Kemah Penyembahan (OTS15)

Bagian 1

Selamat datang di Sekolah Alkitab Mini. 

Program ini adalah studi tentang Alkitab dan kita melanjutkan studi kita tentang Perjanjian Lama. 

Setelah menyelesaikan Kitab Keluaran sekarang tibalah saatnya kita membuka kitab Imamat.

Orang yang membaca Alkitab menganggap kitab Imamat sebagai kitab yang sangat sulit. 

Mulai dari kitab kejadian mereka membaca lancar hinga mereka sampai di kira-kira sepertiga Kitab Keluaran, di mana mereka membaca tentang spesifikasi tabel perjanjian Allah di Padang belantara. 

Hal itu menjadikan pembacaan mereka kurang lancar sedikit. 

Akan tetapi begitu sampai ke kitab Imamat, banyak yang benar-benar menyerah. 

Seorang wanita yang bergaya hidup sangat mewah, menjadi jemaat gereja Protestan episkopal yang menonjol. 

Ia membuat rekaman di mana ia mengatakan kepada orang-orang percaya, bahwa seandainya anda mau menjangkau seseorang yang seperti dirinya yang dulu, yaitu yang bergaya hidup mewah, janganlah mengutip ayat Alkitab sebab ayat Alkitab tidak berarti sama sekali bagi orang sekuler yang duniawi. 

Ia katakan bahwa meski telah 8 tahun menjadi orang Kristen namun ia masih belum menemukan siapa Imamat itu. 

———————-

Kata Imamat ada hubungannya dengan orang Lewi yaitu para imam. 

Untuk memahami kitab Imamat anda mutlak perlu memahami tabut perjanjian Allah di Padang belantara yaitu kemah yang Allah perintahkan kepada Musa untuk dibangun. 

Itulah kemah ibadah. 

Belakangan bait Allah yang dibangun oleh Salomo menggunakan spesifikasi yang sama seperti Kemah ibadah di Padang belantara ini. 

Pola ibadahnya juga sama. 

Selama 3000 tahun di tempat-tempat ibadah orang Yahudi dan di banyak gereja, pola ibadahnya masih mengikuti pola ibadah yang dipelajari umat Allah ketika Musa membangun tempat ibadah di Padang belantara itu. 

Salah satu hal yang terpenting tentang kemah ibadah ini adalah, ia diletakkan di tengah-tengah perkemahan bangsa Israel. 

Ketika nanti kita sampai ke kitab bilangan, kita akan melihat bahwa ketika bangsa Israel keluar dari Mesir dan mengembara di padang gurun, mereka bukan lagi sekumpulan orang banyak yang tidak terorganisasikan. 

Mereka tidak lagi seperti para peserta marathon di padang gurun. 

Melainkan mereka sudah menjadi lebih seperti pasukan militer dengan formasi yang teratur. 

Ada 12 suku dan masing-masing suku mempunyai lokasinya tersendiri. 

Mereka melintasi padang gurun dengan formasi yang rapi dan di tengah-tengah perkemahan mereka itulah dibangun kemah ibadah atau tabut perjanjian Allah di Padang belantara. 

Fakta bahwa kemah ibadah ini dibangun di tengah-tengah perkemahan mereka mengilustrasikan sesuatu perintah Allah yang pertama adalah selalu mendahulukan Allah diatas segalanya. 

Kitab suci mengajarkan agar Allah menjadi sentral, menjadi pusat kehidupan kita dan hal itu didemonstrasikan atau diilustrasikan oleh fakta bahwa kemah ibadah ini dibangun di tengah-tengah perkemahan mereka. 

Pengamatan terpenting yang mungkin kita petik tentang kemah ibadah ini adalah fakta bahwa kehadiran Allah yang Ilahi benar-benar bersemayam di dalam kemah ini. 

Kehadiran Allah menjadikan kemah ini demikian sakral dan demikian istimewa. 

Kita diberitahu bahwa ketika Musa selesai membangun kemah ibadah ini, kehadiran dan kemuliaan Allah datang memenuhi kemah ini. 

Awan turun menaungi kemah ini, melambangkan pengurapan dan pemenuhan oleh Roh Kudus.

Hal yang sama terjadi ketika Salomo membangun bait Allah menurut pola yang sama. 

