PERJAMUAN KUDUS ONLINE: SEJARAH, TEOLOGI, DAN PRAKTEK

Gereja Online di Era Pandemi Corona

Pandemi virus corona yang baru kita alami telah memicu banyaknya penggunaan teknologi kreatif agar kita tetap dapat menjaga hubungan saat tinggal di rumah. Bahkan untuk Gereja, yang tidak pernah dianggap memiliki layanan online, telah dipaksa untuk beradaptasi dan bereksperimen.

Banyak gereja yang menggunakan layanan ibadah secara digital/online selama minggu pertama pembatasan jarak sosial (Social Distancing) diberlakukan (15 Maret 2020) hanya punya waktu yang singkat untuk berpikir bagaimana membuat pelayanan secara online, elemen-elemen interaktif di dalam ibadah dan bagaimana membina hubungan persekutuan. 

Dari beberapa kajian terkait Kebaktian/Ibadah online, terlihat bahwa ada elemen-elemen dari pada layanan ibadah online (seperti Pengumuman, Pemberian Persembahan, Penyampaian Firman Tuhan atau Mendengarkan Pujian) biasanya mudah untuk dilakukan secara online (live streaming), tetapi bagian-bagian ibadah dari gereja yang mengandung unsur relasional/interaksi (seperti Mendoakan seseorang, Mendengarkan Koor, Memberi respon saat Firman Tuhan disampaikan, Bertemu setelah acara kebaktian dan kehadiran secara fisik) seringkali merupakan hal yang paling menantang – dan paling diabaikan – dalam ibadah gereja digital.

Dari semua bentuk pelayanan yang dilakukan gereja, Perjamuan Kudus (PK) mempunyai tempat yang diantara kedua kondisi diatas tadi dan memberinya warna yang berbeda, serta seringkali merupakan bagian yang paling kontroversial dari penyelenggaraan Ibadah secara online. 

Seorang hamba Tuhan, Vicar Giles Fraser menulis tentang kecanggungannya saat dia melakukan Perjamuan Kudus dengan menggunakan Zoom pertama kalinya. Namun demikian di antara orang Kristen/Gereja, ada berbagai pandangan teologis dan cara-cara mempraktikkan PK, dan ini pada gilirannya mempengaruhi bagaimana berbagai dari masing-masing gereja menyikapi pertanyaan tentang PK online.

Dalam artikel ini dicoba untuk memilah-milah beberapa pandangan/perbedaan yang ada dan mencoba untuk memberikan panduan tentang kemungkinan pelaksanaan PK dimasa mendatang. Walaupun tidak lengkap, diharapkan artikel ini dapat memberikan gambaran baik dari pandangan yang mendukung maupun yang menentang untuk melakukan PK secara online.

Sejarah Singkat Gereja Online

Sebelum membahas masalah PK secara khusus, perlu diingat bahwa pertanyaan tentang ibadah online ini bukanlah hal baru. Tokoh digital gereja Tim Hutchings (cf TallSkinnyKiwi) mendokumentasikan layanan online mulai dilakukan pada awal 1985 (Gereja Inggris), dan Kebaktian online atas terjadinya bencana Pesawat Ulang-Alik Challenger oleh Gereja Presbiterian pada tahun 1986. Pada pertengahan 1990-an, ketika internet semakin dikenal umum, banyak gereja mulai membuat situs web yang kebanyakan bersifat informatif, bukan interaktif. Namun, beberapa gereja mulai bereksperimen dengan dunia internet serta layanan 3D yang interaktif. Hal ini  membuat beberapa pemikir mulai berpendapat bahwa Gereja akan mengambil bentuk-bentuk baru yang radikal di era internet.

Pada tahun 2000-an, dua bentuk utama gereja online muncul. Beberapa terus menggunakan teknologi baru sepenuhnya dan menciptakan dunia 3D alternatif dalam program-program seperti Second Life. Ini berlanjut hari ini dengan hal-hal seperti Gereja VR DJ Soto yang dimulai pada tahun 2016, atau gereja-gereja di Roblox, Minecraft, dan dunia virtual lainnya.

