Pedoman Imam (OTS16 )

Bagian 1

Selamat datang di program sekolah Alkitab mini.

Sungguh suatu kehormatan bagi saya untuk belajar Alkitab dengan anda dan saya senang sekali anda belajar demikian banyak. 

Hari ini dalam kitab Imamat kita perlu fokus pada apa yang oleh Alkitab disebut sebagai Tabernakel di padang gurun yang telah kita bahas sebagai kemah ibadah. 

Musa diperintahkan untuk membangun kemah ibadah ini.

Tabernakel di padang gurun Ini bukan saja menunjukkan kepada umat Allah bagaimana cara mendekati Allah yang kudus dalam ibadah, melainkan juga merupakan tempat dimana sang imam dan bangsa Israel berjumpa dengan Allah. 

Di tempat inilah mereka menemukan petunjuk dari Allah. 

Tabernakel di padang gurun ini bukan saja menjelaskan tentang ibadah melainkan juga tentang Yesus Kristus.

Sesungguhnya semuanya itu adalah tentang Yesus Kristus dan Keselamatan yang datang melalui Dia. 

Dalam beberapa ayat dari Perjanjian Baru Yesus mengatakan, Musa menulis tentang Aku 

Dalam Perjanjian Lama hal itu kita temukan dalam Tabernakel di padang gurun atau kemah ibadah.

Memasuki kitab Imamat, jika kita ingin memahami kitab ini kita mutlak perlu memahami tentang kemah ibadah ini. 

—————————-

Sesungguhnya kitab Imamat adalah buku pedomannya bagi para imam. 

Ketika saya mulai melayani, tidak seorangpun menjelaskan kepada saya mengenai hal-hal praktis seperti cara memimpin upacara pemakaman, cara memimpin upacara pernikahan.

Beberapa hal praktis ini terpaksa saya pelajari dengan mengalaminya sendiri. 

Ketika memimpin Upacara pemakaman untuk pertama kalinya, seumur hidup saya baru satu kali menghadiri upacara pemakaman yaitu upacara pemakaman Ibu saya sendiri. 

Seorang teman saya yang adalah seorang pendeta memberi saya sebuah buku pedoman untuk para pendeta. 

Betapa saya mensyukuri buku pedoman itu. 

Di dalamnya saya menemukan penjelasan selangkah demi selangkah apa yang harus saya lakukan ketika memimpin upacara pemakaman dan apa yang harus saya lakukan ketika memimpin upacara pernikahan serta berbagai penjelasan praktis lainnya. 

Buku pedoman ini persis sama dengan apa yang dimaksud dengan kitab Imamat 

Sesungguhnya kitab Imamat inilah buku pedoman bagi para imam untuk memimpin upacara di kemah ibadah. 

Sebelumnya, mari kita merenungkan beberapa penerapan Perjanjian Baru dalam pengajaran Perjanjian Lama tentang kemah ibadah. 

Seperti biasanya setiap kali membaca Alkitab hendaknya kita menanyakan: apa yang dikatakannya, apa maksudnya, apa maknanya bagi saya.

Hal itu berlaku bagi setiap kitab setiap pasal setiap ayat dalam Alkitab termasuk tentang kemah ibadah itu. 

Apa yang dikatakan kemah ibadah itu? 

Apa yang dikatakannya kepada kita di abad ke-21 ini? 

Apa maknanya bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini? 

Itulah yang ingin saya bahas tentang kemah ibadah itu. 

Tentunya anda masih ingat bahwa Tabernakel di padang gurun ini diperlengkapi dengan 6 perabotan yang penempatannya dalam Tabernakel membentuk tanda salib. 

Dari sana saja kita melihat bahwa Tabernakel di padang gurun atau kemah ibadah itu mengacu kepada Kristus dan Keselamatan yang datang melalui Dia. 

Di antara tempat Kudus di mana terdapat 3 perabotan dengan tempat Maha Kudus di mana terdapat 1 perabotan, ada tabir yang tebal. 

Bahkan dalam kemah ibadah yang kecil itu pun tabirnya dibuat dari bahan yang sangat kuat.

