Sepuluh Perintah (OTS14)

Bagian 1

Selamat datang di program Sekolah Alkitab mini, yang mempelajari keseluruhan Alkitab, kitab demi kitab. 

Kemarin studi kita mengantarkan kita kepada kitab Keluaran dimana kita membaca tentang 10 perintah Allah. 

Sementara kita kembali membaca kitab Keluaran dalam studi hari ini, saya ingin menjelaskan apa yang oleh rasul Paulus disebut sebagai inti hukum. 

Khususnya saya ingin fokus pada inti 10 perintah Allah dalam studi hari ini.

Sementara kita melanjutkan studi kita tentang Perjanjian Lama dalam kitab Keluaran, kita telah fokus pada perkembangan bangsa Ibrani dan masalah mereka. 

Kita telah fokus pada nabi yang melepaskan mereka dari masalah tersebut dan kita telah fokus pada kuasa Allah seperti yang didemonstrasikan dalam kitab Keluaran. 

Kita telah belajar sedikit tentang paskah, sakramen besar yang merupakan inti dari pelepasan atau keselamatan bangsa Ibrani. 

Dalam sesi ini saya ingin kita fokus pada nubuat yang ditemukan dalam kitab Keluaran. 

———————-

Kitab Keluaran diklasifikasikan sebagai kitab hukum sebab memuat banyak hukum. 

Kitab seperti kitab Keluaran, Imamat dan Ulangan sarat dengan hukum. 

Ketika Musa naik ke gunung sinai pada tiga kesempatan yang berbeda, berpuasa selama 40 hari 40 malam, meminta petunjuk Allah dengan mana ia mungkin memerintah umat Allah serta memimpin mereka, Allah memberikan apa yang disebut sebagai hukum Musa, atau apa yang disebut juga hukum Allah. 

Sesungguhnya hukum Musa ini terdiri dari kira-kira 500 hukum.

Ada kira-kira 500 perintah dalam kitab hukum atau 5 kitab yang pertama dalam Alkitab. 

Tahukah anda bahwa keseluruhan 500 perintah ini, dirangkum dalam 10 perintah Allah. 

Sebelum kita melihat 10 perintah Allah yang merangkumkan ke-500 perintah dalam kitab kitab hukum ini, saya ingin menjelaskan sedikit tentang perspektif Perjanjian Baru terhadap hukum Allah. 

Dalam Perjanjian Baru kita melihat Yesus mempunyai filosofi tentang pertanyaan dan persoalan hukum. 

Dapatlah dikatakan bahwa sehubungan dengan hukum, perbedaan antara Yesus dengan orang Farisi, Saduki dan ahli taurat, yaitu para pemimpin yahudi di zaman Yesus adalah Yesus tahu bahwa hukum itu lahir karena kasih Allah.

Yesus tahu bahwa Allah memberi hukum-hukum itu kepada kita karena Allah mengasihi kita oleh karenanya Yesus tahu bahwa hukum itu selalu merupakan ekspresi kasih Allah kepada manusia dan selalu mempengaruhi kesejahteraan manusia itu sendiri.

Yesus mengukuhkan hukum Allah melalui prisma kasih Allah sebelum menerapkannya terhadap kehidupan manusia.

Sedangkan orang Farisi, Saduki dan para ahli taurat mereka tidak. 

Mereka hanya melontarkan hukum-hukum tersebut kepada rakyat secara legalistik.

Yesus tidak pernah melupakan fakta bahwa Allah mempunyai maksud ketika memberikan hukum-hukum tersebut. 

Misalnya ketika memberikan hukum tentang hari sabat, dimana isinya cukup banyak, yang merupakan penerapan dari perintah tentang menjaga kekudusan hari sabat, Yesus tahu bahwa hari sabat adalah kesejahteraan manusia itu sendiri, maka Yesus sengaja melanggar hukum hukum penerapan tersebut untuk menarik perhatian para pemimpin agama kepada fakta bahwa hari sabat dijadikan demi manusia, bukan manusia dijadikan demi hari sabat. 

Allah bukan menciptakan hukum lalu menciptakan manusia yang sesuai dengan hukum itu.

Allah menciptakan manusia lalu memberikan hukum demi kepentingan manusia itu sendiri.