Setelah selesai dibangun oleh Salomo kemuliaan Allah datang dengan kuasa yang sedemikian besar sehingga para imam yang berhamburan keluar dari bait tersebut. 

Mereka tidak sanggup tinggal di dalam bait Allah untuk meresmikannya sebab kemuliaan Allah memenuhi bait tersebut. 

Demikianlah kemah ibadah ini dibangun di tengah-tengah perkemahan mereka. 

Kalau seorang pendosa dari kedua belas suku Israel ingin mengakui dosanya dan berdamai dengan Allah, ia harus datang kepada kemah ibadah ini. 

Kemah ini dinaungi oleh awan dan awan ini menuntun mereka. 

Ketika awan ini pindah bangsa Israel pun pindah. 

Ketika awan ini menetap bangsa Israel pun menetap. 

Dan fakta penting tentang kemah ibadah ini adalah bahwa Allah benar-benar hadir di sana.

Ketika mereka mendekati kemah ibadah ini, mereka mendekati Allah.

Mereka mendekati Allah untuk memohon pengampunan. 

Mereka mendekati Allah untuk beribadah dan mereka mendekati Allah untuk memohon petunjuk. 

Allah hadir di tengah-tengah perkemahan mereka dalam kemah ibadah ini. 

Sekarang tentang ibadah itu sendiri.

Kemah ibadah ini mempunyai pagar di sekelilingnya yang menyerupai kanvas. 

Anda takkan terkesan seandainya anda melihat kemah ibadah ini.

Area di dalam pagarnya adalah halamannya. 

Belakangan Salomo membangun bait Allah dengan pola yang sama hanya saja halamannya seluas 5,5 hektar. 

Di halaman bait Allah yang dibangun oleh Salomo itulah Yesus mengusir para penukar uang.

Akan tetapi halaman kemah ibadah ini kecil hanya 14 meter lebarnya. 

Kalau seorang pendosa ingin memohon pengampunan Allah, ia  akan datang ke kemah ibadah ini, dimana seorang Imam akan menyambutnya di pagar halamannya.

——————– 

Ada beberapa perabotan kemah ibadah yang sangat penting.

Yang pertama adalah sebuah mezbah tembaga. bentuknya seperti tempat pemanggang barbeque yang sangat besar.

Mezbah ini sakral,  apinya selalu dinyalakan.

Maksudnya mezbah tembaga ini adalah tempat mempersembahkan hewan korban yang dibawa oleh seorang Pendosa, seperti yang digambarkan dalam kitab Imamat.

Sang Pendosa sendiri tetap berdiri di pagar halaman nya, ia tidak pernah memasuki kemah ibadah ini. Ia tidak pernah memasuki bagian dalam kemah ibadah ini, di mana Allah bersemayam. Sang Imam lah yang memasuki kemah ibadah ini, mewakili sang Pendosa.

Pertama sang Imam meletakkan hewan kurbannya di atas mezbah tembaga itu. Sementara asap persembahannya membumbung, sang Imam pindah ke berikutnya, yang bentuknya seperti tempat membantu berdekorasi indah di mana sang Imam akan membasuh dirinya mungkin sang Pendosa yang tetap berdiri di pagar halaman.

Tabut perjanjian Allah itu sendiri dibagi menjadi dua bagian. 

Bagian sebelah luarnya disebut tempat Kudus.

Tempat Kudus ini dipisahkan dengan sebuah selubung yang sangat tebal dengan bagian sebelah dalamnya yang disebut tempat Maha Kudus.

Kemuliaan Allah berada ditempat yang Maha Kudus ini.

Demikian sang Imam mendekati Allah, mewakili sang Pendosa.

Setelah membasuh dirimu mewakili sang Pendosa, sang Imam masuk ke tempat Kudus. 

Di sebelah kirinya terdapat kandil yang merepresentasikan pernyataan atau Wahyu yang Allah berikan melalui FirmanNya.

Tentu, mereka tak akan mengetahui prosedur untuk mendekati Allah ini seandainya Allah tidak mengajari mereka melalui FirmanNya.

Demikianlah sang Imam beribadah di hadapan kanin ini dan mengucap syukur kepada Allah atas pernyataan atau Wahyu yang Allah berikan bagi sang Pendosa yang tetap berdiri di pagar halaman.