Josepus menyatakan bahwa sekelompok kuda yang menariknya ke arah yang bertolak belakang sekalipun tidak akan sanggup mengoyakannya. 

Beberapa tahun kemudian setelah bait Salomo dibangun dengan pola yang sama seperti kemah ibadah itu, tabir yang besar ini dibuat seperti tirai teater. 

Salah satu mukjizat terbesar menurut Alkitab yang seringkali tidak diperhatikan adalah yang berhubungan dengan kematian Yesus Kristus di kayu salib. 

Dalam Injil Perjanjian Baru kita membaca bahwa ketika Yesus Kristus mati dikayu salib tabir yang memisahkan tempat Kudus dengan tempat Maha Kudus itu secara aneh terkoyak dari atas ke bawah. 

Mujizat ini terjadi di bait Salomo di Yerusalem tepat saat kematian Yesus.

Yesus berseru dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya dan lihatlah tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. 

Itulah salah satu mukjizat terbesar menurut Alkitab. 

Dalam kitab kejadian kita membaca bahwa ketika manusia jatuh kedalam dosa. 

Jangan lupa bahwa kejadian pasal 3 menjelaskan, bagaimana dulunya, sekaligus bagaimana sekarang hal itu terjadi 

Maka konsekuensi terburuk dari dosa manusia itu baik dulu maupun sekarang adalah keterpisahan manusia dari Allah. 

Apa yang dikatakan Alkitab adalah solusi bagi masalah keterpisahan tersebut. 

Tentang hal inilah maksud adanya Tabernakel di padang gurun itu. 

Tentang hal inilah yang hendak dikatakan mengenai bait Salomo. 

Segala bentuk ibadah itu hendak menyampaikan sesuatu kepada kita yaitu bahwa Allah mau menunjukkan jalan kembali kepadaNya. 

Pada akhir Kejadian pasal 3 dikatakan bahwa jalan kembali ke pohon kehidupan dijaga dengan pedang menyala-nyala.

Sungguh suatu bahasa kiasan yang indah yang mengatakan bahwa hanya ada satu jalan kembali kepada Allah, yaitu melalui Dia yang dilambangkan sebagai pedang yang menyala-nyala tersebut, yaitu Yesus Kristus firman Allah yang dalam Alkitab digambarkan sebagai pedang bermata dua. 

Demikianlah satu-satunya jalan kembali kepada Allah dari siapa manusia telah terpisah akibat dosa. 

Demikianlah pesan mendasar dari tabelnakel di padang gurun, terutama ketika anda membaca penjelasannya menurut Perjanjian Baru. 

Jangan lupa bawa penjelasan tentang Alkitab yang paling baik adalah Alkitab itu sendiri.

Terutama ketika anda merenungkan penjelasan Perjanjian Baru tentang Perjanjian Lama. 

———————-

Ada satu lagi kebenaran yang sangat dinamis dalam penjelasan Perjanjian Baru tentang Tabernakel di padang gurun. 

Yaitu bahwa sesungguhnya Tabernakel itu adalah tentang Yesus Kristus, termasuk segala perlengkapannya.

Mezbah tembaga melambangkan kematianNya sebagai korban persembahan. 

Bejana pembasuhan melambangkan pembersihan dari dosa yang dimungkinkan oleh Kristus.

Kristuslah terang dunia yang dilambangkan oleh kaki Dian dari emas. 

Sedangkan yang dilambangkan oleh meja roti sajian adalah Kristus sebagai roti hidup dari surga yang menopang diri kita 

Pada mezbah ukupan, kita melihat bahwa Kristus Imam Besar Agung yang selalu mendoakan kita. 

Jadi segala sesuatunya tentang Tabernakel di padang gurun itu adalah tentang Kristus.

Keseluruhan rancangan atau pola kemash ibadah itu adalah tentang Kristus. 

Dalam kitab Ibrani kita membaca tentang kemah ibadah yang mungkin adalah hal paling dinamis dalam penjelasan Perjanjian Baru tentang kemah ibadah. 

Kitab Ibrani berusaha menjembatani jurang antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.

Mengapa sekarang kita tidak lagi mempersembahkan hewan kurban? 

