Prinsip Penebusan (OTS13)

Bagian 1

Selamat berjumpa di sekolah Alkitab Mini.

Sementara kita melanjutkan pembahasan tentang kitab Keluaran, kami ingin mengingatkan bahwa kata Keluaran berarti jalan keluar. 

Hal itu menjelaskan tema kitab Keluaran ini. 

Kitab Keluaran menunjukkan jalan keluar dari perbudakan nyata yang sedang dialami bangsa Israel di Mesir dan dalam penerapannya kitab Keluaran menunjukkan jalan keluar dari perbudakan dosa yang kita alami sekarang ini.

Dalam sesi pertama pembahasan kitab Keluaran, kita telah menempatkan kitab ini dalam perspektif sejarah. 

Lalu kita berfokus pada beberapa prinsip tentang seorang penyelamat.

Sementara kita mempelajari kelepasan besar yang digambarkan dalam kitab Keluaran, kita berfokus pada Musa yang adalah instrumen kelepasan besar yang digunakan Allah.

————————-

Dalam sesi ini kita akan berfokus pada kelepasan yang digambarkan dalam kitab Keluaran, dan itulah pesan penting kitab Keluaran ini yaitu pelepasan.

Seperti telah kita bahas sebelumnya kata kelepasan sama dengan kata keselamatan. 

Ketika kita sampai kepada topik kelepasan dalam kitab Keluaran, kita melihat kekuasaan Allah, sebab tidak ada keselamatan tanpa kuasa Allah baik di masa lalu atau pun di masa sekarang.

Dalam kitab Keluaran anda akan melihat kuasa Allah diperlihatkan dengan cara yang sangat unik.

Anda akan melihat tangan Allah Yang Maha Kuasa turun atas Mesir dan atas Firaun dalam bentuk 10 tulah. 

Kesepuluh tulah ini sungguh menarik untuk dipelajari terutama kalau kita menerapkannya dalam kehidupan kita sendiri. 

Kesepuluh tulah yang menimpa Firaun dan Mesir serta mendorong mereka sedemikian rupa sehingga rela melepaskan bangsa Ibrani, adalah gambaran suatu kebenaran besar yang diajarkan dalam Alkitab dari kitab kejadian hingga Kitab Wahyu. 

Dalam 1 Yohanes 4:4, kebenaran ini dinyatakan sebagai berikut: ”Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia”.

Dengan kata lain, ada satu pribadi dalam hati anda yang lebih kuat daripada kejahatan manapun di dunia ini. 

Itulah penerapan pesan ke 10 tulah itu. 

Seperti yang anda lihat, respon awal Firaun terhadap tuntutan Musa dan para tua-tua Israel untuk melepaskan bangsa Israel adalah mengejek. 

Betapa menggelikan bahwa sekelompok kecil budak Ibrani menghadap seorang Firaun Mesir dan menuntut dibebaskan.

Nalar yang diberikan untuk menjelaskan tuntutan yang tampak menggelikan itu, disebutkan beberapa kali ini.

Tua-tua ini bersama Musa dan Harun mengatakan kepada sang Firaun: “Allah bangsa Ibrani telah berfirman kepada kami, oleh karenanya lepaskan kami. Sebab demikianlah Allah kami menyuruh kami mengatakan kepadamu.”

Sungguh menantang bukan?

Ketika berkumpul untuk beribadah bersama kepada Allah yang hidup, entah kita mempunyai mempunyai perspektif itu atau tidak, apa kita pulang dari ibadah dan mengatakan kepada orang-orang di dunia ini: “Kami baru berjumpa dengan Allah yang hidup dan inilah yang ingin disampaikan kepadamu?” 

Menurut saya, perspektif seperti itu sangat menarik. 

Demikianlah perspektif yang Musa dan para tua-tua gunakan untuk mendekati sang Firaun. 

Dan tentu pada mulanya Firaun menolak. 

Beberapa kali dikatakan dalam kitab suci, misalnya dalam Keluaran 7:3 dan 4:21 bahwa Allah  sengaja mengeraskan hati Firaun agar Allah mendapatkan kesempatan untuk mendemonstrasikan kekuasaanNya yang besar, melalui tulah-tulah yang ditimpakan kepada Firaun.

Konsep ini sangat menarik.

Bagi sebagian orang hal ini merupakan masalah teologi. 

Bagi yang lain hal ini merupakan masalah filosofi. 

