mereka membenci domba  serta gembala domba.

Allah berfirman kepada Musa: “Apakah yang di tanganmu itu? 

Jawab Musa: “Tongkat gembala.”

Firman Tuhan: “Lambaikanlah tongkat gembalamu itu di hadapan Firaun, hal itu pasti membuatnya marah besar. Biarlah ia mengetahui bahwa engkau seorang gembala.”

Demikianlah Musa adalah orang ibrani, pembunuh, gembala dan putra adopsi yang tidak tahu berterima kasih, setelah 40 tahun hidup di istana Firaun dan menunjukkan terima kasihnya dengan membunuh seorang pejabat Mesir. 

Apa Musa benar-benar memenuhi syarat untuk menjadi penyelamat? 

Tentu tidak bukan? 

Memilih orang yang tepat untuk melaksanakan tugas penting, adalah salah satu hal yang menjadikan seseorang dianggap sukses atau gagal. 

Banyak presiden yang sukses dan banyak yang gagal karena tidak mampu memilih orang yang tepat. 

Ketika seorang presiden berusaha memilih orang untuk melakukan laksanakan tugas baginya, ia berusaha memilih orang yang paling memenuhi syarat. 

Di dalam Alkitab, anda melihat Allah memilih orang seperti Musa untuk melakukan hal yang sangat penting seperti melepaskan umatnya dari perbudakan di Mesir.

Seolah-olah Allah memilih orang yang paling tidak memenuhi syarat. 

Jika seseorang sungguh menyakini bahwa ia tidak memenuhi syarat dan sungguh percaya bahwa Allah seorang yang sanggup melepaskan, mungkin dia-lah yang akan digunakan oleh Allah, untuk mengadakan mujizat kelepasan.

Ketika anda merenungkan panggilan terhadap Musa, anda dapat melihat kebenaran tersebut diilustrasikan dengan sangat jelas. 

Jika kita mau digunakan oleh Allah untuk melepaskan sesama sekarang ini, atau kalau kita mau melihat teman atau orang yang kita kasih dilepaskan dari perbudakan dosa, jangan pernah melupakan hal ini; “Bukan kita yang akan melepas mereka, hanya Allah saja yang sanggup melepaskan.” 

Dalam perjanjian baru Yesus memberikan salah satu ilustrasinya, ketika ia pergi ke sebuah kebun bersama murid-muridNya. 

Ia menarik tentang pokok anggur dengan ranting yang berbuah. 

Lalu Ia memberikan suatu pengajaran yang luar biasa. 

Ia baru saja dari ruang atas bersama murid-muridNya. 

Di ruang atas Ia mengatakan adalah rencana Allah untuk menggunakan kuasaNya dalam umatNya untuk melaksanakan maksud-maksudNya menurut rencanaNya. 

Kamu terpesona menyaksikan karya yang Aku lakukan dan mendengar perkataan yang Aku ucapkan. 

Ketahuilah bahwa segala karya maupun perkataanKuu adalah luapan dari hubunganKu dengan Bapa. 

Aku dan Bapa adalah satu dan segala karya yang Kulakukan dan segala perkataan yang Kuucapkan adalah hasil dari fakta bahwa Aku dan Bapa adalah satu.

Setelah itu Ia menambahkan. 

“Aku akan pergi meninggalkan kamu dan setelah Aku pergi Roh Kudus akan datang dan jika kamu menjadi satu dengan Roh Kudus, sama seperti Aku dan Bapa adalah satu, maka Roh Kudus akan memungkinkan kamu melakukan karya-karyaKu dan mengucapkan perkataanKu.”

Sebagai rangkuman Yesus mengatakan, “Karya Allah dilakukan di bumi melalui Aku dan firman Allah diucapkan melalui Aku, sebab Aku dan Bapa adalah satu.” 

“Jika kamu ingin menjadi satu dengan Roh Kudus, karyaKu akan dilakukan melalui kamu dan perkataanKu akan diucapkan melalui kamu.” 

———————-

Setelah mengajarkan demikian, Yesus menarik sebuah pokok anggur dengan ranting yang berbuah dan mengatakan: “Kamu melihat bagaimana ranting-rantingnya tertanam pada pokok anggurnya?” 

“Itulah yang memungkinkan ranting-ranting ini berbuah.” 

Dalam ilustrasi tersebut Yesus menyampaikan dua hal. 

Ia mengatakan: “Tanpa-Ku engkau tidak dapat melakukan apa-apa.” 

Di lain pihak Yesus juga mengatakan: “Tanpamu Aku tidak akan melakukan apa-apa.”

Sampai disini kita hari ini studi kita hari ini.

Ikuti sesi berikutnya dan ajaklah teman anda untuk bersama-sama mendengarkan kelanjutan pembahasan kitab Keluaran ini. 

Dan ingatlah adalah rencana Allah untuk menggunakan kuasaNya di dalam umatNya, untuk melaksanakan maksud-maksudNya menurut rencanaNya.  Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s