Ketika anda membandingkan persyaratan Perjanjian Lama dengan persyaratan Perjanjian Baru jelas bahwa persyaratan Allah telah berubah. 

Persyaratan Ilahi Allah telah berubah dalam sejarah Allah dengan manusia.

Allah tidak lagi menuntut persembahan hewan kurban sekarang ini.

Mengapa tidak? 

Kitab Ibrani menjelaskan sebabnya. 

Ringkasnya dijelaskan sebuah kebenaran yang luar biasa yaitu dalam Ibrani pasal 9 yang mengatakan bahwa kemah Ibadah dalam dimensi duniawi, hanyalah suatu lambang dari ibadah yang ada di dalam dimensi sorgawi. 

Dengan kata lain, di Surga pun terdapat Tabernakel yang dibuat bukan dengan bahan-bahan fisik melainkan dari bahan-bahan rohani. 

Tabernakel yang dibuat oleh Musa atas perintah Allah hanyalah ekspresi berwujud dan dapat dilihat dari Tabernakel rohani tak berwujud yang digambarkan dalam Ibrani pasal 9. 

Ketika Yesus mati dikayu salib tabir Bait Suci terbelah dari atas sampai ke bawah. 

Kitab Ibrani mengatakan bahwa ketika Yesus mati dikayu salib terjadilah sesuatu yang sangat menarik. 

Setahun sekali sang Imam Besar melakukan pendekatan yang sama seperti yang dilakukan para imam biasa sepanjang tahun. 

Lalu ia akan memasuki tempat Maha Kudus, mempersembahkan darah korban demi dosa seluruh bangsa Israel.

Seluruh bangsa Israel akan berkumpul di luar kemah ibadah, sementara sang imam besar memasuki tempat Maha Kudus. 

Dengan cara yang sama, ketika Yesus mati dikayu salib, Ia berperan sebagai Imam Besar Agung bagi seluruh umat manusia yaitu memasuki Tabernakel sorgawi.

Pada Tabernakel surgawi, Yesus mempersembahkan diriNya sebagai korban di mezbah tembaga sebagai penggenapan dari segala persembahan hewan kurban di muka bumi. 

Ia melakukan pembasuhan di bejana pembasuhan memungkinkan pembersihan bagi seluruh umat manusia. 

Dalam Kitab Wahyu ketika kita berkumpul mengelilingi tahta dan mendekati Allah, bejana pembasuhannya bukan berisi air, melainkan lautan kaca sebening kristal. 

Dengan kata lain, airnya dipadatkan karena pembersihannya permanen. 

Ketika Yesus mati dikayu salib, Ia menjadikan pembersihannya permanen dan suatu hari kelak kita akan mengalaminya di surga.

Lalu Yesus memasuki tempat Maha Kudus. 

Bukan lagi mempersembahkan darah hewan kurban melainkan mempersembahkan darahNya sendiri demi dosa seluruh umat manusia, bukan dosa bangsa Israel saja. 

Menurut kitab Ibrani Tabernakel surgawi itulah yang menjadikan Tabernakel duniawi yang dibuat oleh Musa itu berarti. 

Tabernakel buatan Musa hanyalah ekspresi berwujud dari Tabernakel rohani yang tak berwujud yang sesungguhnya terjadi di hadapan Allah ketika Yesus mati dikayu salib.

Jadi ketika membaca kitab Ibrani seperti biasanya tanyakanlah, apa yang dikatakannya di sini? Apa maksudnya? Apa maknanya bagi saya? 

Segalanya yang terjadi dalam Tabernakel di padang gurun itu hanyalah lambang dari apa yang sesungguhnya terjadi dalam Tabernakel surgawi. 

Kristus datang menghadap Allah sebagai sahabat kita. 

Apa yang terjadi di bumi hanyalah lambang dari apa yang sesungguhnya terjadi di surga.

Yesus datang ke bumi ini untuk mati demi seluruh umat manusia sehingga kuasa dosa  dipatahkan sekali untuk selama-lamanya. 

Demikianlah penerapan makna kemah ibadah dalam kitab Imamat menurut Perjanjian Baru.

Kebenaran besar Injil berupa pengurapan dimana Kristus mati menggantikan kita di kayu salib karena segala dosa kita yang diajarkan dalam Perjanjian Baru telah dengan jelas didemonstrasikan.