Sebelum Yesus menerapkan hukum Allah terhadap kehidupan manusia, Yesus selalu mengukuhkan hukum Allah melalui prisma kasih Allah, baru menerapkan hukum Allah terhadap kehidupan manusia. 

Kalau anda hanya secara legalistik melontarkan hukum-hukum Allah terhadap sesama, mereka bisa sangat kecewa dan putus asa. 

Jangan Alkitab sampai digunakan secara legalistik seperti itu. 

Rasul Paulus menggambarkan hal yang sama ketika ia menulis dalam 2 korintus 3:6 bahwa hukum yang tertulis mematikan tetapi Roh menghidupkan.

Dengan kata lain, penerapan hukum Allah secara legalistik terhadap kehidupan manusia itu mematikan, sedangkaninti dari hukum Allah tersebut menghidupkan. 

Inti dari hukum Allah maksudnya adalah prinsip atau maksud Allah ketika memberikan hukum tersebut. 

Inti dari hukum Allah adalah selalu tentang kasih Allah dan kesejahteraan manusia itu sendiri.

———————

Sekarang saya ingin membahas 10 perintah Allah secara cepat. 

Ke 10 perintah Allah merangkum ratusan perintah. 

Jadi kita merenungkan inti dari kesepuluh perintah Allah, kita akan menemukan inti dari ratusan hukum. 

Seperti yang anda ketahui, 10 perintah Allah dituliskan pada dua loh batu. 

Pada loh yang 1 dituliskan 4 perintah yang mengatur hubungan kita dengan Allah atau apa yang mungkin kita sebut hubungan vertikal dalam kehidupan yang selalu didahulukan.

Jadi loh batu yang pertama memuat 4 perintah yang mengatur hubungan kita dengan Allah.

Jangan ada Allah lain dihadapanku. 

Jangan membuat patung dan menyembahnya. 

Kuduskan atau hormati namaku. 

Jangan menyebut namaku dengan sembarangan, ingatlah dan kuduskanlah hari sabat. 

Ke-4 perintah ini ada hubungannya dengan hubungan vertikal kita dengan Allah.

Loh batu yang kedua memuat 6 perintah yang mengatur hubungan kita dengan sesama. 

Ke-6 perintah ini kita sebut perintah horizontal sebab mengatur hubungan horizontal dengan sesama manusia. 

Ingatlah bahwa Yesus merangkum kedua loh batu ini dalam matius 22:35-40, ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus: “Dari seluruh hukum Musa, hukum manakah yang terbesar?” 

Yesus menjawab: “Kasihilah Allah dengan segala keberadaanmu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” 

Demikianlah rangkuman dari 10 perintah Allah pada kedua loh batu tersebut. 

Kalau anda mengasihi Allah dengan segala keberadaan anda, anda akan mematuhi keempat perintah pertama yang mengatur hubungan anda dengan Allah. 

Kalau anda mengasihi sesama seperti diri sendiri, anda akan mematuhi ke-6 perintah yang mengatur hubungan anda dengan sesama. 

Dalam hal ini jangan lupa bawa dalam kesepuluh perintah Allah tersebut terkandung inti dari ratusan perintah Allah. 

Perintah pertama pada loh batu yang pertama mengatakan: “Jangan ada padamu Allah lain dihadapanku.” 

Seseorang pernah mengatakan bahwa pesan Alkitab dapat dirangkum menjadi: “Allah-lah yang utama.” 

Demikianlah yang sesungguhnya dimaksudkan dengan perintah pertama ini.

Sebab sebelum anda memandang Allah sebagai segalanya, anda tak akan memandangnya sebagai apa-apa. 

Jadi inti dari perintah yang pertama adalah Allah yang utama. 

Perintah kedua melarang kita membuat patung yang menyerupai apapun yang ada di langit atau yang ada di bumi atau apa yang menyerupai apapun dan menyembahnya sebagai Allah kita. 

Dengan kata lain perintah ini melarang penyembahan berhala. 

Akan tetapi inti dari perintah kedua ini adalah bahwa Allah adalah Roh. 

Kita harus datang kepada Allah dengan iman. 

Karena Allah adalah Roh, objek iman kita akan selalu tidak kelihatan. 

Demikianlah Allah menghendakinya. 

Allah menghendaki kita datang kepadaNya dengan iman. 