Padahal hal, hal ini sesungguhnya adalah masa kejahatan. 

Dari mana asalnya kejahatan? 

Dalam konteks apakah kejahatan berfungsi di dunia ini? 

Kalau Allah sungguh Allah yang baik, bagaimana kejahatan sampai datang ke dunia?

Kalau Allah sungguh Allah yang maha kuasa, mengapa Ia membiarkan kejahatan?

Dalam konflik antara Musa dan tua-tua Israel dengan Firaun, saya percaya bahwa anda melihat pergumulan atau konflik besar antara kebaikan dengan kejahatan yang juga digambarkan di tempat-tempat lainnya dalam Alkitab. 

Kitab Ayub juga menggambarkan konflik yang sama. 

Konfliknya terjadi kira-kira begini. 

Allah mengijinkan kejahatan terjadi di dunia ini, kejahatan di dunia ini ibarat beludru hitam yang jadi latar belakang di mana seorang tukang perhiasan meletakkan berliannya yang indah.

Allah mengijinkan kejahatan di dunia ini, sebab kejahatan memberi Allah sebuah latar belakang di mana Dia mendemonstrasikan kekuasaan yang besar, kasihNya, kasih karuniaNya dan rahmatNya. 

Seandainya tidak ada kejahatan, Allah mungkin tidak mempunyai kesempatan mendemonstrasikan semuanya itu. 

Demikianlah yang kita lihat digambarkan dalam kitab suci.

————————-

Dalam kitab Keluaran, anda juga dapat melihat apa yang dapat kita sebut prinsip-prinsip pelepasan dari kuasa dosa atau kejahatan. 

Ada dialog yang luar biasa di antara Musa dengan Firaun dalam kitab Keluaran. 

Ketika Musa menuntut agar umat Allah dilepaskan, sedangkan Firaun menolak, tulah terus menimpa Mesir. 

Maka sedikit demi sedikit Firaun mulai mengalah terhadap kuasa Allah. 

Akan tetapi coba perhatikan dialog antara Musa dengan Firaun. 

Banyak orang meyakini bahwa Musa adalah gambaran penyelamat kita Yesus Kristus, dan Firaun adalah gambar iblis yang melambangkan kejahatan.

Jika kita memahami dinamika apa yang terjadi antara Musa dengan Firaun, kita bisa memahami dinamika apa yang terjadi antara Yesus Kristus dengan iblis sekarang ini. 

Yesus Kristus hidup di dalam manusia dan berkarya melalui manusia. 

Demikian pula iblis hidup di dalam manusia dan berkarya melalui manusia.

Wawasan itu membuat bagian kitab Keluaran ini menjadi alat mengajar yang hebat ketika kita memahami dinamika apa yang terlibat dalam keselamatan atau kelepasan kita dari kuasa tirani dan perbudakan dosa. 

Misalnya coba anda memperhatikan apa yang terjadi ketika tulah mulai menimpa Firaun dan ia mulai mengarah. 

Pada akhirnya dalam kitab Keluaran pasal 8:25 dikatakan: “Pergilah persembahkanlah korban kepada Allah mu di negeri ini.” 

Dalam penerapannya banyak yang meyakini bahwa dinamika ini menunjukkan sesuatu kepada kita. 

Ketika anda mengumum kepada teman-teman bahwa anda telah menjadi orang percaya, bagaimana reaksi awal mereka? 

Mereka akan mengatakan: ‘Ya, asalkan engkau tetap berteman dengan kami.” 

Dengan kata lain, “Lakukanlah apapun yang religius asalkan tetap di Mesir, tetap di dunia ini.” 

Padahal kata Jemaat dalam perjanjian berarti mereka yang dipanggil keluar. 

Menurut Perjanjian Baru, sebagai bagian dari Jemaat, kita dipanggil keluar dari dunia ini.

Seharusnya kita tidak lagi berada di Mesir atau di dunia ini. 

Dari definisinya kata Jemaat berarti bahwa mereka yang adalah anggota Jemaat, dipanggil keluar dari dunia ini. 

Mungkin tekanan iblis akan datang kepada kita melalui teman-temannya mengatakan: “Silahkanmelakukan apapun yang ada di asalkan tetap di Mesir.” 

Setelah beberapa tulah lagi upaya Firaun untuk membuat Musa berkompromi adalah mengatakan akan, “Silahkan pergi namun jangan jauh-jauh.” 

