Empat Rahasia Rohani (OTS12)

Bagian 1

Selamat berjumpa.

Selamat datang di sekolah Alkitab mini yang menelaah keseluruhan isi Alkitab.

Pelajaran ini membantu anda memahami serta menerapkan firman Allah dalam kehidupan anda. 

Saya sangat bergembira dengan pelajaran hari ini, sebab mengandung kebenaran yang sangat mengagumkan, oleh karena itu dengarkan baik-baik sebab ini adalah studi yang sangat penting.

———————–

Sementara kita melanjutkan pelajaran kita dalam kitab Keluaran, kita akan berfokus pada hal-hal seperti: orangnya, masalahnya serta nabinya. 

Di dalam kitab Keluaran, kita melihat perkembangan umat Allah yaitu umat Allah yang istimewa ini. 

Kitab Keluaran juga berfokus pada masalah besar yang mereka hadapi yaitu masalah perbudakan. 

Perbudakan mereka yang pahit di Mesir.

Dalam pasal 2 dan 3, Allah telah difokuskan bagi kita. 

Salah satu orang terbesar yang pernah hidup yaitu Musa. 

Ia adalah nabi yang dipanggil oleh Allah untuk menjadi penyelamat, yang akan menjadi pelaku atau instrumen bagi Allah untuk menyelamatkan bangsa ini dari perbudakan mereka di Mesir.

Perbudakan sejarah di Mesir ini secara alegoris adalah simbol perbudakan kita terhadap dosa.

Keselamatan dari perbudakan di Mesir secara simbolis adalah gambaran keselamatan kita. 

Hal ini juga berarti bahwa Musa sebagai penyelamat secara simbolis adalah gambaran pelaku atau instrumen yang menjadi saluran bagi Allah untuk menyelamatkan umatNya dari perbudakan dosa. 

Orang seperti ini biasa kita sebut pengabar injil atau pemenang jiwa. 

Sementara kita merenungkan panggilan serta perintah kepada Musa di dalam kitab Keluaran pasal 2 dan pasal 3, kita melihat bahwa Allah harus mempersiapkan Musa dan mengajarinya beberapa hal sebelum ia menjadi penyelamat. 

Allah harus mengajarinya bahwa ia bukan siapa-siapa. 

Lalu Allah harus meyakinkannya bahwa ia bukan sembarang orang. 

Dan Allah harus menunjukkan kepada Musa apa yang ia sanggup lakukan dengan seseorang yang telah menyadari bahwa ia bukan siapa-siapa. 

Di atas segalanya ada 4 rahasia rohani yang Allah harus sampaikan kepada Musa untuk memungkinkan dia menjadi penyelamat bangsa Israel. 

Jika anda berminat menjadi penyelamat seseorang, sebelum anda bisa menjadi pelaku atau instrumen dari Allah, anda pun harus mempelajari rahasia-rahasia rohani ini. 

Saya tidak mungkin berfungsi sebagai pendeta dan saya tidak mungkin menjadi orang percaya yang efektif, seandainya saya belum mengetahui keempat rahasia rohani ini.

Saya pun juga harus sering-sering diingatkan akan ke 4 rahasia ini. 

Ke-4 rahasia rohani yang Allah harus sampaikan kepada Musa ini adalah: 

Pertama, Allah berkata “Musa bukan kamu melainkan aku yang menyelamatkan dan aku menyertai engkau, Musa.”

Kedua, Allah harus menunjukkan kepada Musa: “Musa tidak sanggup menyelamatkan siapapun namun Aku sanggup dan aku menyertai engkau, Musa” 

Rahasia rohani ketiga yang kita petik dari panggilan terhadap Musa adalah: “Musa engkau tidak mau menyelamatkan bangsa ini, Aku mau menyelamatkan mereka dan Aku menyertai engkau Musa.” 

Setelah mukjizat keselamatan itu terjadi tidak seorang pun harus menjelaskan rahasia rohani keempatnya kepada Musa, “Musa bukan engkau yang menyelamatkan bangsa itu, melainkan Aku, sebab Aku menyertai engkau, Musa.”