Kalau kita mencoba membuat sesuatu yang berwujud dan mengatakan bahwa hal itu mewakili Allah, kita sama saja dengan menyangkal bahwa Allah adalah Roh dan kita menghilangkan kebutuhan akan iman sebab kita menjadikan Allah kelihatan. 

Saya percaya demikian inti dari perintah kedua ini. 

Allah adalah Roh dan Allah menghendaki kita datang kepada Allah dengan iman. 

Jangan menghilangkan kebutuhan akan iman dan jangan melanggar konsep bahwa Allah adalah Roh dengan menjadikan dia berwujud dan kelihatan seperti berhala. 

Perintah ketiga adalah jangan menyebut nama Allah dengan sembarangan atau tanpa maksud.

Intinya adalah setiap kali anda menyebut nama Allah, terutama ketika anda beribadah hendaknya anda ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang selalu mempunyai maksud serta menghendaki keteraturan sedemikian rupa sedemikian rupa sehingga Allah tidak mau anda menyebut namaNya tanpa tahu maksudnya.

————————-

Perintah perintah ke-4 pada loh batu yang pertama ini ada hubungannya dengan hari sabat.

“Ingatlah dan kuduskanlah hari sabat.” 

Penerapannya banyak.

Banyak aturan lahir dari perintahkan keempat ini, namun prinsipnya adalah seperti perintah yang pertama: “kalau Allah memang yang utama sudah layak dan sepantasnya kalau ia mendapatkan sedikitnya sepertujuh dari waktu kita.” 

Allah menghendaki kita menyisihkan waktu bagiNya. 

Itulah sebabnya mengapa belakangan Allah juga melembagakan aturan tentang persepuluhan. 

Kalau Allah memang yang utama, Allah menghendaki kita mendemonstrasikannya dengan memberikan ke persepuluh yang pertama dari segala yang kita dapatkan. 

Demikianlah perintah sahabat ini mengimplikasikan bahwa Allah menghendaki sepertujuh waktu kita, di mana seminggu sekali kita menjalani apa yang disebut sebagai harinya Tuhan.

Penerapan lain dari prinsip sahabat ini adalah istirahat. 

Banyak orang yang kelelahan karena melanggar prinsip sabat ini.

Dalam perintah ini Allah mau menyampaikan: “Engkau harus mengambil sepertujuh waktumu bukan saja untukKu melainkan juga untuk istirahat.” 

Banyak profesor perguruan tinggi secara benar menerapkan prinsip ini dengan lebih baik dari pada siapapun juga. 

Setiap 7 tahun sekali mereka mengambil cuti 1 tahun.

Sungguh kebiasaan yang baik.

Seandainya saja gereja menangkap visi dari komunitas akademik itu dan membiarkan para pendeta nya mengambil cuti 1 tahun setiap 7 tahun sekali. 

Pada loh batu yang kedua, kita menemukan perintah-perintah yang mengatur hubungan horizontal dengan sesama kita, yaitu dengan orang-orang dalam kehidupan kita. 

Yang pertama tentunya orang tua kita, sebab mereka adalah orang yang pertama dengan siapa kita berhubungan. 

Dan perintah ini mengatakan: “Hormatilah ayahmu dan ibumu.” 

Sungguh menarik bahwa kebudayaan Yahudi masih melakukan hal ini dan memetik manfaat yang besar karenanya. 

Kebudayaan cina, setidaknya dulu, juga selalu memetik manfaat dari prinsip ini, sebab bangsa Cina mengajari anak anaknya bukan saja untuk menghormati orang tua mereka melainkan juga memuliakan orang tua mereka. 

Sampai disini dulu hari ini besok kita akan mempelajari 5 perintah sisanya yang merangkum ratusan perintah dalam kitab-kitab hukum. 

Namun Yesus merangkumnya menjadi: “Kasihilah Allahmu di atas segalanya dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.”

Bagian 2

Kita mempelajari 5 perintah yang pertama dari 10 perintah Allah. 

4 perintah yang pertama mengatur hubungan kita dengan Allah. 

Pertama: “Jangan ada Allah lain padamu dihadapanku.” 

Kedua: “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun, yang ada di langit atau di bumi dan menyembahnya menggantikan Allah.” 

Ketiga: “Jangan menyebut nama Allah dengan sembarangan.” 

Keempat: “Ingatlah dan kuduskanlah hari sabat.” 