Demikianlah gambaran tentang bagaimana tekanan menimpa orang yang baru percaya. 

“Baiklah kalau kamu mau menjadi orang percaya dan menarik diri dari dunia ini, janganlah menjadi fanatik.”

Setelah beberapa tulah lagi dalam Pasal 10:8-10, Firaunmengatakan: “Baiklah kalian boleh pergi namun tinggalkanlah anak-anak kalian di Mesir.” 

Ketika iblis berusaha menghalangi kita dari hidup beriman atau kalau ia tidak berhasil membuat kita tetap tinggal di Mesir atau tidak terlalu jauh dalam iman kita, atau kalau ia tidak berhasil membuat kita mengkompromikan iman kita, maka ia akan berusaha menjerat anak-anak kita.

Sungguh mengerikan betapa banyak orang menjadi beriman namun membiarkan anak-anak mereka tinggal di Mesir. 

Mereka menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah terbaik, namun dalam hal pemupukan rohani mereka membiarkan anak-anak mereka tinggal di Mesir. 

Saya percaya bahwa demikianlah salah satu strategi iblis yang dalam hal ini dilambangkan sebagai Firaun. 

Upaya Firaun yang keempat untuk membuat Musa berkompromi adalah ketika Firaun mengatakan: “Baiklah engkau boleh pergi membawa anak-anakmu, namun tinggalkanlah kawanan ternakmu.” 

Ketika itu kawanan ternak boleh diumpamakan sebagai rekening bank sekarang. 

Dalam upaya iblis untuk membuat anda mengkompromikan kehidupan anda sekarang, seolah-olah iblis mengatakan: “Jangan membiarkan keyakinanmu mempengaruhi rekeningmu.”

Ketika iblis tidak berhasil membuat anda atau anak-anak berkompromi, ia akan berusaha membuat anda mengkompromikan uang anda atau membuat anda menjadi murid yang tidak setia. 

Upaya-upaya Firaun untuk membuat Musa berkompromi menunjukkan strategi iblis sekarang ini. 

Musuh terbesar dari yang terbaik adalah yang baik.

Iblis tidak mencobai kita untuk merampok bank kalau Allah menghendaki kita menjadi misionaris medis.

Ia mencobai kita untuk menjadi dokter di negara sendiri.

Iblis akan menawarkan sesuatu yang baik yang bukan terbaik dari Allah.

Iblis akan berusaha mempengaruhi kita untuk membuat kompromi-kompromi kecil hingga suatu hari kelak kita menyadari bahwa kita tidak mendahulukan Allah dan tidak melakukan kehendak Allah. 

———————————-

Apa prinsip pertama kelepasan dari dosa.

Tidak terlibat sama sekali dengan dosa.

Itulah prinsip besar pertama untuk kelepasan dari masalah perbudakan dan tirani dosa.

Sebagai seorang pendeta, setelah berusaha memberikan pelayanan yang terpusat pada pria, saya telah menggunakan berbagai cara untuk menjangkau kaum pria. 

Saya mengadakan studi Alkitab pada pagi hari yang selama bertahun-tahun diikuti oleh ratusan pria. 

Banyak pria yang terjangkau melalui renungan pagi tersebut terlibat dalam berbagai dosa.

Saya telah berusaha membantu mereka hidup lurus kembali.

Saya telah memberikan konseling kepada wanita simpanan mereka.

Saya ingat pernah memberikan konseling kepada seorang pria, ia bertanya: “Apa yang seharusnya saya lakukan?” 

Dan saya menjawab: “Anda sudah tahu apa yang seharusnya anda lakukan.”

Ia tinggal bersama wanita lain, saya menyuruhnya meninggalkan wanita simpanannya dan pulang kepada istri serta keluarganya. 

Maka malam itu ia memberitahu wanita simpanannya bahwa ia akan kembali kepada istrinya.

Sang wanita simpanan duduk di pangkuannya menciumnya dan mengatakan: “Coba suruh saya pergi.” 

Pada pertemuan berikutnya dengan saya, pria ini meninju meja sambil mengatakan: “Seandainya saja saya tidak lagi memandang wanita ini.” 

Nyatanya ia terlibat. 

Tidak mudah keluar dari keterlibatan seperti itu. 

Itulah sebabnya prinsip pertama kelepasan adalah tidak terlibat sama sekali. 

Jangan pernah berkompromi dengan dosa. 

Anda tidak mungkin hidup bersama dosa, sama seperti halnya anda tidak mungkin hidup bersama kanker. 