—————————–

Saya tidak mengetahui bagaimana perasaan anda tentang pelayan yang kita sebut pekabaran injil. 

Bagaimana perasaan anda menjadi sarana bagi Allah untuk melakukan karyaNya. 

Menurut ilustrasi Yesus yaitu carang yang harus tetap tinggal di dalam pokok anggurnya.

Saya telah sampai kepada kesimpulan ini: 

Ke-4 rahasia rohani yang disampaikan Allah kepada Musa ini, sehingga Musa berhasil menyelamatkan bangsa Israel adalah rahasia rohani yang kita semua harus ketahui. 

Pada prinsipnya Allah berfirman kepada Musa, “Musa bukan engkau yang menyelamatkan bangsa Israel melainkan Aku dan Aku menyertai engkau.” 

Allah juga berfirman kepada Musa melalui semak yang menyala, “Musa engkau tidak sanggup menyelamatkan siapapun, namun Aku sanggup dan Aku menyertaimu.” 

Rahasia rohani yang kedua ini menjadi sangat jelas ketika Musa mengalami kegagalan. 

Allah mengajarkan rahasia-rahasia rohani ini kepada banyak umatNya di dalam kitab suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Salah satu alat kesukaan Allah untuk mengajar umatNya tentang rahasia rohani yang kedua ini adalah bahwa engkau tidak sanggup namun Aku sanggup, adalah kegagalan. 

Allah menggunakan kegagalan untuk mengajarkan rahasia rohani ini kepada umat manusia.

Fakta bahwa Musa sempat mencoba dan gagal memudahkan Allah untuk menyampaikan rahasia rohani kedua ini kepadanya. 

Rahasia rohani ketiga bisa digambarkan begini, “Musa engkau tidak mau menyelamatkan bangsa Israel. Aku mau dan Aku menyertaimu.” 

Umat Allah di dalam kitab suci sangat jujur tentang hal ini. 

Umat Allah yang dipanggil olehNya untuk melakukan karya besar, hampir semuanya mengatakan, “Saya tidak mau.” 

Musa tidak mau, namun Allah berfirman: “Aku mau, mari kita pergi. Aku menyertaimu.”

Musa mengajukan lima keberatan ketika Allah memerintahkannya. 

Anda bisa menemukan keberatan-keberatan Musa, di pasal-pasal awal kitab Keluaran.

Keberatan Musa yang pertama adalah: “Memangnya saya ini siapa? Mengapa engkau memilih orang yang seperti saya?” 

Seperti yang telah kita bahas dalam sesi yang lalu, Musa mengajukan banyak keberatan. 

Ia musuh masyarakat nomor satu, pembunuh, orang Ibrani, penggembala, anak adopsi yang tidak tahu berterima kasih dan tampaknya ia kesulitan berbicara. 

Keberatan Musa yang kedua adalah: “Nanti mereka akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sanggup saya jawab.” 

Mungkin yang Musa maksudkan disini adalah para tua-tua Ibrani yang harus diyakinkannya bahwa ia diutus oleh Allah untuk menyelamatkan bangsa Israel. 

Nanti mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sanggup saya jawab. 

Ketika anda berhadapan dengan orang lain, apakah anda tidak mengajukan keberatan yang sama? 

“Memangnya saya ini siapa? Saya bukan pengkotbah. Mengapa harus saya yang harus membagikan iman kepada orang lain?” 

Lalu biasanya anda juga mempunyai keberatan ini: “Nanti mereka mengajukan pertanyaan pertanyaan teologi yang tidak sanggup saya jawab.” 

Menarik bukan? 

Bahwa ketika Musa mengajukan keberatan yang pertama: “Memangnya saya ini siapa?” 

Allah menjawab: “Engkau adalah orang pilihanKu dan Aku menyertai kamu. Itulah kamu.” 

Dan ketika Musa mengajukan keberatan: “Nanti mereka mengajukan pertanyaan yang tidak sanggup saya jawab.” 

Allah menjawab Musa: “Engkau tidak perlu menjawab pertanyaan mereka. Beritahukan saja, Aku adalah Aku dan Aku yang mengutusmu kepada mereka. Hanya itu yang perlu engkau sampaikan kepada mereka.”