Bagian II

Kita bersama-sama telah melihat bagaimana seharusnya pendekatan kita terhadap Allah menurut pola yang diberikan dalam kemah ibadah. 

Menurut Perjanjian Baru penerapan dinamis dari Tabernakel di padang gurun itu adalah kira-kira begini. 

Kalau anda sungguh percaya dan sungguh pengikut Kristus, apakah anda tidak sadar bahwa tubuh anda adalah bait Allah yang hidup? 

Itulah kebenaran dinamis menurut kitab suci. 

Apakah anda tidak sadar bahwa Roh Allah tinggal di dalam anda? 

Siapapun yang menajiskan baitnya akan dihancurkan oleh Allah, sebab baitNya adalah Kudus dan anda adalah bait Allah. 

Demikianlah penerapan dinamis dari Tabernakel di padang gurun menurut Perjanjian Baru.

Kemah ibadah atau Tabernakel di padang gurun adalah tempat dimana Allah bersemayam.

KehadiranNya yang kudus dilambangkan dalam tabut perjanjian Allah yang terletak di dalam tempat mahakudus. 

Mendekati Allah bukanlah urusan sepele. 

Hanya sang imam besar yang boleh memasuki tempat Maha Kudus ini. 

Kebenaran bahwa anda adalah bait Allah sungguh luar biasa. 

Menjelang ajal, Rasul Petrus menggambarkan maut begini: “Aku akan segera meninggalkan Tabernakelku.” 

Ia menyebut tubuhnya sebagai Tabernakel sebab memang demikianlah penerapannya. 

Kalau kita adalah bait Allah dan Allah tinggal dalam kita, maka kita adalah Tabernakel Allah di zaman modern. 

Kehadiran Allah sungguh hidup di dalam kita.

Rasul Paulus berusaha menyampaikan kebenaran ini kepada Jemaat di Korintus yang diperbudak oleh dosa seksual. 

————————–

Pada intinya Rasul Paulus mengatakan: “Tubuhmu dijadikan bukan untuk seks, tubuhmu dijadikan untuk Allah. Tidak sadarkah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Allah. Bahwa Allah hidup di dalam kamu.” 

Sungguh kebenaran yang luar biasa jika anda memahami sedikit saja bagaimana sulitnya mendekati Tabernakel dan betapa sulitnya mendekati Allah melalui Tabernakel saat di padang gurun. 

Dan Kolose 1:27 Rasul Paulus menjelaskan apa artinya mempunyai Kristus dalam tubuh kita:  “Kepada mereka Allah mau memberitahukan betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu Kristus ada di tengah-tengah kamu. Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.” 

Bahwasanya Kristus hidup didalam anda bukan saja suatu mukjizat sebab hal itu berarti bahwa kehadiran Allah hidup di dalam anda. 

Hal itu juga suatu kebenaran dinamis yang berarti bahwa karena Kristus hidup didalam anda, anda memiliki segala hal yang anda butuhkan untuk hidup sesuai dengan panggilan Allah.

Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunianya kepada anda, sehingga anda yang mendapatkan kelimpahan itu selalu siap melakukan perbuatan baik. 

Hal itu benar, sebab Kristus ada di dalam anda, Kristus hidup didalam anda. 

Tentu ada penerapan devosional dari kemah ibadah itu bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini.

Mendekati Allah adalah sesuatu hal yang sangat sakral.

Saya menyukai cara Daud menggambarkan tentang mendekati Allah. 

Dalam Mazmur pasal 100, Daud yang adalah seorang penyembah yang luar biasa yang juga seorang raja, mengatakan bahwa memasuki hadirat Allah adalah ibarat menghadap Raja.

Seandainya anda membuat janji dengan seorang raja, bagaimana caranya anda dapat sampai kepada raja untuk bertemu muka dengan muka. 

Daud mengatakan bahwa anda memulainya dengan melewati gerbang-gerbang istana yang besar. 

Mereka akan membukakan gerbangnya bagi anda, sebab anda ada janji dengan Sang Penguasa berdaulat. 