Jadi jangan berkompromi dengan dosa. 

Itulah yang ditunjukkan oleh Musa ketika kita mencari prinsip-prinsip kelepasan dalam kitab Keluaran ini. 

Hal itu mengantarkan kita kepada akhir studi hari ini. 

Dalam studi kita berikutnya kita akan fokus serta menerapkan prinsip prinsip pelepasan ini, yang kita pelajari dari dialog seru antara Musa dengan Firaun. 

Seperti saya sendiri, anda akan menemukan bahwa prinsip-prinsip pelepasan Ini bukan saja berlaku hingga sekarang, melainkan juga sama efektifnya sekarang seperti ketika Musa dan bangsa Israel menghadapi Firaun 4000 tahun yang lalu.

Bagian 2

Saat ini kita mempelajari kitab Keluaran dan mempelajari prinsip-prinsip kelepasan yang dapat kita pelajari dari bangsa Israel, saat mereka dibebaskan dari perbudakan di Mesir.

—————————

Selama perang Korea, 7.190 prajurit Amerika ditawan oleh komunis China dan diindoktrinasikan.

Sebelum ada campur tangan China dalam perang korea, semua prajurit Amerika yang ditawan oleh pasukan Korea, dihukum mati. 

Prajurit Amerika yang ditawan oleh pasukan Cina mengharapkan nasib serupa. 

Ternyata mereka disambut dengan senyum jabatan tangan dan kotak rokok. 

Para tawanan ini diberitahu untuk membayangkan diri bukan sebagai tawanan melainkan sebagai pelajar. 

Mereka di indoktrinasi ideologi komunis selama 2 tahun. 

Kira-kira sepertiga dari prajurit yang ditawan ini menjadi komunis. 

Seorang pria bernama Ucan Kingsaid diperintahkan oleh Departemen Angkatan Bersenjata untuk menulis tentang hal ini. 

Bukunya berjudul “Dalam setiap perang kecuali satu.” 

Sebagai akibat dari apa yang terjadi terhadap para tawanan perang di Korea tersebut, presiden Amerika Serikat ketika itu, Dwight D. Eisenhower, menulis ulang kode tingkah laku bagi seluruh personel Angkatan Bersenjata.

Setelah menulis ulang kode tingkah laku tersebut, Sang Presiden mengatakan kepada salah seorang ajudannya, “Ketika masih kecil tidak seorang pun harus memberitahu saya bahwa janganlah kamu membuat kesepakatan apapun dengan iblis. Saya mempelajari hal itu di rumah dan di sekolah minggu, akan tetapi tampaknya di zaman sekarang kita harus memberitahu generasi muda kita jangan membuat kesepakatan apapun dengan iblis, sebab strategi iblis adalah membuat kita berkompromi.” 

Prinsip pertama kelepasan adalah jangan jatuh kedalam dosa. 

Akan tetapi kalau anda sudah terlanjur jatuh kedalam dosa seperti sebagian besar orang, bagaimana gimana jalan keluarnya? 

Itulah pesan yang ingin disampaikan kitab Keluaran. 

Untuk keluar dari perbudakan dan tirani dosa, anda membutuhkan banyak mukjizat. 

Demikianlah yang dijelaskan kitab Keluaran. 

Kitab Keluaran menggambarkan mukjizat-mukjizat ini dengan indah dan sebagai kiasan.

Menurut saya salah satu mukjizat pertama yang digambarkan dalam kitab Keluaran adalah mukjizat yang anda butuhkan kalau anda ingin keluar dari perbudakan dan tirani dosa, yaitu mukjizat menyeberangi laut merah.

Mukjizat menyeberangi laut merah ini, adalah salah satu mukjizat terbesar di dalam Alkitab.

Mukjizat ini mewakili kelepasan bangsa Israel dari Firaun.

Sepanjang dialog antara Musa dengan Firaun, kita tahu bahwa Firaun takan melepaskan bangsa Israel.

Firaun terus saja mengubah pikirannya. 

Sebentar ia mengatakan: “Kalian boleh pergi.” 

Sebentar ia mengubah pikirannya. 

Ketika tulah yang dijatuhkan Allah mereda, Firaun mengatakan: “Kalian tidak boleh pergi.” 

Ketika pada akhirnya bangsa Israel dilepaskan, ketika mereka sampai di Laut Merah, Firaun kembali mengalami perubahan hati. 