“Jangan terjebak pada argumentasi yang berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.” 

——————–

Keberatan Musa yang berikutnya adalah: “Mana mungkin mereka percaya?” 

Pada titik tersebut Allah memberi Musa sebuah pelajaran. 

Allah menyuruh Musa memasukkan tangannya ke dalam jubahnya, lalu mengeluarkannya lagi.

Ketika Musa mengeluarkan tangannya ternyata tangannya sudah terkena kusta.

Allah kembali menyuruh dan kali ini tangan Musa sembuh.

Lalu Allah berfirman: “Apa yang kau pegang itu?” 

Dan Musa menjawab: “Sebuah tongkat gembala.” 

Yang kemudian digunakan oleh Allah dengan hebatnya selama pelayanan Musa. 

Dan Allah berfirman: “Letakkan ke tanah.”

Dan ketika Musa meletakkan tongkatnya ke tanah, tongkatnya berubah menjadi ular. 

Maksud meletakkan di sini adalah DEDIKASI.

Secara simbolis Allah berfirman: “Ketika orang kepada siapa engkau Kuutus melihat dedikasi, ketika mereka melihat mukjizat, ketika mereka melihat bukti-bukti bahwa engkau berdedikasi dan bawa Aku menyertaimu, mereka pasti akan percaya kepadamu, jangan khawatir mereka pasti percaya kepadamu.” 

Keberatan Musa yang keempat adalah bahwa ia kurang fasih mengekspresikan diri.

Hal itu bisa berarti bahwa Musa merasa dirinya kurang fasih berbicara atau mengalami kesulitan untuk berbicara. 

Mungkin bicaranya gagap. 

Dari keberatan Musa yang pertama: “Memangnya saya ini siapa?”, jelas bahwa Musa adalah pilihan Allah dan Allah sudah mengetahui semuanya itu. 

Mungkin itulah sebabnya Allah memilih Musa sebab Allah menginginkannya menjadi jelas bahwa penyelamatan itu adalah berkat kuasa Allah sendiri dan bukan berkat kharisma manusia tertentu. 

Itulah sebabnya Allah menginginkan seorang Ibrani, seorang penggembala mungkin yang bicaranya gagap menghadap Firaun menuntut bangsa Israel dilepas. 

Ketika umatNya dilepaskan, Allah tidak mau siapa pun mengatakan: “Oh, semuanya berkat Musa, Musa demikian fasih. Saya menyaksikannya sendiri ketika Musa menuntut bangsa Israel dilepaskan. Benar-benar hebat.” 

Allah tidak menginginkan demikian, itulah sebabnya Allah memilih orang yang dipilihNya.

Demikianlah ke-4 rahasia rohani yang Allah harus ajarkan kepada Musa, sebelum ia berhasil menyelamatkan bangsa Israel. 

Pertama, bukan engkau yang menyelamatkan melainkan Aku dan Aku menyertaimu. 

Kedua engkau tidak sanggup menyelamatkan bangsa Israel, namun Aku sanggup dan Aku menyertaimu. 

Ketiga engkau tidak mau menyelamatkan bangsa Israel namun Aku mau dan Aku menyertaimu.

Keempat bukan engkau yang menyelamatkan bangsa Israel melainkan Aku, sebab Aku menyertaimu. 

Bagian 2

Kita telah tiba pada pasal-pasal awal kitab Keluaran.

Dalam banyak hal, pesan terpenting yang kita petik dari kitab Keluaran terkemas dalam karakter Musa, salah seorang pilihan Allah yang paling besar yang pernah hidup. 

Di dalam siaran terakhir, saya setelah menjelaskan empat rahasia rohani yang kita temukan di dalam kisah kehidupan Musa, serta tokoh Alkitab lainnya seperti Petrus di dalam Perjanjian Baru. 

——————————–

Saya tidak mungkin berfungsi sebagai seorang Kristen atau seorang pendeta seandainya saya tidak mempercayai ke-4 rahasia rohani ini.

Sebagian orang beriman dengan sayap-sayap patah. 