Dan perintah kelima mengatakan: “Hormatilah ayahmu dan ibumu”, dengan janji bahwa jika kita melakukannya kita akan berumur panjang.

—————————

Perintah berikutnya pada loh hubungan horizontal yang mengatur hubungan kita dengan sesama adalah “Jangan membunuh.” 

Perintah ini bukanlah melarang kita untuk secara harafiah mematikan, sebab ada ayat-ayat Alkitab yang memerintahkan umat Allah untuk mematikan. 

Misalnya: “Barangsiapa menumpahkan darah sesamanya, darahnya sendiri pun akan ditumpahkan oleh sesamanya.” 

Dalam 9 pasal kitab Kejadian, Allah memberitahu umatNya bahwa ada waktunya untuk mematikan. 

Dalam Perjanjian Baru, dalam Roma pasal 13 kita diberitahu bahwa pejabat penegak hukum tidak menyandang pedang, dengan kata lain Paulus ingin mengatakan bahwa kalau anda ingin damai dengan pejabat penegak hukum patuhilah hukum, maka ia akan menjadi masalah bagi diri anda, akan tetapi kalau anda melanggar hukum berjaga-jagalah terhadapnya.

Ia tidak menyandang pedangnya dengan tanpa arti. 

3 kali Paulus mengatakan demikian. 

Sementara sang pejabat penegak hukum menggunakan pedangnya terhadap anda. 

Ia melayani anda. 

Sekarang ini yang dimaksudkan pedang mungkin saja senjata otomatis kaliber 9 mili. 

Kalau anda merampok bank dan seorang polisi menembak anda, ia melayani Allah. 

Paulus mengatakan bahwa Allah-lah yang menetapkan hukum dan keteraturan.

Hukum yang Allah tetapkan merupakan ekspresi murka Allah di masa sekarang terhadap orang fasik. 

Oleh karenanya menurut kitab suci sudah layak dan sepantasnya kalau penjahat takut terhadap pejabat yang ditetapkan hukum. 

Jadi perintah keenam bukanlah secara harfiah melarang kita untuk mematikan. 

Inti perintah keenam ini adalah bahwa nyawa itu di tangan Allah. 

Allah yang memberikan nyawa dan juga merupakan hak prerogatif Allah untuk mencabut nyawa.

Sistem penopang nyawa yang canggih dari kedokteran modern mempertanyakan tentang perintah keenam ini. 

Yang mereka pertanyakan adalah masalah kapan kematian itu terjadi. 

Definisi kita tentang kematian semakin kabur. 

Akan tetapi prinsip yang hendaknya selalu kita pegang adalah bahwa hak prerogatif Allah semata untuk memberikan nyawa dan mencabut nyawa. 

Manusia mungkin memperpanjang nyawa dengan sistem penopang nyawa namun tetap saja Allah yang memberikan nyawa dan mencabut nyawa.

Saya masih teringat kisah tentang sebuah keluarga yang salah satu anggotanya mengalami pendarahan otak dan di diagnosa takkan pernah pulih.

Sedokter bedah saraf ingin membedahnya. 

Risikonya sangat tinggi dan ia mengatakan: “Toh dia tidak akan pernah memiliki hikmat Salomo, jadi marilah kita membedahnya.” 

Akan tetapi seorang dokter bedah lainnya di rumah sakit itu mempermasalahkan keputusan tersebut. 

Ia mengadukan kasusnya kepada dewan rumah sakit dan menghalangi pembedahan tersebut 

Dokter yang menentang perbedaan tersebut adalah orang Yahudi. 

Pandangan dokter Yahudi ini di hadapan dewan rumah sakit itu adalah, pasien ini berada di dalam tangan Allah janganlah kita melakukan apapun. 

5 tahun kemudian pasien ini dinyatakan 75% pulih oleh rumah sakit ini. 

Keluarganya selalu bersyukur kepada Allah karena dokter saraf Yahudi yang mengatakan pasien ini berada dalam tangan Allah, janganlah kita melakukan apapun, Allah yang memberikan atau mencabut nyawa. 

Demikianlah prinsip atau inti perintah ke-6.

——————–

Berikutnya: “Jangan berzinah.” 

Saya percaya bahwa inti dari perintah ini adalah apa yang mungkin kita sebut hak anak-anak.