Lalu mungkin anda akan melewati koridor koridor panjang. 

Satu persatu pintu akan dibukakan. 

Mungkin di kiri kanannya berjejer beberapa prajurit. 

Semakin besar kekuasaan sang raja semakin panjang koridornya dan semakin banyak prajurit yang berjaga, sehingga ketika pada akhirnya pintu dibukakan kedalam hadirat sang raja, anda akan sangat terkesan bahwa orang yang anda jumpai tersebut adalah orang yang sangat penting. 

Menurut gambaran yang dilukiskan oleh Daud dalam Mazmur pasal 100, memasuki hadirat Allah adalah ibarat menghadap seorang Raja 

Ketika anda menghadap Allah demikian Daud mengatakan, seolah-oleh anda memulainya dengan gerbang ucapan syukur. 

Artinya memulainya dengan mengucap syukur kepada Allah atas segala yang terpikirkan oleh anda untuk mana anda sepantasnya bersyukur. 

Gerbang ucapan syukur ini akan mengantarkan anda ke gerbang pujian. 

Di sini mungkin anda selayaknya melewatkan waktu lebih lama. 

Banyak orang kudus mengatakan bahwa pintu yang membukakan kedalam hadirat Allah adalah pujian. 

Jadi hendaknya anda melewati gerbang pujian ini. 

Lalu pada akhirnya pintu yang membukakan kedalam hadirat Allah adalah nyanyian. 

Kita memasuki hadirat Allah dengan nyanyian. 

Perjanjian Lama menggambarkan bahwa ketika seorang nabi tidak mampu berbuat, ia akan mengatakan: “Tolong panggilkan seorang pelayan musik.” 

Setelah pelayan musik tersebut memainkan harpanya barulah Sang nabi bernubuat.

Apa sebenarnya musik itu? 

Saya percaya bahwa musik adalah suatu mukjizat terbesar yang telah Allah anugerahkan kepada kita, melalui mana kita dapat mengekspresikan segalanya yang semula tak terekspresikan. 

Memuji Allah dengan musik sungguh akan mengantarkan kita ke dalam hadirat Allah.

———————-

Dalam Mazmur pasal 100 Daud mengatakan bahwa ketika memasuki hadirat Allah ada hal tertentu yang anda ketahui benar. 

anda tahu benar bahwa Dia adalah Allah. 

anda tahu benar bahwa dia adalah baik. 

anda tahu benar bahwa dia adalah gembala, sedangkan anda dombanya. 

Pokoknya banyak hal yang anda ketahui benar ketika anda menyembah dalam hadirat Allah dan ketika anda benar-benar mengetahui semuanya itu, anda tahu benar bahwa Ia menghendaki kebenarannya berlaku bagi seluruh generasi di seluruh dunia. 

Oleh karenanya sudah layak dan pantasnya kalau anda melayani Allah dengan penuh sukacita demikian Daud mengatakan. 

Inilah gambaran yang indah tentang bagaimana seharusnya kita mendekati Allah, apa maknanya dan apa saja dampaknya dalam kehidupan kita. 

Dengan cara yang sama saya percaya bahwa kita dapat menggunakan pola kemah ibadah ini dalam saat teduh kita, di waktu pagi sebagai cara untuk mendekati Allah. 

Kita telah membahas bahwa hukum Taurat mendatangkan maut. 

Syukur kepada Allah bahwa sekarang kita tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, Yesus telah datang dan kita yang percaya sekarang hidup dibawa kasih karunia Allah. 

Esensi hukum selalu memberikan kehidupan.

Esensi hukum selalu mempunyai maksud dan makna. 

Ketika mendekati Allah menurut pola Tabernakel di padang gurun, anda tidak perlu lagi mengkhawatirkan tentang hukum Taurat sebab Yesus Kristus telah menggenapi semuanya itu.

Namun biarpun demikian, esensi hukum Taurat tetap ada ketika kita mempelajari kemah Suci.

Saya merekomendasikan anda untuk bangun pagi-pagi dan bersaat Teduh, beribadah di hadapan Allah sebelum anda menjalani hari anda. 

Coba anda bayangkan pola kemah ibadah itu. 