Yesus mengatakan: “Marilah kepadaku engkau yang letih lesu dan berbeban berat, maka Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” 

Banyak orang ketika datang kepada Kristus atau menjadi beriman berbeban berat, mempunyai banyak masalah. 

Ketika saya menjadi beriman usia saya 19 tahun dan saya mempunyai banyak masalah 

Karena masalah-masalah ini saya menjadi rendah diri. 

Belakangan saya mempelajari psikologi dan saya menemukan ternyata masalah rendah diri itu tidak rumit seperti istilah inferiority complex.

Tetapi saya sempat menganggapnya rumit sebab sayap-sayap saya patah. 

Saya sangat pemalu. 

Saya sangat pemalu sehingga ketika saya menjadi staf sebuah gereja, seorang wanita di gereja ini bertanya kepada sang pendeta: “Apakah saya orang terbelakang?” 

Saya teringat akan salah satu penugasan pertama yang diberikan kepada saya, ketika saya menjadi staf gereja tersebut, yaitu mengunjungi sepasang suami istri.

Sang isteri telah menjadi orang percaya. 

Suaminya orang pejabat angkatan laut belum menjadi orang percaya.

Saya dan isteri saya makan malam bersama mereka.

Saya harus menuntun sang suami kepada Kristus. 

Ketika itu sang suami sedang di ruang tamu bersama saya, istri kami sedang di dapur.

Saya menderita sakit kepala migrain, saya pucat pasi dan berkeringat. 

Saya mabuk. 

Ketika kami berbasa-basi, pria ini memandangi saya dan bertanya: “Anda tidak apa-apa?” 

Saya menjawab: “Rasanya saya akan terserang stroke.” 

Ia mengatakan: “Coba anda berbaring di sofa.” 

Lalu ia memberi saya kain basah yang dingin untuk diletakkan di kepala saya. 

Padahal seharusnya saya yang menuntunnya kepada Kristus. 

Lalu saya menjadi demikian sakitnya sehingga kami terpaksa pulang sebelum makan malam.

Belakangan sang suami memutuskan bahwa seandainya pesan saya demikian pentingnya sehingga saya bersedia datang walaupun sedang sakit, pesan saya pasti layak ia dengarkan.

Ia mencari seseorang yang ia tahu sudah menjadi orang percaya dan bertanya bagaimana caranya menjadi orang percaya.

Dan ia menjadi orang percaya. 

Demikianlah awal pelayanan saya. 

Itulah sebabnya saya tidak sanggup berfungsi sebagai pendeta, sebagai umat kristiani atau sebagai manusia, hingga saya mempelajari keempat rahasia rohani ini.

Allah memanggil kita sebagai pelayan sebagai orang percaya untuk menyelamatkan.

Allah mau kita menjadi instrumen supaya orang lain diselamatkan. 

Saya harus mempelajari keempat rohani ini, kalau tidak, saya tidak mungkin berfungsi sebagai pendeta. 

Dua rahasianya pertama adalah: “Bukan saya melainkan Dia dan Dia menyertai saya. Saya tidak sanggup namun Ia sanggup dan Ia menyertai.”

Saya jujur terhadap Allah.

Saya sering bangun pagi-pagi dan mengatakan: “Allah, saya tidak mau”.

Lalu Allah akan mengatakan: “Tidak relevan. Aku mau dan Aku menyertaimu, mari kita pergi.”

Saya sungguh sulit mempercayainya.

Namun ketika saya menemukan bahwa Allah menggunakan saya dan aklamasi mulai datang, saya harus menjelaskan kepada orang-orang tentang rahasia rohani yang keempat, “Bukan saya yang melakukannya melainkan Allah sebab Ia menyertai saya.”

Pada suatu kebaktian pagi, ada beberapa ratus orang yang mempelajari kitab dan mereka bangkit berdiri memberikan sambutan kehormatan bagi saya. 

Salah seorang yang hadir mengatakan bahwa salah satu hal yang paling disyukurinya tahun itu adalah saya, gurunya, sebab ia menjadi saya karena saya. 

Kebetulan saya baru saja mendengar komentar doktor Garske di radio, maka saya pun menanggapinya dengan menceritakan keledai yang digunakan Allah untuk berfirman kepada Bileam.