Ia mengerahkan pasukannya ketika umat Allah terpojok di Laut Merah.

Pasukan Firaun diperintahkan untuk menyerang bangsa Israel dan tampaknya, seolah-olah Firaun akan membantai mereka.

—————————-

Disinilah salah satu contoh dimana Alkitab menjelaskan bahwa saatnya ketika berdoa itu adalah tindakan yang tidak pada tempatnya. 

Musa tersungkur. 

Ia melihat debu beterbangan menandakan datangnya pasukan dari Mesir. 

Di belakang bangsa Israel hanya terdapat laut merah. 

Di depan mereka hanya terdapat pasukan Mesir.

Ketika Musa berdoa Allah menjawab: “Mengapa engkau berseru kepadaKu? Mengapa engkau berdoa?” 

Intinya Allah ingin mengatakan: “Kehendakku sudah jelas.” 

“Sekarang bukanlah saatnya untuk persekutuan doa, hanya ada satu arah yang mungkin engkau tuju,  yaitu Laut Merah.” 

“Jadi segeralah ke sana, siapapun dia seharusnya sudah dapat melihat itu.” 

Lalu Allah berfirman, “Suruhlah umatKu maju terus.” Yang berarti bahwa mereka harus segera menuju ke laut. 

Musa mempunyai iman yang besar. 

Maka ia mengeluarkan tongkatnya dan mengatakan, “Diamlah dan saksikanlah keselamatan yang besar dari Allah.” 

Ketika mereka beriman untuk menuju ke laut, laut yang terbelah hingga ada tembok air di kedua sisi mereka. 

Mereka berjalan di tanah yang kering di antara kedua tembok air itu. 

Ketika pasukan Mesir berusaha mengejar mereka, tembok air tersebut roboh menenggelamkan pasukan Mesir.

Ketika membaca kisah seperti ini, anda harus menegaskan persoalan yang sangat penting: “Apakah anda percaya kepada hal Supernatural atau tidak?”

Saya takjub mendengar penjelasan banyak orang tentang kisah ini. 

Sebagian mengatakan bahwa itu bukanlah Laut Merah melainkan laut bulu di mana airnya sangat dangkal. 

Saya pernah mendengar tentang seorang anak kecil yang diajarkan demikian di Sekolah Minggu. 

Ia menggaruk kepalanya dan mengatakan kepada gurunya: “Kalau begitu benar-benar mukjizat hebat, sebab seluruh pasukan Mesir tenggelam padahal airnya dangkal.” 

Lalu ada lagi anak kecil yang pulang dari sekolah minggu dan ibunya mengatakan, “Apa yang mereka ajarkan kepadamu hari ini Joni?” 

Joni menjawab, “Oh mereka bercerita bahwa bangsa Israel terpojok di Laut Merah dan pasukan Mesir mengejar mereka.” 

Dan ibunya bertanya, “Lalu?” 

Joni menjawab: “Maka Musa memerintahkan bangsa Israel membangun jembatan melintasi Laut Merah.” 

“Apa benar demikian yang mereka ajarkan Joni?” 

“Ibu, seandainya saya memberitahu Ibu apa yang sesungguhnya mereka ajarkan, Ibu pasti takkan percaya.” 

Ketika membaca mukjizat menurut Perjanjian Lama, anda harus memutuskan apakah anda percaya kepada hal yang Supernatural atau tidak percaya.

Saya percaya kepada mukjizat ini. 

Saya percaya pada kisah ini seperti yang tertulis. 

Saya percaya bahwa kejadiannya persis seperti itu. 

Saya percaya bahwa kisah ini mengilustrasikan keselamatan kita. 

Dibutuhkan mukjizat dari Allah untuk menyelamatkan anda. 

Demikianlah yang diilustrasikan mukjizat laut merah itu. 

Demikianlah akhir kelepasan dari Mesir dan Firaun. 

Setelah bangsa Israel menyeberangi Laut Merah mereka membutuhkan mukjizat lagi. 

Mereka membutuhkan bimbingan Allah. 

Begitu kita diselamatkan, kita pun membutuhkan mujizat lagi. 

Kita membutuhkan bimbingan Allah, sebab Allah menyelamatkan kita bukan tanpa maksud.

Paulus menyebut maksud tersebut sebagai kehendak yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. 

Paulus mengatakan bahwa ketika kita diselamatkan, kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. 

Allah mau supaya kita hidup di dalamnya. 