Bentuk yang lainnya, model yang jauh lebih umum, adalah gereja-gereja yang menawarkan siaran online unsur-unsur tradisional dari suatu layanan termasuk musik, pengumuman, dan khotbah. Gereja mega evangelis seperti Saddleback, Life.church, North Point, dan lainnya juga telah bereksperimen dengan menambahkan elemen interaktif di samping siaran utama serta kelompok kecil mingguan. Gereja-gereja online juga merupakan bagian utama dari pelayanan ke negara-negara tertutup, berfungsi sebagai bentuk yang lebih interaktif dari pelayanan siaran radio yang dimulai pada awal abad kedua puluh.

Beberapa dari gereja-gereja ini telah menawarkan PK sebagai bagian dari upaya online mereka. Pada 2013, Sarah Pulliam Bailey melaporkan berbagai tradisi berpikir untuk melakukan PK secara online, tetapi belum ada konsensus, dan tidak ada kejadian seperti pandemi virus corona sehingga Gereja terdesak untuk membuat suatu keputusan.

Ringkasan Teologi PK

Apa yang Paulus sebut “Perjamuan Tuhan” (1Korintus 10:21) berasal dari kisah dalam Injil sinoptik yang ditemukan dalam Matius 26: 26-29, Markus 14: 22-25, dan Lukas 22: 19-20. Paulus mengingat kembali kisah itu dan menambahkan instruksi tambahan dalam 1 Korintus 10:14-22 dan 11: 17-34.

Dari ayat-ayat diatas dan tradisi gereja ini, terdapat 4 (empat) pandangan utama tentang apa yang terjadi saat PK terjadi:

  1. Transubstansiasi
  2. Konsubtansiasi
  3. Hanya Perlambang
  4. Hanya sebagai Pengingat (Memorial)

Transubstansiasi

Pandangan pertama tentang PK adalah pandangan transubstansiasi. Istilah transubstansiasi terdiri dari dua kata, “trans” (perubahan) dan “substansi”. Jadi transubstansiasi artinya adalah perubahan substansi.

Ini adalah pandangan yang dianut oleh gereja Katolk dan gereja-gereja ortodoks (ortodoks Oriental dan Ortodoks Timur).

Gereja-gereja ini meyakini bahwa roti perjamuan adalah benar-benar Tubuh Yesus sendiri.  Hal ini menurut mereka terbukti dari pernyataan Tuhan Yesus sendiri dalam perjamuan paskah dengan murid-muridNya.

Tuhan Yesus saat itu berkata tentang roti perjamuan: “Inilah tubuhKu”. Artinya roti itu benar-benar tubuh Kristus bukan hanya sekedar lambang tubuhNya.

Para penganut pandangan transubstansiasi juga mengutip Yohanes 6:55 sebagai ayat pendukung bagi pandangan mereka.

Dalam ayat tersebut Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa dagingNya adalah “benar-benar” makanan dan darahNya adalah “benar-benar” minuman.

Menurut pandangan transubstansiasi ini, Kristus hadir dalam roti ketika para imam atau pelayan Tuhan yang melayankan perjamuan mendoakan roti tersebut. Ketika roti itu didoakan/ditahbiskan, maka roti tersebut akan berubah menjadi tubuh Kristus.

Karena itulah pandangan ini disebut transubstansiasi. Bagaimana perubahan itu terjadi tidak dijelaskan oleh para penganut pandangan ini, namun dikatakan bahwa hal itu merupakan sebuah misteri yang tak dapat dimengerti oleh akal manusia.

Konsubstansiasi

Pandangan Kedua tentang Perjamuan Kudus adalah pandangan Konsubstansiasi.

Istilah konsubstansiasi terdiri dari dua kata, ”kon” (bersama) dan “substansi”.

Jadi konsubstansiasi artinya adalah bersama substansi.

Maksudnya adalah bahwa Kristus benar-benar hadir didalam (bersama) roti perjamuan.