“Wahai sahabat, seandainya Allah telah berfirman kepada anda melalui kebaktian pagi ini atau datang ke dalam kehidupan anda melalui kebaktian pagi ini, bersyukurlah kepada-Nya. Jangan berterima kasih kepada keledaiNya. Sebab keledaiNya hanya sarana untuk menyampaikan pesanNya.” 

Tersebarlah kabar bahwa saya menyebut diri saya keledai. 

Beberapa pendeta yang sangat baik mengajak saya makan siang dan bertanya: “Apakah benar kamu menganggap dirimu keledai?” 

Dan saya menjawab mereka: “Bukan saya saja yang keledai anda semua juga keledai, sebab kita semua hanyalah sarana firman Allah, jangan lupa itu.”

—————————

Inilah pesan yang akan berulang kali kita lihat di dalam studi tentang tokoh-tokoh Alkitab tentang orang-orang yang digunakan oleh Allah. 

Allah menggunakan kita sekarang ini bukan karena kita ini siapa, Allah justru menggunakan kita sekarang ini, terlepas dari siapa kita ini. 

Jangan pernah melupakan fakta bahwa Allah sendiri yang melakukan karya penyelamatanNya melalui kita.

Ada ilustrasi di dalam perjanjian baru yang sejajar dengan pengalaman Musa.

Di dalam injil Lukas pasal 5 Tuhan mengajarkan keempat rahasia rohani yang sama kepada Petrus. 

Ketika itu bukan pertama kalinya Tuhan berjumpa dengan Petrus. 

Mereka sudah diperkenalkan dan Tuhan telah memberikan tantangan kepada Petrus: “Ikutlah Aku, maka Aku akan menjadikanmu penjala manusia.” 

Ketika itu Petrus belum menerima tantangan tersebut.

Pagi itu Tuhan terdesak ke laut Galilea oleh orang banyak yang mau mendengarNya mengajar.

Petrus telah semalaman menjala ikan tanpa mendapatkan apa-apa. 

Tuhan meminjam perahu Petrus sebagai mimbar. 

Petrus meminjamkannya. 

Tuhan pun mengajar orang banyak dari perahu Petrus. 

Setelah selesai mengajar Tuhan mengarahkan perhatiannya kepada Petrus. 

Kita tidak diberitahu tentang orang banyak itu, apa yang diajarkan Tuhan kepada mereka atau bagaimana tanggapan mereka, sebab yang penting bukankah itu. 

Ketika Ia memberi pelajaran pagi itu, Tuhan mengetahui bahwa kepada Petruslah Roh Kudus akan turun ke dunia pada hari pentakosta.

Yesus sudah mengetahui bahwa suatu hari kelak Petrus akan berkeliling di Yerusalem dan orang akan merangkak agar terkena bayang-bayang Petrus sehingga mereka sembuh. 

Yesus sudah mengetahui semuanya itu, masalahnya sekarang adalah bagaimana Ia akan mengubah Petrus yang gagal menangkap ikan menjadi sarana untuk menjala manusia. 

2 perkataan terakhir dari Lukas pasal 5 ayat 10 disebut rencana agung. 

Yesus berkata kepada Petrus: “Petrus ikutlah Aku, maka Aku akan menjadikan engkau penjala manusia.” 

Bagi Allah mengambil orang yang tidak dapat menangkap ikan dan mengubahnya menjadi seorang yang dapat memenangkan manusia, Yesus  harus mengajarkan empat hal kepadanya.

Pertama, Petrus kamu bukanlah penjala ikan. Akulah penjalanya dan Aku menjala dengan perahumu. Saya sedang berada di kapalmu. 

Ketika akhirnya mereka pergi menangkap ikan, Petrus sebenarnya enggan. 

Ketika mereka pergi memancing dan sampai ke laut yang dalam, Yesus berkata: “Tebarkanlah jalamu.” 

Dan ketika Yesus menyuruhnya menebarkan jalanya, Petrus memberikan Yesus suatu statistik dari pengalamannya menjala ikan. 