Bayangkan anda sedang membawa hewan kurban ke Mezbah tembaga yang melambangkan iman anda terhadap pengorbanan Yesus Kristus sebagai anak domba Allah, Ia menghapus dosa dunia.

Kalau anda belum pernah melakukannya, lakukanlah sekarang juga.

Percayakan saja pengampunan dosa anda kepada Yesus Kristus, lalu ucapkanlah syukur kepada Allah atas Yesus Kristus persembahan korban yang sempurna.

Lalu coba anda membayangkan, membasuh diri di bejana pembasuhan. 

Kita semua memang perlu dibahas secara terus-menerus.

Yesus mengatakan kepada Petrus, barangsiapa telah mandi tidak usah membantu diri lagi selain membasuh kakinya. 

Jika anda membutuhkan pembasuhan secara terus-menerus lakukanlah itu. 

Jadi silakan anda merenungkan hal-hal dalam kehidupan anda yang kotor, yang tidak berkenan kepada Allah, mengakuinya, meninggalkannya dan jadilah bersih.

Lalu bayangkan diri anda memasuki tempat Kudus dan berdiri di hadapan lilin atau dian dan mengucapkan syukur kepada Allah atas pernyataan atau wahyunya bahwa Allah tidak membiarkan anda di dalam gelap. 

Bayangkan orang di dunia ini yang tidak mampu membedakan mana yang benar mana yang salah. 

Mereka tidak mengenal Injil Kristus. 

Syukur kepada Allah bahwa Allah tidak membiarkan anda di dalam gelap, melainkan memberi anda FirmanNya yang adalah terang dan Pelita.

Lalu bayangkan diri anda berdiri di depan meja roti sajian. 

Ucapkan syukur atas terpenuhinya segala kebutuhan anda.

Akui Dia sebagai sumber dari setiap makanan yang anda santap, sumber dari segala sesuatu yang anda miliki dan yang membuat setiap kebutuhan anda terpenuhi. 

Akui dia sebagai yang memenuhi segala kebutuhan anda dan ucapkan syukur.

Lalu ketika sampai di Mezbah ukupan, cobalah anda merenungkan mukjizat doa. 

Mulailah setiap hari anda dengan berdoa. 

Lalu ketika sampai di tempat Maha Kudus, ingatlah bahwa kehadiran Allah yang Ilahi bukan saja berarti Roh Allah hidup di dalam anda melainkan juga bawa dimanapun anda berada, anda dapat berada didalam hadirat Allah. 

Pernahkah anda berada dalam hadirat Allah yang Ilahi?

Yakub mengatakan: “Sungguh Allah berada di tempat ini dan aku tidak mengetahuinya.”

Pernahkah anda berada dalam hadirat Allah dan anda tidak mengetahuinya? 

Atau justru mengetahuinya? 

Itulah yang dilambangkan oleh tempat Maha Kudus. 

Kita sepantasnya berdoa agar Allah menuntun kita selangkah demi selangkah dalam beribadah kepadaNya itu.

——————————

Pendengar yang terkasih, kalau anda tidak menerima dan tidak mendapat, kalau pintu tidak dibukakan bagi anda coba anda bertanya kepada diri sendiri, apakah ada yang tidak beres ketika saya meminta? 

Apakah ada yang tidak beres ketika saya mencari? 

Apakah ada yang tidak beres saya menggetok?

Saya percaya bahwa seperti Musa kita perlu menyimpang dari segala aktivitas kita untuk bertemu Allah ditempat Maha Kudus. 

Selama kita mau kita akan menemukan banyak penerapan devosional dari Tabernakel di padang gurun itu dan yang terpenting adalah pria atau wanita yang berdosa pun masih mungkin mendekati Allah yang kudus dan masuk ke dalam hadiratnya dengan cara yang hidup yang baru yang dimungkinkan baginya melalui Tuhan Yesus Kristus. 

Pernahkah anda datang ke dalam hadirat Allah? 

Yesus sendiri mengatakan” “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” 

Pernyataan Yesus itu kita lihat dilambangkan dalam kemah Ibadah.

Allah sungguh ingin berjumpa dengan anda dan menjadikan kehidupan anda sebagai Tabernakelnya.

Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s