Pandangan ini pertama kali dikemukakan oleh Martin Luther, reformator utama gereja Protestan asal Jerman. Sekalipun Martin Luther berpandangan bahwa Kristus benar-benar hadir di dalam roti perjamuan, tetapi menurut Luther bukan berarti bahwa hal itu karena roti perjamuan telah berubah.

Luther mengatakan bahwa Kristus hadir di dalam roti perjamuan, roti itu sendiri masih ada dan tidak berubah wujud, seperti pandangan transubstansiasi. Itulah sebabnya pandangan ini disebut sebagai konsubstansiasi.

Pandangan konsubstansiasi dikemukakan oleh Luther sebagai pengganti pandangan transubstansiasi, yang merupakan pandangan resmi Gereja Katolik, gereja yang diprotes oleh Luther.

Pandangan Luther ini umumnya dianut oleh gereja gereja Lutheran, atau gereja gereja yang mengikuti ajaran ajaran Martin Luther.

Hanya Perlambang

John Calvin, reformator gereja asal Prancis, berpandangan bahwa roti perjamuan hanyalah lambang atau simbol tubuh Kristus. 

Kristus bukan hadir di dalam roti, tetapi di tengah-tengah umatNya yang sedang melakukan Perjamuan Kudus. Dan kehadirannya tersebut adalah kehadiran secara rohani, bukan secara jasmani.

Calvin berkata bahwa Kristus tidak sungguh-sungguh nyata hadir di dalam roti perjamuan (pandangan konsubstansiasi) atau bahwa roti perjamuan adalah benar-benar tubuh Kristus, baik sebelum maupun setelah didoakan/ditahbiskan oleh pelayan Tuhan (pandangan transubstansiasi).

Sebab, menurut Calvin, ketika Kristus berkata, “inilah tubuhku”, Kristus juga hadir pada saat itu, sehingga tidak mungkin roti itu benar-benar tubuhnya.

Tetapi Kristus hadir secara khusus di tengah umatNya yang sedang melakukan perjamuan kudus. Demikian menurut Calvin.  

Pandangan Calvin ini (roti perjamuan hanya sebagai lambang/simbol tubuh Kristus) dianut oleh mayoritas gereja-gereja dalam aliran Kristen Protestan.

Tentu terutama gereja-gereja calvinis, atau gereja-gereja yang mengikuti ajaran-ajaran John Calvin.

Gereja anglikan, yang sering dianggap sebagai setengah Katolik dan Protestan, juga berpegangan pada pandangan Calvin ini. 

Hanya sebagai Pengingat (Memoralis)

Ulrich Zwingli, seorang reformator gereja asal Swiss, mengemukakan sebuah pandangan yang agak berbeda.

Seperti Calvin, Zwingli juga tidak percaya bahwa Kristus sungguh-sungguh nyata hadir di dalam roti perjamuan (pandangan konsubstansiasi) atau bahwa roti perjamuan adalah benar-benar tubuh Kristus, baik sebelum maupun setelah didoakan/ditahbiskan oleh pelayan Tuhan (pandangan transubstansiasi).

Namun berbeda dengan Calvin, Zwingly tidak melihat kehadiran Kristus secara khusus dalam Perjamuan Kudus. dan bagi Zwingly, “kehadiran Kristus” di tengah perjamuan seperti yang dikemukakan oleh Calvin (bukan dalam roti seperti pandangan transubstansiasi dan konsultasi), bukan lah yang terpenting.

Tetapi yang terpenting adalah bahwa perjamuan tersebut, yang disertai roti, “dilakukan untuk mengingat” kematian (dan kebangkitan) Kristus. 

Ada roti perjamuan atau tidak, tidak mengubah kehadiran Kristus, Ia tetap hadir di tengah-tengah umatnya yang berkumpul. 

Dengan demikian Zwingly tidak melihat ada makna khusus dari roti perjamuan kudus (khususnya dalam konteks kehadiran Kristus), tetapi makna perayaan perjamuan kudus itu sendiri.

Pandangan Zwingly ini dianut oleh sebagian denominasi gereja gereja Protestan. 

Jadi dalam pandangan yang dikemukakan Zwingly ada kesan bahwa menurut pandangan ini tidak melihat nilai khusus dari Perjamuan Kudus.