Pernyataan atau Wahyu ini menunjukkan kepada sang Pendosa, Bagaimana caranya diselamatkan dan bersekutu dengan Allah.

Di sebelah kanannya terdapat meja-meja tempat menaruh roti sajian.

Maksudnya adalah melambangkan apa yang dilambangkan oleh mana, yaitu bahwa Allah-lah yang setiap harinya memberi kita masing-masing makanan yang secukupnya. 

Allahlah yang membuka tangannya dan memuaskan hasrat setiap makhluk hidup.

Allahlah yang memberi kita daging pada waktunya.

Demikianlah maksud dari meja sajian ini.

Lalu di depannya bersandar pada selubung yang menutupi tempat Mahakudus terdapat untuk membakar ukupan.

Dihadapan mezbah ukupan ini, sang Imam memanjatkan doa syafaat bagi sang Pendosa yang tetap berdiri di pagar halaman.

Sampai sana lah prosedur yang dilakukan sang Imam, lalu kembali keluar dan menyambut Pendosa lain dan mengulang prosedur yang sama. Sedangkan sang Pendosa sendiri tetap berdiri di pagar halaman.

———————————- 

Setahun sekali seluruh bangsa Israel akan berkumpul di sekeliling kemah ibadah ini dan sang imam besar akan masuk ke tempat Maha Kudus untuk mempersembahkan darah hewan korban demi dosa seluruh bangsa Israel.

Hal itu hanya dilakukan setahun sekali, sedangkan hari-harinya Imam biasa prosedur di atas hingga sejauh meja ukupan. 

Semua perbuatan kemah ibadah ini mempunyai pegangan sebab bangsa Israel mengembara di padang gurun seperti pasukan besar dan perabotan kemah ibadah itu harus di bawa-bawa.

Mezbah tembaga sesungguhnya melambangkan Injil Perjanjian Baru.

Bahkan setiap perabotan dan kemah ibadah itu sendiri sesungguhnya melambangkan Yesus Kristus.

Yesus sendiri mengatakan: ‘Musa sendiri menulis tentang Aku.’

Mezbah tembaga jelas melambangkan kematian Yesus.

Segala hewan kurban yang dipersembahkan di mezbah tembaga ini dikenal dengan kematian Yesus di kayu salib.

Jadi mezbah tembaga ini  melambangkan salib Yesus Kristus. 

Jadi melalui lambang ini Tuhan ingin mengatakan: tidak mungkin mendekati Allah yang kudus tanpa mempersembahkan korban.

Firman Allah mengatakan: “Tanpa penumpang darah, tidak ada Pengampunan Dosa.”

Mezbah tembaga ini juga mengatakan bahwa Allah itu benar dan Kudus adanya. Dia menuntut agar kita juga benar dan Kudus.

Allah mengutuk segala yang tidak benar dan tidak kudus.

Allah tau bahwa sampai kapanpun manusia takkan sanggup menjadi cukup benar dan cukup Kudus untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Oleh karenanya Allah datang ke dalam dunia sebagai anak domba Allah untuk dipersembahkan agar barang siapa percaya, ia dinyatakan benar olehnya menurut keadilannya.

Demikianlah yang telah Allah kerjakan.

Yang Allah harapkan dari kita hanyalah agar kita percaya kepadanya ketika ia mengatakan demikian.

Mezbah tembaga mengatakan semua tentang bagaimana Allah itu, apa yang dituntutnya, apa yang dikutuk nya, apa yang ia ketahui, apa yang telah karyakannya dan apa yang ia kehendaki kita lakukan.

Semua pesan itu terangkum dalam mezbah tembaga ini. 

Ringkasnya, Mezbah tembaga ini menunjukkan bahwa manusia yang berdosa tidak mungkin mendekati Allah yang kudus tanpa mempersembahkan korban.

Itulah sebabnya sangat diperlukan pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib.

 

BAGIAN II

Kita sedang mempelajari tentang kemah ibadah atau tabut perjanjian Allah yang dibuat karena perintah Allah, dan sedang mempelajari berbagai perabotannya yang menjadi simbol rencana penebusan Allah menjadi simbol Yesus Kristus.