Seperti yang dinyatakan dalam kejadian pasal 2, Allah berencana mempersatukan seorang pria dengan seorang wanita dalam pernikahan agar mereka menjadi orang tua yang melahirkan anak-anak dan seterusnya. 

Pernikahan atau rumah tangga adalah konteks aman yang ingin diciptakan Allah sehingga anak-anak dapat dibina dan bertumbuh di dalam konteks aman tersebut untuk menghadapi kehidupannya kelak.

Jadi ketentraman anak-anak tergantung pada komitmen atau kesetiaan pasangan menikah.

Saya percaya bahwa kebenaran inilah inti dari perintah ke-7 ini.

Itulah sebabnya Allah memerintahkan: “Jangan berzinah.”

Alasan lain perintah ini adalah bahwa Allah ingin menciptakan konteks aman di mana pasangan menikah dapat mengekspresikan perasaan yang paling intim.

Saya masih teringat memberikan konseling kepada seorang pria beberapa tahun yang lalu, yang hidup seperti kebanyakan muda-mudi yaitu dengan seorang wanita.

Ia seorang mahasiswa perguruan tinggi dan wanita yang hidup bersamanya juga seorang mahasiswi perguruan tinggi. 

Mereka pergi ke sebuah kota resort pada saat liburan. 

Namun begitu pula dimulai kembali sang pria tetap tinggal di kota resort tersebut untuk bekerja sedangkan sang wanita kembali kuliah. 

Wanita ini datang mengunjungi teman prianya setiap akhir pekan. 

Akan tetapi pada suatu hari jumat wanita ini menelepon teman prianya dan mengatakan tak akan datang lagi. 

Dalam konflik tersebut dengan berlinang air mata sang pria mengatakan seharusnya ada semacam jaminan, ada semacam struktur ketika anda ingin berkomitmen terhadap perasaan seintim ini. 

Saya menjawab: “Itulah yang seharusnya saya jelaskan kepada anda, sebab demikianlah yang diajarkan kitab suci. Allah justru menghendaki adanya semacam jaminan kalau anda ingin berkomitmen terhadap perasaan seintim ini.” 

Allah menghendaki adanya semacam konteks atau struktur di mana perasaan intim ini dikomunikasikan dua arah di antara anda dengan pasangan anda. 

Demikian perintah ke-7 jangan berzinah.

Perintah ke-8 mengatakan: “Jangan mencuri.” 

Inti perintah ini adalah bahwa Allah adalah Allah keteraturan. 

Berdasarkan kasih karunia Allah dan prinsip tabur tuai kita membangun aset tertentu dalam kehidupan kita. 

Ingatlah bahwa abraham mengatakan tak akan mengambil apapun ketika menaklukkan sebuah kota untuk menyelamatkan keponakannya Lot. 

Ketika itu Lot ditawan dan abraham menyelamatkannya. 

Abraham tidak mau mengambil jarahan apapun karena takut seseorang mengatakan: “Aku telah menjadikan Abraham kaya.” 

Abraham menyakini bahwa ia akan memiliki kekayaan sebanyak yang Allah kehendaki ia miliki atas dasar kasih karunia Allah serta prinsip tabur tuai. 

Ketika anda mencuri, anda melanggar keteraturan yang Allah kehendaki. 

Perintah ke-9 mengatakan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” 

Menurut saya kita kurang mendalam mempelajari perintah yang satu ini.

Orang sering mengatakan berbohong besar itu dilarang namun berbohong sedikit tidak apa-apa.

Padahal kalau kita mempelajarinya lebih mendalam jelas kali kita dilarang mengucapkan saksi dusta. 

Salah satu cara paling cerdik bohong adalah mengatakan kebenaran di luar konteks atau hanya mengatakan setengah kebenaran. 

Memanipulasikan kebenaran adalah salah satu cara paling cerdik untuk berbohong. 

Para tokoh media massa adalah pakarnya dalam hal ini. 

Orang menjadi pakar dalam hal ini, ketika mereka ingin menghancurkan orang lain. 

Mereka dapat melakukannya dengan mengatakan setengah kebenaran pada saat tertentu dan dalam konteks tertentu. 

——————–

Beberapa tahun yang lalu, seorang mahasiswa perguruan tinggi yang juga seorang pendeta untuk kaum muda melihat di kaca spion belakang mobil dan menyadari bahwa sebuah mobil polisi telah membuntutinya sejauh 9 km. 