Ketika Allah menyelamatkan kita, Ia menyelamatkan kita dengan maksud untuk kehidupan kita sekarang maupun kehidupan kita yang akan datang. 

Maksud untuk kehidupan yang sekarang adalah melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya.

Allah mau supaya kita hidup di dalamnya. 

Ada sesuatu yang Allah kehendaki untuk kita masing-masing lakukan. 

Ketika Allah menyelamatkan kita dari Mesir kita masing-masing, hal itu barulah permulaannya.

Allah mau menuntun kita kepada pekerjaan baik, untuk mana Ia menyelamatkan kita. 

Agar hal itu terjadi kita membutuhkan mukjizat berupa bimbingan Allah dan hal itu digambarkan dengan indah dalam kitab Keluaran sebagai Tiang Awan di siang hari dan Tiang Api di malam hari. 

Ada awan yang menuntun bangsa Israel di waktu siang dan Tiang Api yang menuntun mereka di waktu malam. 

Mukjizat indah tersebut adalah gambaran tentang bimbingan Allah.

——————–

Begitu bangsa Israel menyeberangi Laut Merah dan sampai di Padang belantara, mereka menghadapi suatu masalah besar. 

Musa menghadapi suatu tantangan besar, apa yang akan mereka makan? 

Antara 2 sampai 3 juta orang membutuhkan makanan. 

Apakah anda tahu sesuatu tentang tata boga? 

Anda tahu tentang jumlah makanan yang diperlukan untuk mensuplai sekian banyak orang? 

Apa yang akan dimakan bangsa Israel ini? 

Apa yang akan mereka minum?

Sungguhtantangan besar bagi Musa. 

Bangsa Israel demikian kegirangan karena kelepasan mereka dari Mesir sehingga mereka tidak teringat atau peduli tentang makanan atau minuman sampai mereka baru menyadari bahwa mereka ada di padang gurun. 

Lalu mereka menyadari bahwa mereka menghadapi masalah besar apa yang kita makan dan minum.

Allah memenuhi kebutuhan mereka secara ajaib. 

Pada suatu pagi mereka bangun mereka menemukan suatu benda berwarna putih di atas tanah.

“Apa ini?” 

Demikian mereka bertanya-tanya. 

Dalam bahasa Ibrani, “Apa ini?” adalah mana. 

Demikianlah benda putih tersebut mereka sebut mana. 

Pertama kalinya istri saya menghidangkan saya suatu hidangan khusus saya menyebutnya mana.

Saya menyebutnya demikian sejak saat itu. 

Saya masih tidak tahu Apa itu.

Mana yang Allah sediakan bagi bangsa Israel ini pasti sudah memenuhi segala kebutuhan nutrisi mereka. 

Secara ajaib, Allah juga menyediakan burung dan air bagi bangsa Israel. 

Pemenuhan kebutuhan umat Allah secara ajaib itu menggambarkan satu lagi mukjizat yang kita butuhkan. 

Dibutuhkan mukjizat untuk menyelamatkan kita. 

Dibutuhkan mukjizat untuk menuntun kita ke dalam kehendak Allah. 

Dibutuhkan mukjizat untuk menopang kita.

Siapa atau apakah ketahanan anda? 

Apakah anda mengandalkan perekonomian negara? 

Apakah anda meyakini hal itu sebagai sumber ketentraman anda? 

Menurut pendapat saya, seandainya anda meyakini demikian anda berdiri pada tanah yang tidak kokoh. 

Mata semua orang memandang kepada Allah dan Allah memberi mereka daging pada waktunya atau ketika mereka membutuhkannya.

Allah tinggal membuka tanganNya dan memuaskan hasrat setiap makhluk hidup. 

Sebelum makan, ketika kita mengucap syukur atas makanan kita, kita mengetahui fakta bahwa Allah adalah sumber makanan tersebut. 

Kita percaya bahwa makanan kita berasal dari Dia. 

Kita percaya bahwa Allah yang memenuhi kebutuhan kita. 

Pemeliharaan Allah bagi bangsa Israel selama 40 tahun mengembara di Padang belantara, menggambarkan kebenaran ini bagi kita. 

Saya berdoa agar ketika kita membaca kitab Keluaran, anda membaca mujizat yang dibutuhkan untuk menyelamatkan bangsa Israel itu sebagai mukjizat yang dibutuhkan untuk menyelamatkan kita. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s