Dengan pemahaman diatas, gereja-gereja yang menekankan kehadiran nyata cenderung memiliki persekutuan teratur, mingguan atau bahkan harian, sedangkan gereja-gereja memoralis menawarkan persekutuan lebih jarang, seperti bulanan, kuartalan, atau tidak teratur. 

Gereja-gereja yang menekankan kehadiran nyata juga cenderung melakukan persekutuan sedemikian rupa sehingga para peserta menerima roti langsung dari seorang pendeta, sedangkan para memorialis memiliki pendekatan yang lebih mandiri di mana roti dan anggur dilewatkan di atas nampan atau di mana para peserta berjalan ke meja yang terdiri roti dan anggur yang telah disiapkan dan mengambilnya sendiri. 

Dalam beberapa kasus, konsep PK ini tubuh Kristus digambarkan melalui penggunaan roti biasa yang digunakan oleh peserta yang dipotong-potong dan diambil sepotong roti oleh masing-masing peserta. Demikian pula, beberapa tradisi mengambil anggur dari piala bersama dilambangkan dengan satu gelas kecil anggur atau jus anggur.

Metode untuk Melakukan PK Online

Sebelum pandemi korona, tampaknya mayoritas gereja yang memiliki layanan online tidak memiliki PK teratur sebagai bagian dari ibadah mingguan mereka. Ini bukan karena mereka menentang praktik itu, tetapi karena sebagian besar gereja dengan layanan online cenderung berasal dari Baptis atau latar belakang injili nondenominasional. 

Kelompok ini cenderung memiliki pandangan yang pragmatis berorientasi pada pemanfaatan teknologi, sehingga mereka terbuka untuk PK online, tetapi karena mereka memiliki pandangan memorial tentang PK dan juga jarang melakukan PK, maka PK online juga cenderung jarang atau tidak ditawarkan sama sekali. .

Ada beberapa pengecualian untuk ini termasuk beberapa gereja Anglikan, yang memiliki pandangan nyata tentang roti dan anggur yang dikuduskan, tetapi para uskupnya berpendapat bahwa pengudusan ini dapat terjadi dari jarak jauh melalui teknologi. Ada juga gereja-gereja Anglikan yang mengadakan layanan dalam Virtual Reality (VR) dan yang menawarkan PK  rutin di negara-negara tertutup di sekitar timur tengah.

Dari gereja-gereja yang telah menawarkan PK online selama beberapa dekade terakhir, ini adalah model yang paling umum:

  1. Secara Kemandirian: Praktek-praktek awal komuni online sering tidak sinkron di mana pengunjung dapat membaca atau menonton sesuatu ketika mereka mengambil elemen yang mereka siapkan. Sebagai contoh, instruksi Gereja Alpha telah muncul dalam beberapa bentuk sejak tahun 1998, dan beberapa gereja melakukan hal yang sama hari ini seperti Katedral di Inggris (2020).
  2. Secara Langsung (Live) dalam Kebaktian: Ekspresi kontemporer dari PK online cenderung berada dalam layanan di mana semua orang yang menonton mengambil elemen pada saat yang sama. Sebagai contoh, inilah instruksi Life.church (2010) dan instruksi Saddleback (2014), dan beberapa gereja telah mengikuti model ini selama pandemi virus korona.
  3. Perjamuan Rohani: Beberapa tradisi yang menolak gagasan melakukan PK secara online, beralih ke praktik perjamuan rohani, yang melibatkan doa bersama, tetapi bukan PK bersama. Paus saat ini menawarkan komuni spiritual (didefinisikan sebagai “penyatuan diri dengan Kurban Misa melalui doa, dan dapat dibuat apakah seseorang dapat menerima Komuni atau tidak”) melalui streaming langsung dan persekutuan spiritual juga dipraktikkan dalam tradisi Anglikan .
  4. Pilihan Lain: Beberapa tradisi mengadakan layanan Ekaristi yang terpisah dan beberapa gereja yang tidak memerlukan konsekrasi mendorong persekutuan dalam kelompok-kelompok kecil terpisah dari layanan utama atau gereja. Saat ini, para pendeta populer seperti Tony Suarez menawarkan layanan persekutuan terpisah di Facebook.