Pada mulanya ia tidak menyadari bahwa mobil itu mobil polisi karena tidak ada tanda pengenalnya. 

Ketika itu sabtu tengah hari dan pendeta muda ini mengira bahwa sirine mobil polisi tersebut adalah sirine jam istirahat sebuah pabrik yang ia lewati. 

Ketika pada akhirnya mobil polisi tersebut mengejarnya, pendeta muda ini mengira dirinya akan dipenjara. 

Ketika itu ia mengajak beberapa anak muda semobil setelah menghadiri suatu acara anak muda. 

Sang Petugas polisi mengambil surat izin mengemudinya dan membawanya ke belakang mobil.

Pendeta ini memperhatikan dari kaca spion bahwa sang petugas polisi hanya memandangi surat izin mengemudinya sambil menggaruk kepala. 

Pada akhirnya sang petugas polisi menghampirinya dan mengatakan: “Anda harus mengakui bahwa anda mengemudi terlalu cepat, namun saya tak akan melakukan apapun karena saya mengenal ayahanda.” 

Sang pendeta muda itu tahu bahwa sang petugas polisi tidak mengenal ayahnya, sebab ayahnya tidak pernah ke wilayah tersebut, hanya saja sang petugas polisi merasa mengenal ayahnya. 

Demikianlah situasinya melibatkan masalah etika. 

Apa yang seharusnya dilakukan sang pendeta muda. 

Ia belum mengikuti kursus etika. 

Seingatnya ketika itu ia mengatakan: “Ayah saya adalah seorang pria yang hebat.” 

Tentu saja pernyataannya itu benar.

Lalu dimana masalah etikanya? 

Baru belakangan sang pendeta menyadari bahwa ia bisa melanggar perintah ke-9 ini dengan tidak mengatakan apapun, dengan memberikan suatu pernyataan yang benar. 

Saya tidak tahu apa yang akan anda lakukan seandainya anda yang mengalaminya. 

Mungkin secara rohani saya sudah bertumbuh dan mungkin saya takkan menanganinya dengan cara yang sama. 

Yang jelas perintah ke-9 ini mengatakan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” 

Tidak menjadi soal seberapa cerdik pun anda melakukannya. 

Kalau anda memberikan kesan yang salah, anda melanggar perintah ke-9 ini. 

Demikian inti perintah ke-9 ini. 

Perintah terakhir adalah “Jangan mengingini.” 

Inti perintah terakhir ini sama dengan perintah 8 yaitu jangan mencuri. 

Sebab Allah sungguh mempunyai kehendak tentang apa yang kita masing-masing memiliki. 

Istri yang kita miliki, keluarga yang kita miliki, rumah yang kita miliki, posisi yang kita miliki, posisi kita dalam kehidupan ini. 

Allah mempunyai kehendak tentang semuanya ini. 

Menurut kitab suci kita tidak boleh membandingkan diri dengan sesama. 

Kita semua adalah individu yang unik. 

Ketika Allah menjadikan masing-masing orang Ia tidak menggunakan satu pola, Ia tidak menghendaki kita menjadi seperti apapun juga di dunia ini dan Ia juga tidak menghendaki siapapun juga di dunia ini menjadi seperti kita. 

Oleh karenanya jangan kita membandingkan diri dengan sesama dan janganlah kita iri serta mengingini apa yang dimiliki sesama.

Saya berdoa agar saat kita pelajari kitab Keluaran ini, anda akan memahami pertama-tama tentang keselamatan atau kelepasan sehingga anda dapat mengalami keselamatan atau kelepasan dari perbudakan dosa. 

Lalu saya percaya bahwa dengan mempelajari kitab Keluaran, anda akan memahami sesuatu tentang bagaimana anda bisa menjadi instrumen, melalui siapa Allah dapat menyelamatkan orang lain. 

Saya percaya tentang itulah kitab Keluaran ini. 

Saya percaya tentang itulah kitab Keluaran ini.

Sungguh waktu kita yang berharga cepat sekali berlalu. 

Kalau anda ingin mempelajari lebih lanjut bagaimana anda dapat dilepaskan dari kuasa dosa, silakan menulis surat kepada kami. 

kami mempunyai literatur yang akan membantu anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s