Selamat datang di sekolah alkitab Mini, sebuah program untuk mengajarkan keseluruhan kitab dalam Alkitab.

Saat ini kita sedang mempelajari kemah ibadah dan segala simbolnya yang mengagumkan.

Nanti ketika kita mempelajari perjanjian baru, khususnya kitab Ibrani, kita akan menemukan makna simbol-simbol ini.

Salah satu perabotan kemah ibadah adalah kandil emas.

Ketika sang Imam berdiri di hadapan kandil emas, ia mengakui bahwa Allah adalah sumber Alkitab yang kita pelajari ini.

Ia mengakui bahwa Firman Allah yang membimbing. Ia menyembah dan mengucap syukur kepada Allah atas pernyataan atau Wahyu yang diberikannya kepada seorang Pendosa yang berdiri di pintu gerbang, tentang bagaimana caranya ia dapat diselamatkan serta mendekati Allah yang kudus dalam ibadah.

———————- 

Rasul Paulus menyinggung tentang posisi orang percaya sebagai pelayan-pelayan Tuhan yang dipercayakan rahasia Allah.

Itulah tanggung jawab yang besar ketika Allah memberi anda FirmanNya.

Di dalam perjanjian baru, Paulus mengatakan: “iman timbul dari pendengaran, yaitu pendengaran akan Firman Allah.” 

Iman itu sendiri lahir melalui Firman Allah. 

Dalam banyak pengertian, Firman Allah dan iman, itulah sumber keselamatan kita.

Saya percaya bahwa Ketika sang Imam berdiri di hadapan kandil emas ia mengucap syukur kepada Allah bahwa ia tidak meninggalkan umatnya dalam gelap.

Ia memberi umatnya pernyataan atau Wahyu tentang kebenarannya, ketika ia memberi mereka FirmanNya yang kudus.

Hal itu juga menjadi simbol akan Yesus Kristus sebab Yesus adalah Firman dan terang dunia dan terlepas darinya, manusia berada di dalam gelap tanpa Firman kebenaran.

Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, setelah itu sang Imam akan mendekati meja sajian.

Di meja ini terdapat roti yang mensimbolkan fakta bahwa Allah akan memelihara umatnya dan memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam Kitab Keluaran dan kitab bilangan, kita akan melihat Allah melakukannya berulang-ulang secara Supernatural.

Secara supernatural, Allah memenuhi kebutuhan umatnya.

Saya percaya bahwa Allah tidak pernah menghendaki kita melupakan fakta bahwa dialah sumber segala yang kita butuhkan.

Di zaman Yesus pun, mereka menyediakan meja roti sajian seperti itu di bait-bait mereka.

Hal ini adalah ilustrasi tentang bagaimana para pemimpin agama melupakan maksud dari hukum Allah.

Pada suatu kali ketika Yesus sedang berdebat dengan para pemimpin agama tentang maksud hukum Allah dan inti hukum Allah, Yesus menggunakan ilustrasi Daud. Nanti kita akan melihatnya ketika kita sampai ke kitab Samuel.

Ketika itu Daud yang melarikan diri dari Saul dan ia bersama orang-orang yang kelaparan. 

Daud tahu bahwa ada sebuah bait kecil di sebuah kota kecil dan Daud tahu bahwa dibalik tersebut pasti disediakan roti sajian.

Maka Daud mendatangi bait tersebut dan meminta roti sajian tersebut.

Yesus memuji Daud karenanya. 

Orang Farisi tidak dapat menerima hal itu namun Yesus memuji Daud sebab maksud meja roti sajian adalah mendemonstrasikan kebenaran bahwa Allah akan memenuhi kebutuhan kita dan memberi kita makan secukupnya setiap hari.

Orang farisih dan para ahli Taurat sedemikian mentaati hukum Taurat sehingga mereka secara kaku melaksanakan Hukum Allah tentang roti sajian tersebut, di mana hanya para imam saja yang boleh makan roti sajian tersebut.

Padahal maksud hukum Allah tersebut adalah menggambarkan fakta bahwa Allah yang memenuhi kebutuhan umatnya.

Daud seolah-olah melanggar Hukum Allah tersebut dengan memakan roti sajian yang seharusnya hanya boleh dimakan oleh para imam, namun Yesus justru memuji Daud sebab inti dari hukum tersebut adalah bahwa Allah adalah sumber segala yang dibutuhkan umatnya dan ketika itu, Daud dan orang-orangnya memang membutuhkan makanan.