Argumen yang Setuju/Menentang PK Online

Ada artikel yang tersebar di internet yang memperdebatkan dan menentang PK online, tetapi penting untuk dicatat bahwa sebagian besar hal ini dilakukan pada saat sebelum terjadinya wabah virus corona. 

Situasi sekarang ini dapat membuat beberapa orang untuk mengubah pandangan mereka atau untuk mencoba sesuatu yang mereka rasa tidak perlu sebelumnya. 

Berikut ini ringkasan yang diunakan sebagai argumen kunci baik yang setuju dan tidak setuju akan PK online.

Yang Setuju Melakukan PK Online

Fleksibilitas Memorialis – Mereka yang memiliki pandangan PK sebagai suatu Memorialis cenderung bersikap paling terbuka untuk PK Online. Ini karena orientasi mereka terhadap teknologi dan metode adalah fleksibel dan karena mereka tidak percaya bahwa kehadiran Kristus yang nyata atau spiritual perlu diberlakukan melalui seorang rohaniwan yang ditahbiskan yang menguduskan unsur-unsur (roti dan anggur) dalam PK. 

Tradisi nondenominasional dan gereja bebas juga cenderung menekankan pentingnya setiap orang percaya, dan ini tercermin dalam praktik persekutuan mereka yang melibatkan individu yang mengambil roti dan anggur mereka sendiri dari nampan atau meja. Karena tidak ada interaksi dengan seorang imam atau orang lain melalui praktik seperti cawan bersama, maka pemaham mereka ini dapat diterjemahkan dengan baik baik secara teologi mau pun praktik secara online.

Kehadiran Nyata Allah Melampaui Waktu dan Ruang – Ada juga beberapa gereja pertama yang mengadvokasi persekutuan online cenderung menekankan kehadiran Kristus yang nyata. Meskipun jarang, ada gereja-gereja Anglikan, Presbiterian, Methodis yang menawarkan pelayanan mandiri atau persekutuan dalam-pelayanan. Tidak seperti memorialists yang berlatih secara tidak teratur, tradisi yang menyakini kehadiran nyata Allah pada PK percaya bahwa mengambil bagian secara teratur sangat penting sehingga harus dipindahkan secara online. Celine Yeung memperluas ini, dengan alasan bahwa “reformasi Ekaristi abad ke-16 sebenarnya adalah relokasi kekuasaan,” dan ini terus berlanjut dalam situasi kita saat ini. 

Online itu juga Fisik– Dalam fiksi ilmiah awal seperti Neuromancer dan The Matrix, dunia online digambarkan sebagai tempat terpisah yang kita “lewati.” Tetapi cendekiawan agama seperti Heidi Campbell berpendapat bahwa baik online dan offline bukanlah dua ranah yang berbeda dan tak terpisahkan. Sebaliknya, orang-orang akan berpindah dengan lancar antara online dan offline sepanjang hari, menggunakan panggilan, email, dan obrolan video yang dicampur dengan pertemuan langsung dan pertemuan lainnya. Teknologi ini tentu saja membentuk kembali hubungan dan praktik kita, tetapi mereka tidak menciptakan realitas alternatif atau tempat di mana Tuhan tidak dapat hadir. Jadi, ketika para penyembah sedang online pada saat yang sama, mereka secara fisik masih berada dalam ruang dan waktu, bukan di dunia “virtual” yang terpisah. Gereja, bagaimanapun, bukanlah tempat atau bangunan, tetapi orang-orang, yang selalu fisik bahkan ketika terhubung secara digital.