Petrus menjawab: “Suda semalaman kami memancing, namun tidak menangkap apa-apa.”

Saya membayangkan jedah sekian detik sementara Tuhan memandangi Petrus, hingga pada akhirnya Petrus mengalah, “Karena Engkau yang meminta, saya akan menebarkan jala juga.”

Kita mengetahui kelanjutan ceritanya.

Jalanya penuh ikan. 

Perahu Petrus hampir tenggelam. 

Teman-temannya datang menolong dan perahu mereka pun penuh ikan sehingga hampir tenggelam. 

Tuhan berusaha mengajar Petrus, “Petrus, kalau mau menjadi penjala manusia, ketahuilah bahwa Akulah penjalanya bukan kamu. Engkau tidak sanggup menjala manusia, ikan pun engkau tidak sanggup menjalanya, akan tetapi Aku sanggup dan Aku menggunakan perahumu Petrus.” 

“Engkau tidak mau menjala manusia.” 

Petrus tidak mau menjala ikan seperti Musa tidak mau membebaskan orang-orangnya. 

Yesus berkata: “Namun Aku mau.” 

Di dalam kitab Para Rasul kita menemukan kembali rahasia rohani ke-4 yang dinyatakan di dalam kehidupan Petrus. 

Petrus menjadi penjala manusia yang hebat dan pemimpin jemaat Perjanjian Baru yang hebat.

Ia yang berkhotbah pada hari Pentakosta dan 3.000 orang diselamatkan karenanya. 

Ia seorang penjala manusia yang hebat. 

Bagaimana ia bisa menjadi penjala manusia? 

Jawabannya ada di dalam lukas pasal 5. 

Ketika Yesus mengajarkan keempat rahasia rohani ini kepadanya. “Petrus bukan kamu penjalanya melainkan Aku. Engkau tidak sanggup menjala ikan apa lagi manusia. Namun Aku sanggup. Engkau bahkan tidak mau menjala namun aku mau.”

Ketika hal itu terjadi, tidak seorang pun memberitahu Petrus, “Petrus, bukan kamu yang berhasil menjalani melainkan Yesus, sebab Yesus berada di perahumu.” 

Saya sungguh percaya bahwa keempat rahasia rohani ini sungguh penting. 

Jika kita mau menjadi alat bagi Allah, maka Ia akan berkarya. 

Panggilan terhadap Musa mengilustrasikan hal ini, demikian pula panggilan terhadap Petrus.

Adalah rencana Allah untuk menggunakan kuasaNya melalui orang-orang untuk mencapai maksud-maksudNya. 

Agar hal itu terjadi umat Allah harus mempelajari ke-4 rahasia rohani ini.

————————————

Saya pernah mendengar kisah tentang seorang pilot yang terbaik. 

Ia mempunyai kotak penyimpanan di ruang keluarganya dan sebelum ia berangkat kerja setiap paginya ia selalu mengambil sebuah kotak hitam dari tempat penyimpanannya. 

Dari dalam kotak hitam itu, ia selalu mengeluarkan selembar kertas dan membacanya. 

Dan melihatnya secara sungguh-sungguh, setelah itu baru ia berangkat kerja. 

Hal itu dilakukan setiap hari tahun demi tahun. 

Ia tidak memberi tahu istrinya apa tulisan yang dibacanya itu. 

Setelah ia meninggal, istrinya baru membuka kotak penyimpanannya itu dan mengambil lembar kertas putih tersebut. 

Berikut ini adalah kata-kata yang tertulis pada kertas tersebut.

Port artinya sebelah kiri kapal. 

Starboard arti sebelah kanan kapal.

Saya tidak mempunyai kotak penyimpanan di ruang keluarga saya, namun seandainya memiliki kotak hitam itu dan selembar kertas putih di dalamnya, kata-kata yang akan tertulis pada kertas itu akan berbunyi demikian, “Bukan saya melainkan Dia. Saya tidak sanggup, namun Ia sanggup. Saya tidak mau, namun Ia mau. Bukan saya yang berhasil melakukannya, melainkan Dia.” 

Saya percaya bahwa anda bisa mempelajarinya seperti yang dialami Musa dan Petrus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s