Inilah yang ditimbulkan oleh meja roti sajian.

Saat sang Imam berdiri di hadapan meja roti sajian, ia menyembah dan mengucap syukur kepada Allah yang telah memenuhi kebutuhan umatnya.

Saat sang Imam berdiri di hadapan ukupan, ia berdoa bagi Pendosa yang tetap berdiri di pintu gerbang halaman.

Saat sang Imam berdoa dan menjadi perantara bagi si Pendosa, sang Imam mensimbolkan Yesus Kristus sebab Yesus Kristus adalah imam besar agung kita.

——————

Dalam Yohanes 17, kita membaca tentang doa Yesus.

Doa bapa kami dalam Matius pasal 6, sesungguhnya adalah doa murid-murid Yesus karena Yesus sendiri tidak pernah menaikkan doa tersebut.

Doa yang sungguh dinaikkan Yesus adalah terdapat dalam Yohanes 17.

Sebagai imam besar agung Yesus selalu mendoakan kita menghadap hadirat Allah atas nama manusia atau orang berdosa.

Seorang nabi mewakili Allah untuk menyampaikan Firman Allah kepada umatnya sedangkan seorang Imam mewakili umatnya untuk menghadap hadirat Allah dan Puncak pelayanan seorang Imam adalah ketika ia berdoa bagi orang berdosa di mezbah ukuppan ini.

Tema ibadah ini dibagi menjadi dua:  tempat Kudus dan tempat Maha Kudus.

Dalam tempat Maha Kudus hanya ada satu perabotan yang paling sakral yaitu tabut perjanjian Allah.

Tabut perjanjian Allah mensimbolkan kehadiran Allah yang Ilahi.

Ketika kita sampai pada kitab Yosua, kita akan melihat mereka membawa tabut perjanjian ini mengelilingi tembok Yerikho.

Mereka selalu membawa tabut perjanjian Allah ke pertempuran sebab kuasa Allah hadir di dalamnya.

Dalam perjanjian baru, kita mendapatkan perspektif yang luar biasa tentang kemah ibadah ini.

Baik perjanjian lama maupun perjanjian baru, banyak bagian Alkitab akan sulit kita pahami kecuali kita memahami kemah ibadah ini.

Yang terutama kita akan kesulitan memahami Injil Yesus Kristus kecuali kita memahami kemah ibadah ini dan arti dari setiap perabotan di dalamnya.

Ada lagi suatu kebenaran besar dalam perjanjian baru yang disimbolkan dalam kemah ibadah ini yaitu tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Allah yang hidup dan bahwa ia tinggal di dalam kamu?

Itulah kebenaran yang perlu dipahami bangsa Yahudi.

Sebab mereka selalu menganggap bahwa Allah tinggal di dalam tabut perjanjiannya, sama seperti ketika Salomo membangun bait Allah, kehadiran Ilahi turun dan tinggal di dalam tabut perjanjian Allah.

Ketika bangsa Israel dibuang ke Babel dan Daniel berada di Babel yang kemudian menjadi bangsa Persia dan yang selalu berdoa menghadap Yerusalem sebab ia meyakini bahwa kehadiran Allah terdapat di dalam tabut perjanjiannya di Yerusalem. 

Yehezkiel dan para nabi suka berkhotbah kepada umat Allah yang dalam pembuangan.

Yang menjadi masalah adalah mereka mengkotbahkan akan Allah yang masih bersemayam di Yerusalem di dalam tabut perjanjiannya, sedangkan kebenaran yang menghidupkan menurut perjanjian baru ialah bahwa tubuh kita adalah bait Allah atau tempat dimana Allah sungguh tinggal.

Saya mengenal Seorang pendeta yang senang jogging.

Ia sering mengatakan kepada anak-anak saya bahwa seandainya seseorang menelpon ketika saya sedang jogging atau ketika saya sedang tidur siang, hendaknya mereka mengatakan sang pendeta sedang melakukan pemeliharaan bait.

Tentu yang dimaksudkan adalah tubuh yang memang adalah bait Allah.