“Kehadiran” adalah Konsep yang Kompleks – Selain itu, diskusi tentang “kehadiran” biasanya menunjukkan bahwa kehadiran fisik bukan satu-satunya jenis kehadiran. Paulus berbicara tentang “absen dari tubuh” sambil “hadir bersama Tuhan” (2 Korintus 5: 8). Tokoh Lutheran, Deanna Thompson, menghubungkan ini dengan persekutuan virtual, dengan alasan bahwa, “mungkin juga untuk hadir secara virtual satu sama lain dengan cara yang mendalam, bermakna dan nyata bahkan ketika kita secara fisik jauh.” Sebaliknya, kita semua pernah mengalami kehadiran fisik tetapi secara emosional atau mental “tidak ada.” Namun, ada beberapa hal perbedaan antara elemen yang melakukan PK secara fisik saat sedang terhubung online versus memiliki avatar digital seseorang yang menggunakan elemen digital dalam layanan tipe realitas virtual.

Misi dan Penjangkauan – Satu argumen lain berfokus pada menjangkau orang-orang yang tidak dapat menghadiri gereja fisik, karena mereka sakit atau di atau di negara-negara di mana ibadah Kristen dilarang. Dalam kasus orang sakit, unsur-unsur PK dibawa ke orang tersebut, dan James Emery White berpendapat bahwa, “Hari ini hanya internet yang” membawanya “kepada mereka dan mereka melayani sendiri unsur-unsur PK-nya.” Gereja online (dan PK) kemudian diyakini menjadi jawaban untuk kebutuhan misi ini untuk pergi dan memuridkan. White berpendapat, walau pun banyak gereja yang menentang baptisan online, namun ada juga gereja-gereja lain telah melakukan baptisan online (2008).

Pendapat yang Menentang PK Online

Konsep Inkarnasi – Argumen inti melawan PK online adalah bahwa peristiwa sentral dalam sejarah keselamatan adalah inkarnasi Kristus, Anak Allah yang kekal menjadi manusia. Ketika Yesus berkata, “Ini tubuhku,” kata-katanya membayangkan ritual fisik, bukan yang Online. PK online, kemudian, mewakili semacam Gnostisisme yang, bahkan jika tidak disengaja, menyangkal realitas tubuh Kristus dan sifat manusia sepenuhnya.

Keunikan vs Komodifikasi – Terkait dengan Inkarnasi adalah gagasan bahwa Perjamuan Tuhan adalah satu-satunya praktik Kristen yang tidak dapat dikomodifikasi, dikemas, dan dimasukkan secara online. Khotbah dan lagu sering menarik pengaruh dari budaya populer, membuatnya relevan pada saat itu tetapi kemudian dilupakan. Namun, perjamuan itu secara signifikan penting dalam kehidupan gereja. Argumen ini memiliki bobot lebih di antara gereja-gereja dengan praktik persekutuan yang teratur karena tidak memiliki PK secara online berarti ada sesuatu yang terlewatkan, sementara gereja-gereja dengan praktik PK yang tidak teratur mungkin tidak memperhatikan ketidakhadiran Tuhan dalam PK.

Konsekrasi Perkiraan Fisik – Bagi umat Katolik Roma, yang percaya bahwa seorang imam harus menguduskan ekaristi di hadapan pengambil untuk dapat mentransubstansiasikan ke dalam tubuh dan darah Kristus yang sebenarnya, PK online tidak mungkin hal ini. Sebaliknya, umat Katolik Roma yang tidak dapat menghadiri Misa diberikan pengampunan untuk waktu yang singkat. Dalam tradisi kehadiran nyata lainnya, masalah pendeta yang berada di dekatnya tampaknya tidak terlalu bermasalah dan pengudusan jarak jauh dimungkinkan.

Konsep Kehadiran Fisik-Proximat – Banyak tradisi gereja yang percaya bahwa agar PK menjadi makanan dalam arti yang berarti, pemberi dan semua peserta yang menerima harus berada di ruangan yang sama pada saat yang sama. Orang mungkin juga berpendapat bahwa para peserta yang mengambil bagian harus memiliki semacam hubungan untuk perintah-perintah dalam 1 Korintus agar masuk akal. Misalnya, Kolega Michael Svigel berpendapat bahwa perintah Paulus untuk “saling menunggu” (1 Kor 11:33) mengasumsikan pertemuan fisik. Untuk gereja-gereja yang praktik PK-nya tidak melibatkan ritual pastoral atau relasional, argumen ini mungkin kurang kuat.

Gereja Online bukanlah Gereja – Ada perdebatan yang lebih besar, di luar masalah persekutuan, apakah gereja online benar-benar gereja, atau harus dianggap sebagai gereja normatif. Hampir semua orang setuju bahwa layanan siaran dan situs web bermanfaat dan penting untuk orang sakit atau di negara-negara tertutup, tetapi tidak semua orang setuju jika pelayanan ini merupakan “gereja sejati” di mana para peserta tidak memerlukan yang lain. Beberapa pelayan melihat kehadiran online mereka sepenuhnya secara eklesiologis, sementara yang lain menekankan pentingnya menemukan tubuh lokal dari rekan seiman (bahkan di daerah berbahaya seperti Iran). Ini terus menjadi topik hangat di beberapa organisasi misi dan kemungkinan akan berlanjut dengan pemahaman baru selama dan setelah pandemi saat ini.

Validasi Kerinduan – Dalam tulisannya, Paulus secara teratur menyatakan kerinduannya untuk bersama dengan gereja-gereja yang ia tulis (Rm. 1:11; 5:13; 2 Kor 1:15; 1 Tes. 2:17; 2 Tim 1: 4). Demikian pula, Yohanes menulis tentang keinginannya untuk “bertatap muka” (2 Yohanes 1:12), dan penulis Ibrani mengingatkan para pembacanya untuk tidak menyerah dalam pertemuan (Ibr 10:25). Bersamaan dengan Inkarnasi, kerinduan-kerinduan ini dapat dipahami sebagai bukti lebih lanjut bahwa kehadiran fisik adalah penting baik untuk pertemuan untuk menjadi gereja yang benar dan untuk praktik persekutuan. Selain itu, orang sakit dan yang dianiaya sering mengalami kerinduan dan keinginan yang sama untuk dapat dan diizinkan untuk bertemu bersama, dan berpendapat bahwa gereja online dan persekutuan yang cukup dapat dilihat sebagai mengurangi pengalaman dan perasaan ini.

Pengecualian Tidak Harus Berarti Normatif – Poin lain dari argumen adalah bahwa situasi luar biasa tidak boleh mendikte teologi atau praktik. Yaitu, bahkan jika seseorang memberikan bahwa secara teologis diizinkan untuk melakukan PK online dalam kasus-kasus luar biasa seperti negara-negara tertutup, ini tidak berarti bahwa gereja online atau komuni online harus menjadi normatif ketika dan di mana tidak ada batasan yang jelas.

PK adalah Masalah Nyata – Pendapat lain bagi yang menghindari pertanyaan PK online dan fokus untuk mengingatkan gereja bahwa melakukan gereja online harus tentang komunitas relasional daripada hanya menyiarkan pengalaman. 

Ringkasan Posisi

1. Penolakan Penuh PK Online: Pandangan Teologis dan Praksis

Untuk beberapa Gereja secara tradisi menganggap PK sama sekali bukan PK jika tidak dipraktikkan sesuai dengan tradisi. Ada terlalu banyak beban teologis di balik pengalaman yang diwujudkan dalam berbagi makanan dalam jarak dekat yang mencegahnya dipindahkan secara online. PK, dengan demikian, adalah salah satu praktik unik gereja yang tidak dapat dikomodifikasi atau didigitalkan sepenuhnya. Tanpa berada di gereja bukan hanya melewatkan khotbah atau lagu yang dapat didengarkan nanti, tetapi juga untuk melewatkan anugerah Allah yang ada dalam elemen-elemen itu. Saat pandemi ini memang menciptakan kerugian yang menyakitkan, namun demikian pandemi ini juga membuat orang Kristen lebih dapat mengungkapkan iman dan harapan yang penting.

Beberapa dalam kategori ini bergeser ke PK spiritual dalam kasus penyakit atau pandemi saat ini.