Di kemudian hari, seorang temannya memberinya pakaian jogging dengan tulisan pemeliharaan bait di bagian punggungnya.

Ia pergi ke Israel dan mengenakan pakaian jogging nya saat berada dalam lift Hotel Raja Daud.

Ketika itu ada beberapa orang Ibrani yang satu lift bersamanya dan mereka menjadi bingung membaca tulisan tersebut sebab mereka tahu bahwa teman saya ini bukan orang Yahudi.

Yang kita maksudkan dengan pemeliharaan Bait adalah kita bertanggung jawab memelihara tubuh kita yang adalah bait Allah.

Sungguh suatu kebenaran yang hidup dalam perjanjian baru.

Kalau anda telah memutuskan untuk mengikuti Kristus dan menjadi muridnya, tubuh anda adalah bait Allah yang hidup.

Walaupun Ketika bangsa Israel masih mengembara di Padang belantara, kehadiran Allah adalah di dalam tabut perjanjianya.

Itulah sebabnya tabut perjanjian Allah merupakan bagian yang paling sakral dari kemah ibadah.

Dalam tabut perjanjian Allah terdapat beberapa benda yang juga penting yaitu loh batu, di mana Di Tuliskan 10 perintah Allah; bulih-bulih mana, tempat mana disimpan; dan tongkat Harun, yang secara ajaib bertunas.

——————————

Demikianlah berbagai perabotan yang terdapat dalam kemah Ibadah.

Dalam hal ini bukanlah suatu kebetulan bahwa keseluruhan perabotan ini mencerminkan Salib.

Sesungguhnya yang ingin Allah perlihatkan kepada kita dalam keseluruhan kemah ini adalah Yesus Kristus.

Mulai dari mezbah tembaga, bejana pembasuhan dan selanjutnya, pada akhirnya semuanya itu mensimbolkan salib Kristus, persis seperti yang kita baca tentang darah yang dilumurkan pada kusen pintu pada waktu malaikat Allah melawan mereka untuk pertama kalinya.

Pakaian sang Imam pun bermakna, walaupun kita akan membahasnya secara detil, simbol-simbol yang kita lihat dalam kemah ibadah ini hanyalah salah satu contoh dari fakta bahwa dalam Kitab Wahyu dan Injil Yohanes, serta bagian-bagian lainnya, kita belajar bahwa bangsa Yahudi mengenal bahasa simbol.

Dalam Kitab Wahyu, kita membaca bahwa sebuah Pintu Surga terbuka dan tampaklah seseorang duduk diatas tahta, dan dia yang duduk diatas Tahta Itu tampak bagaikan Permata yaspis, permata sardis dan tahtanya dilingkungi suatu pelangi yang gilang-gemilang bagaikan Zamrud.

Bagi orang yang bukan Yahudi atau orang yang tidak memahami Perjanjian Lama, semuanya itu mungkin membingungkan.

Padahal segala yang disebutkan dalam Kitab Wahyu itu pun mensimbolkan sesuatu.

Misalnya, segala permata yang dikatakan dalam Wahyu 4 itu dikenakan pada baju Sira sang imam besar.

Permata-mata tersebut mewakili kedua belas suku Israel.

Salah satunya mengacu kepada suku Ruben, yang lain yang mengacu kepada suku Benyamin, yang lain yang mengacu kepada suku Yehuda.

Ruben itu sendiri berarti lihatlah aku, Benyamin berarti anak di sebelah kananku, Yehudah berarti pujian atau penyembahan.

Jadi dalam Wahyu 4 ini seolah-olah kita diberitahu: Lihatlah anak-anakku, anak di sebelah kananku sembahlah Dia.

Segalanya di surga tersungkur di hadapan Tahta itu dan menyembah Dia.

Itulah pesan kemah ibadah.

Ingatlah bahwa Perjanjian Lama mengajarkan bahwa Yesus akan datang, sedangkan perjanjian baru mengajarkan bahwa Yesus telah datang.

Apabila anda merasa berada dalam kegelapan, Yesus mengatakan: “Akulah terang dunia.”

Apabila anda merasa hampa secara rohani, Yesus mengatakan: “Akulah roti hidup, Aku ingin tinggal dalam mu dan ingin menjadikan tubuhmu bait-Ku.” — [AGP/GR1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s