2. Penolakan Situasional, Menerima secara Teologis, 

Ada beberapa yang mungkin diyakinkan bahwa PK online dapat menjadi praktik yang sahih (terutama di negara-negara tertutup), tetapi pandemi saat ini tidak menjamin untuk mempraktekkannya secara online. 

Jika peraturan tinggal di rumah tetap berlaku selama beberapa bulan, maka PK perlu ditangguhkan untuk jangka waktu yang lama. 

Hal ini akan menciptakan kerinduan untuk kembali ke praktik jika memungkinkan dan menjadikan pengalaman lebih kaya. Namun, jika kondisinya menjadi lebih buruk, orang yang berpanangan seperti ini mungkina akan mempertimbangkan kembali PK secara online. 

3. Menerima Sementara, Penerimaan secara Teologis

Demikian juga, ada beberapa gereja yang dapat diyakinkan bahwa PK online secara teologis dapat diterima dalam kasus-kasus luar biasa dan bahwa pandemi adalah situasi seperti itu, sana dengan negara tertutup. Saat terjadinya wabah-wabah pada masa sebelum ini, Gereja tidak memiliki sarana teknologi untuk mengadakan Perjamuan Tuhan secara online, dan ini adalah ekspresi unik dan luar biasa dari rahmat Tuhan. Namun, ketika pandemi meningkat, mereka akan berhenti menawarkan ini sebagai praktik biasa, lebih memilih untuk menjadikan tubuh yang berkumpul secara fisik sebagai tempat unik untuk berpartisipasi dalam elemen-elemen tersebut.

4. Penerimaan Penuh, Pandangan Teologis dan Praktis

Akhirnya, ada orang-orang yang telah menerima PK online, baik dalam bentuk pelayanan mandiri atau melalui pengalaman ibadah simultan. Ini termasuk golongan memorialists yang memiliki sedikit keberatan untuk melambangkan kematian Kristus secara online bersama-sama dan mereka yang percaya misteri kehadiran Kristus dalam persekutuan tidak dibatasi oleh teknologi, waktu, atau ruang. Beberapa gereja yang telah menggunakan online di saat pademi ini mungkin akan mengadopsi praktik online dan akan mereka teruskan, sementara yang lain mungkin tidak ingin melanjutkan dengan praktik online di masa depan.

Kesimpulan Penutup

Semoga rangkuman artikel yang relatif panjang ini, tetapi masih terlalu disederhanakan, dapat memberikan suatu diskursus awal yang bermanfaat untuk diskusi yang lebih serius. 

Bagi orang Kristen dari tradisi apa pun, semoga kita dapat memperdalam diskusi lebih lanjut seperti seperti: Mengapa kita melakukan PK seperti yang kita lakukan saat ini? Apa arti sebenarnya dan mengapa? Apa arti praktik dan frekuensi yang kita pilih dan komunikasikan? Dalam hal apa kita berpartisipasi dalam perjamuan bersama jika secara individual mengambil bagian yang sudah disiapkan? Apa yang kita, gereja, tawarkan kepada orang-orang dan dunia yang tidak dapat dengan mudah beralih ke PK online?

Akhirnya, jika gereja Anda mempertimbangkan masalah-masalah ini, maka Anda tidak perlu terburu-buru untuk mengambil keputusan, juga keputusan apa pun tidak harus permanen. 

Namun demikian bagi kami di GBIS Jatibaru sesuai dengan arahan dari Badan Persekutuan GBIS berkenaan dengan Perjamuan Kudus yang dapat dilakukan secara online untuk menggantikan tradisi yang biasa dilakukan di gereja-gereja lokal pada saat Ibadah Minggu, maka pada minggu-minggu ini kita akan melakukan ibadah secara online di rumah masing-masing serta termasuk didalamnya melakukan PK secara online.

Kami percaya ada KUASA Pengampunan, Kesembuhan dan Pemulihan melalui TUBUH dan DARAH Kristus.

 

==== Tuhan Yesus Menyertai ====

Sumber:

  1. https://j.hn/digital-communion-summary-of-theology-practices/
  2. https://rubrikkristen.com/4-pandangan-tentang-perjamuan-kudus-dan-penjelasannya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s